Uncategorized

Dapat Nilai A. Perlukah?

Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki.

Mahatma Gandhi

source

Saya sempat berdiskusi dengan para sahabat, yang karena keterbatasan waktu  jadi terpotong. Entah akan berlanjut, atau berhenti sampai di sana. Topik yang diangkat. Perlukah punya ambisi dapat nilai A?

Hehehehe kami memiliki cara melihat  berbeda. Kami masih belum menemukan titik temu,  setelah bertahun-tahun

berdiskusi tentang topik ini. Pantas saja,  para anggota dewan, kalau rapat lama sekali. Urusan seperti ini saja, belum ada solusi, setelah lebih dari hitungan 3 x 365 hari hehehehe

Nilai A, yang hanya sebatas nilai di atas kertas. Bukti intelegensi semata. Bukan itu arti nilai A, dalam pikiran saya.

Dalam persepsi saya, nilai A adalah lambang dari beberapa karakter  penting dalam mengelola hidup.  Lambang dari beberapa nilai. Diantaranya adalah;  Seberapa jauh kita bisa mengerti apa yang diajarkan? Bagaimana keras kita berusaha  sungguh-sungguh, mengerjakan tugas yang diberikan. Melatih integritas, untuk total dalam sebuah pekerjaan. Seberapa lentur kita berkomunikasi dengan orang. Se-kreatif apa, kita berusaha mencari jalan keluar, dari situasi menekan yang sedang dihadapi.

Saya mengerti, nilai A pada akhirnya menjadi hak prerogatif Allah. Usaha sungguh-sungguh, tidak menjamin kita mendapat angka sempurna itu. Bahkan saat kuliah, ada seorang dosen saya yang berprinsip, “Nilai A itu untuk saya.”

Dalam proses berusaha jadi yang terbaik (di sini maksudnya mendapat nilai A), ada 2 keuntungan yang kita peroleh secara bersamaan.

  1.  Nilai A  sebagai  hasil. Yang dalam kamus berarti akibat; kesudahan (dari pertandingan, ujian, dsb). Angka yang kita dapatkan, setelah berjibaku dengan tugas, test, dan lain sebagainya. (Sebuah pencapaian, di luar kekuasaan kita sebagai manusia)
  2. Dampak dari nilai A.  Lagi-lagi membuka kamus, arti dampak: Pengaruh kuat yang mendatangkan akibat (baik negatif maupun positif)

 

Hasil biasanya kita peroleh dalam jangka pendek. Dampak akan terasa dalam jangka panjang.

Terbiasa berusaha mendapat nilai A, akan membentuk myelin baru. Melakukan semua yang harus dan bisa dilakukan, dalam proses pencapaian tujuan.

Kebiasaan bersungguh-sungguh, komitmen, dan bertanggung jawab,  dalam melaksanakan sebuah tugas, yang secara sadar kita pilih.

Kebiasaan untuk berlatih komunikasi dan kerja sama, dalam menyelesaikan sebuah tantangan.

Kebiasaan untuk mendobrak batasan diri yang mengukung, dalam mengatasi masalah. Berpikir kreatif. Out of The Box.

Kebiasaan untuk bersyukur, dan memohon bimbingan dan petunjuk Allah, saat keadaan jadi begitu menekan. Tugas tambahan  bertumpuk, dengan dateline yang terus maju tanpa kompromi.

Kebiasaan untuk menyerahkan hasil, setelah tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

 

Kesibukan tidak akan diisi dengan memaki-maki dosen pemberi tugas. Tidak ada ruang di hati untuk amarah, keluhan, penyesalan.

Yang ada, hanya semangat yang  tak kan pernah surut, seperti semangat Zainuddin, dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, karya Buya Hamka. Kegagalan cintanya, menjadi batu loncatan untuk bisa hidup lebih mulia dan berarti bagi lebih banyak orang.

Nilai A, bukan hanya sekedar nilai. Tapi jadi lambang proses usaha total.

Berusaha terus mengejar nilai A, sama artinya terus berlatih mengerjakan sesuatu secara maksimal. Dan saat sudah terbiasa, di masa depan, kita akan melakukan kerja yang dipandang gila oleh orang lain, sambil bersenandung riang.

Apa yang lebih melegakan hati, saat kita sadar dan tahu, sudah melakukan semua  yang bisa kita lakukan, di saat-saat terakhir  waktu kita di dunia.

Tapi tentu saja, setiap orang punya hak, untuk bagaimana mereka mau  melihat, apa arti nilai A atau arti berusaha  jadi yang terbaik.

Bandung Barat, Senin 12 November 2018

Salam Bahagia

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *