Fiction

Selaput Kecewa

source

Dania bergegas  berjalan menuju ruang rapat dokter. Muka Bram ditekuk, saat dia masuk ruangan.

“Sorry, sudah lama nunggu?” tanya Dania, seraya duduk berhadapan dengan Bram. Dia sudah melebihkan perkiraan jam selesai praktek. tapi tidak diduga, pasien hari ini membludak.

“Satu jam, “  sahut Bram sambil melihat arloji.

“Waktunya kayaknya sekarang engga pas. Lain kali aja ya, kita ngobrolnya,” tukas Dania, melihat postur tegang tubuh Bram.

“Sekarang aja, Dania! Waktu break  shooting aku engga lama. Aku akan lebih sibuk minggu-minggu depan,”  ujar Bram tegas.

Dania berpikir sesaat. Dia menarik nafas panjang. Melakukan ini lebih susah, dari pada harus melakukan operasi paru berjam-jam.

“Baiklah …. Mama kemarin bilang ke aku, katanya dia membuat rencana perjodohan dengan sahabatnya waktu SMP,” ujar  Dania dengan nada yang berusaha dibuat tenang. Dia memperhatikan raut wajah Bram dengan seksama.

“Perjodohan? … Kamu mau dijodohin ? … sama siapa?” tanya  Bram, dengan kening berkerut dalam. “Mama kamu tahu kan, kita pacaran?” suara tinggi Bram memenuhi ruangan.

“Ya tahu. Bukannya sekarang jodohinnya. Itu waktu Mama masih kecil … Aku dijodohin sama anak sahabat Mama, Galang namanya  …. Aku engga tahu orangnya. Kita ketemu saat aku masih kecil. Puluhan tahun lalu. Mama  bilang, ini  bukan perjodohan zaman Siti Nurbaya, Mama juga engga maksa …  Cuma ngasih tahu aku aja, Mama pernah buat janji seperti itu, sama sahabat SMP-nya.”

“Terus kamu sendiri gimana?” suara tinggi Bram kembali terdengar.

“Ya engga gimana-gimana! Aku kan sekarang sudah punya pacar …. Tapi … kalian berdua, kamu dan Mama, sama-sama penting untukku …”

Raut wajah  Bram melunak.

“Ya sudah … kalau begitu tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Dania maaf, aku harus segera pergi. Aku sudah telat janjian sama orang,” ujar  Bram sambil berdiri.

Dania mengangguk sembari mengulas senyum. Sepeninggal Bram, suasana di ruangan terasa sangat hening. Hanya dengkuran lembut pendingin ruangan yang masih setia  menemani. Dia menekan rasa kecewa, melihat tanggapan Bram.

Lagi-lagi perasaan aneh menyergap hatinya. Entah kenapa, saat bersama Bram  belakangan ini,  terasa begitu jauh dan asing baginya. Dengan langkah gontai, sambil melafazkan la haula wala quwwata illa billah tanpa henti,  Dania  berjalan menuju mushola rumah sakit.

 

source

 

Dengan senyum lebar di bibir,  Dania menutup pintu vios putihnya. Pagi itu sungguh  cerah.  Angin sejuk membelai pipi lembut. Udara terasa sangat segar.   Dia tersenyum saat menatap angkasa. Arakan awan putih, memanjakan netra.

Baru saja penerbit mengabarkan, novel  terbarunya  kembali jadi  bestseller. Saat menulis novel  tersebut,  feelingnya memang sudah memberi tanda. Senyum di bibir Dania  bertambah lebar, saat melihat  Bram, di depan loket pendaftaran pasien.

“Hai, sudah selesai?” tanya  Dania.

“Hm,” sahut  Bram singkat.

“Hei … ada apa say? Lagi bête ya? Kok engga seperti biasanya? Kalau aku tanya, biasanya malah, aku sibuk berhentiin omongan kamu!” rajuk Dania manja.

Petugas di loket pendaftaran tersenyum kecil mendengar pembicaraan itu. Dania memang terkenal sebagai dokter yang manja, pada  Bram, kekasihnya. Sifatnya akan berubah seperti gadis belasan tahun, yang sedang jatuh cinta, apabila berhadapan dengan  Bram.

“Aku lagi cape aja … banyak kerjaan,” sahut Bram singkat.

“Gimana kemarin malam reuninya? Banyak ketemu temen lama? Aku sebenernya pengen banget ikut. Katanya kamukan playboy ya waktu SMA. Aku mau lihat saingan aku sekarang.”

“Dania! Aku lagi cape banget sekarang…. nanti aja ya, aku telpon lagi. Aku barusan lihat,  sudah banyak lho pasien kamu. Kasihan kan, kalau harus nunggu lama.”

“Iya, iya…” Dengan bibir  manyun,   Dania menuju ruang prakteknya. Langkahnya terhenti. Dia berbalik, “Tadinya aku mau ngajak kamu makan. Mau ngerayain sesuatu, tapi kayaknya engga bisa ya….”

Bram hanya tersenyum minta maaf, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dania memasuki ruang prakteknya,  dengan sedikit perasaan tidak nyaman.  Apakah Bram sedang berusaha menjauhinya? Apakah telah  terjadi sesuatu?

Dia menghela nafas. Mendung  pasti  menghias wajahnya. Dia memang berharap sekali,  bisa merayakan kesuksesan novel baru bersama Bram.

Sudah berulang kali ia pikir dan pertimbangkan. Sekarang adalah waktu yang tepat, untuk mengatakan pada Bram bahwa dia  juga seorang novelis. Dia harus jujur, kalau sungguh-sungguh mau meningkatkan hubungan mereka.

Dahi Dania mengernyit dalam. Ia benar-benar ingin meningkatkan keseriusan hubungan mereka. Toh mereka sudah pacaran lama. Sudah mengenal keluarga masing-masing. Bram diterima dengan baik, oleh keluarganya. Demikian juga dirinya.

Dia sudah  sangat dekat dengan kedua orang tua dan  adik Bram. Terkadang mereka bahkan  hanya pergi berempat, tanpa Bram. Mereka sudah menganggapnya seperti keluarga. Pertimbangan lain. Baik Bram maupun dirinya, sudah mapan secara finansial.

OK, sambil jalan, nikmatin proses menuju pernikahan .

Bibir Dania kembali  tersenyum.

Melihat muka Dania sudah kembali seperti sediakala, suster  yang bertugas mendampingi di ruangan, baru berani memberikan status seorang pasien.

“Serius bener, Dok, mikirnya!” ujar suster  sambil tersenyum

“Oh, begitu!” alis Dania terangkat sedikit.  “Maaf ya. Lama engga bengongnya?”

“Hehehe… engga, Dok. Cuma lima menit,” ujar suster sambil mengangkat tangan, menunjukkan angka lima.

Dania tersenyum meminta maaf.

Begitu pasien pertama dipanggil  dan masuk ke ruangan, Bram langsung lenyap dalam pikirannya. Seluruh perhatian tercurah pada pasien yang berada di hadapannya. Dia sangat bersyukur, bisa membantu orang-orang yang membutuhkan penanganan medis,  kembali menikmati hidup sehat  mereka.

Kegembiraan dan keceriaan yang tadi sempat surut saat bertemu Bram, kembali berkobar. Semangat Dania timbul lagi.

Alhamdulillah terima kasih ya Allah, aku bisa membantu orang lain … alhamdulillah terima kasih Ya Allah …

Bandung Barat, Kamis  8  Nopember 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *