Fiction

Narsistik

source

Setelah Dania menutup pintu, Bram menghempaskan tubuh ke kursi praktek. Pikirannya melayang ke acara semalam. Bertemu teman-teman lama, membuat  dia  sedikit terhanyut ke suasana saat mereka SMA dulu. Mereka saling mengejek,  membicarakan kejadian-kejadian  yang dialami saat itu. Seburuk apa pun kejadiannya waktu itu, keliatan lucu sekali, saat membicarakannya belasan tahun kemudian.

Saat bertemu lagi  dengan Neni, setelah mereka menghabiskan liburan bersama, sikap Neni lebih terbuka padanya. Berita perceraian dengan suaminya  sedang viral. Namun nampaknya wanita itu tidak terganggu sedikit pun. Neni yang dikenalnya saat SMA, sudah kembali.

“Untung belum punya anak, ”  sahut Neni santai ketika dia bertanya,  bagaimana perasaannya. Karena mereka memilih tempat di luar dekat taman, tidak ada orang di sana. Suasana hingar bingar  memudar. Dari kejauhan, terdengar musik lembut. Orang sudah pada kecapaian kelihatannya, pikir Bram.

Suasana taman sangat tenang. Penerangan yang temaram, membuat taman yang terpelihara dan tertata apik, keliatan lebih indah. Aroma bunga, sesekali tercium saat angin berhembus lembut. Yang jelas terdengar,  suara gemericik air mancur, yang berada tidak jauh dari tempat mereka duduk.

Tiba-tiba syal yang digunakan di leher Neni jatuh tertiup angin. Bram membungkuk berusaha mengambil syal itu di tanah. Pada saat yang bersamaan, Neni juga berusaha mengambil syalnya. Wajah mereka sangat dekat. Bram terpaku sesaat, namun dia  tidak menjauhkan wajahnya.

“Nah! Ketahuan ya! hahaha…” teriak Dono, anak paling usil di kelas mereka, sambil menjepret-jepretkan kamera dari gawai berkali-kali. Bram langsung menjauhkan tubuhnya. Neni hanya tersenyum,  melihat kelakuan Dono. “Hei Don, lagi ngapain lu? Jangan macem-macem lu!  Awas ya, dimasukkin  medsos!” teriak Bram panik.

“Hahaha … sorry, telat dr. Bro.  Sudah gue masukin, Bro Bram! tenang aja, sudah gue pilih yang paling keren. CLBK! Gila! Reuni belum selesai, CLBK sudah mulai .…” sahut Dono  santai. Tanpa merasa bersalah, dia melanjutkan langkah, ke dalam ruangan utama. Tangannya memasukkan gawai ke saku celana. Dia kembali memegang kamera yang disandang dibahunya.

Ya Tuhan. Bram langsung terhenyak di  kursi.

“Kenapa Bram?” tanya Neni  dengan wajah bingung.

Alarm di kepala Bram langsung menyala. Dia sudah menekan tombol alat pemicu ledakan. Hanya tinggal menunggu waktu,  sampai Dania melihat foto tersebut. Tanpa sadar, Bram menahan nafas. Dia tahu, apa yang akan dilakukan Dania.

Kehilangan Dania?  Tidak bisa bersama-sama lagi menghabiskan waktu berdua dengan wanita itu?

Seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa dingin.

“Bram … Bram … kamu kenapa?” tanya Neni lagi.

Dia hanya mampu menggelengkan kepala. Apa yang harus dikatakannya, saat  Dania  melihat foto itu?

Badannya terasa semakin  dingin. Belakangan ini dia memang sibuk sekali. Jarang menghabiskan waktu bersama Dania. Ditambah kegiatan tambahan  jadi presenter. Tentu saja dia punya beberapa waktu kosong. Walaupun Dania sering mengajaknya pergi, selalu ada hal lain yang lebih ingin dilakukannya. Sendirian.

Malas sekali pergi bareng Dania. Ketika a mereka berdua pergi, Dania akan segera menjadi pusat perhatian. Teman-teman, kolega mereka akan serta merta mengelilingi Dania. Entah apa yang mereka lihat dari Dania. Tentu saja Dania cantik, baik hati. Tapi kan, wanita seperti itu, tidak hanya Dania di muka bumi.

Saat pergi sendiri, Bram merasa sangat bebas. Tidak harus menjaga Dania, dari kerumunan mereka.  Dia bebas melakukan apa yang ingin dilakukannya. Dia yang jadi pusat perhatian.

Bersama Dania, teman-teman dan koleganya akan sering tertawa. Mereka menjadi lebih perhatian satu sama lain. Bila bersama Dania, mereka keliatan menjadi lebih tenang dan damai. Bila bersama Dania, banyak pekerjaan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bila bersama Dania … tiba-tiba, rasa takut mulai merasuk  pikirannya.

source

 

Sebuah kesadaran menyeruak,  dari pekat euforia yang dirasakannya belakangan ini. Perasaan lelah dan tersisihkan yang selama ini dirasakannya,  selama  bersama Dania menguap. Bersama Dania, dia dipenuhi semangat. Mencapai hal-hal yang sulit  jadi lebih mudah. Seluruh anggota tubuhnya, bekerja maksimal.

Mereka sering berlomba, siapa yang bisa menyelesaikan tugas kuliah lebih dulu. Pemenang akan ditraktir. Kerja gila yang selalu membuatnya merasa hidup dan bersemangat. Mereka berdua sangat menikmati masa-masa itu

Satu hal yang mengganjal pikirannya.  Dania akan segera menjaga jarak, bila ia mulai mendekatinya secara fisik. Terkadang hal ini begitu melukai harga dirinya. Dia pria dewasa.

Namun  dengan  pikiran yang lebih jernih, dia bisa melihat. Sepuluh tahun terakhir ini, selain dirinya, tidak ada laki-laki lain di sekeliling Dania. Walaupun begitu banyak lelaki yang mengejarnya, Dania tidak pernah mengindahkan mereka. Wanita itu  begitu rapat menjaga dirinya.

Pantaskah dia memperlakukan Dania seperti itu, karena frustasi tidak bisa mendekatinya secara fisik? Bukankah seharusnya dia bangga, memiliki wanita yang baik dan sangat menjaga kehormatan dirinya?

Bila bayarannya, kehilangan Dania, rasa puas yang dirasakannya saat jadi pusat perhatian, sama sekali tidak berarti. Dania lebih berharga dari semua itu.

Dia punya kemampuan hebat. Kenapa merasa tersisihkan  hanya karena Dania  lebih populer?

Ya Tuhan, apa yang kupikirkan selama ini?

Bandung Barat, Kamis 8 Nopember 2018

Salam

Cici SW

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *