Uncategorized

Persimpangan

Bab Lima

Persimpangan

 

source

Bram menarik nafas lega, saat lampu studio dimatikan. Seperti biasa, tak lama kemudian, dia diserbu penonton studio. Penonton kali ini berbeda. Anggota tempat fitness eksklusif. Wanita-wanita cantik berkelas, mayoritas yang hadir di studio. Dia menanggapi dengan senyum, godaan-godaan, baik yang halus maupun terang-terangan. Akhirnya rombongan mahluk-mahluk cantik itu, berjalan menuju pintu keluar.

“Kamu lagi kenapa, Bram?” tanya Neni, teman sekelasnya dulu saat SMA,  sekaligus produser acara talkshow yang dipegangnya. Wanita cantik bertubuh langsing itu, duduk di hadapannya.

Studio mulai kosong. Para anggota kru, perlahan  bergerombol keluar.

“Pak Dokter, saya duluan, ya,” Sutradara mengacungkan jempol ke arahnya.

Bram mengangkat tangan. Dia melihat sang sutradara berjalan keluar, sembari bercanda dengan kameramen. Perhatiannya kembali mengarah ke Neni.

“Memang aku  kenapa?” Bram menatap Neni dengan alis terangkat sedikit.

“Engga seperti biasa, saja. Kangen ya, sama Dania? Sudah lama tidak ketemu.”

Bram tersenyum lebar. “Kangen rumah sakit.” Ruangan kosong meningkatkan hawa dingin ruangan. Menegaskan kerinduannya berada di ruang operasi. Dia menarik nafas perlahan.

“Dingin di sini, kayak di ruang operasi,” ujar Neni tiba-tiba. Tangannya bersedekap seolah memeluk diri sendiri.

“Kamu pernah dioperasi?” tanya Bram kaget. Melihat Neni mengangguk, Bram lanjut bertanya, “Kenapa?”

“Operasi kista. Indung telur aku diangkat satu.”

Giliran kepala Bram yang mengangguk-angguk.

“Mau break dulu?  Tenang aja. Kita punya banyak stock, beberapa minggu ke depan,” ujar Neni lembut.

Kepala Bram meneleng. Wanita yang pernah  membuatnya patah hati di masa lalu, tidak berubah. Selalu penuh perhatian padanya. Dari jarak sedekat ini, wajah Neni terlihat lebih cantik. Usia menyempurnakan bakat-bakat kecantikan, yang sejak dulu disadarinya.  “Tidak apa-apa. Lanjutkan sesuai kontrak saja!”

“OK,” Neni tersenyum, Mata yang selalu memberinya rasa damai itu  berkeliling. Mereka tinggal  berdua di ruangan besar, yang tiba-tiba terasa sempit. “… kamu engga kangen sama Dania?” tanya Neni lagi dengan wajah menggoda.

Bram menyisir rambut, yang tadi ditata hairstylist belasan menit. “Kami juga jarang ketemu, walau satu rumah sakit. Sudah biasa lama tidak  ketemu.”

Kepala Neni mengangguk-angguk. “Hebat! Kamu itu tipe setia, ya Bram,” ujar Neni dengan suara lirih.

Bram tertawa kecil. “Sok tahu, kamu!”

“Aku punya mata, lagi! Tadi berapa perempuan cantik yang kode, kamu?”

“Oh, itu.”

“Sudah biasa dikelilingi perempuan cantik ya, Bram?”

“Pasien maksudmu?” tanya Bram dengan nada bercanda.

Neni memukul bahu Bram perlahan. Bibirnya cemberut. “Orang nanya serius!”

“Ambil spesialis sibuk bener, Nen. Tidak sempat ngapa-ngapain.”

“Dania engga pernah protes?”

“Orang dia juga sibuk. Kan kita berdua sama-sama ambil spesialis. Hanya beda minat.”

Gawai Neni berdering di dalam tas. “Maaf, sebentar ya.”

Tanpa sempat menutup tasnya, Neni berdiri. Selembar foto terjatuh ke lantai. Suami Neni, memeluk seorang wanita cantik dengan tawa lebar. Bram memandang ke arah Neni yang berdiri di ambang pintu. Wanita itu berbicara perlahan, dengan wajah marah. Dia cepat-cepat memasukkan foto itu ke dalam tas Neni,

Sejak awal Neni selalu mendampinginya. Dia sama sekali tidak merasa kesulitan memasuki dunia baru ini. Dengan sabar, wanita itu selalu ada di sampingnya. Memberitahu macam-macam lingkungan pergaulan dan gaya hidup selebritis. Tanpa pengawalan ketat Neni, jalannya pasti tidak semulus ini. Mudah sekali terjerembab di sini.

Kejadian saat mereka SMA berulang lagi. Dia kembali diasuh Neni. Hanya bedanya, sekarang dia punya hal yang bisa dibanggakannya, pada wanita yang diam-diam selalu dirindukannya  saat SMA dulu. Sudah waktunya Neni berhenti memberi rasa aman dan melindunginya. Sebuah perasaan aneh memenuhi rongga dadanya.

Dia laki-laki dewasa yang kompeten sekarang. Dan seperti biasa, Neni pasti bisa menyembunyikan kesedihannya dari siapa pun. Tiba-tiba bayangan Dania melintas. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala.

 

source

Neni mendekat dengan wajah tegang. Ada titik airmata, walaupun bibirnya mengulas senyum. “Sorry, aku mau ke ruangan dulu.” Tangannya dengan cepat,  meraih tas yang tadi diletakkannya di atas kursi.

Dia tidak pernah melihat Neni serapuh ini. Indra penglihatannya menjadi pemenang. Sebelum sempat berpikir dua kali, mulutnya sudah terbuka.

“Nen, kalau tawaran liburan itu masih berlaku, kamu mau nemenin aku liburan?” tanya Bram lembut.

 

Bandung Barat, Selasa 6 Oktober 2018

Salam

Cici SW

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *