Uncategorized

Linimasa # 18

 

Bab Enam

Myelin Kasih

source

Bram menoleh, ketika sebuah tawa bahagia memasuki gendang telinganya. Seorang gadis cantik sebaya dirinya, berjalan diapit kedua orangtua. Sinar mentari pagi, yang sesekali mampu menerobos rimbun dedaunan. Membuat wajah gadis itu terlihat memancarkan cahaya.

Mereka  bertiga berjalan santai menuju ruang daftar ulang. Bibir Bram manyun. Kedua orangtuanya, sudah memaksa ingin ikut. Namun dia melarang mereka. Dia pikir, tidak akan ada yang bawa orangtua. Dia tidak mau dicap ‘anak mami’ di tempat kuliah. Ternyata, ada yang lebih parah dari dia.

Percaya diri sekali  anak perempuan itu. Dia tidak terlihat malu atau risih, diantar kedua orangtuanya. Malah terlihat sangat gembira.

Ekor matanya terus memperhatikan, tiga orang menarik, yang berjalan mendekati tempat parkirnya. Pantas. Cantik. Keliatan pintar. Tajir. Dengan cepat tangannya memijit alarm mobil. Dia mematung sedetik, ketika tiba-tiba anak perempuan itu tersenyum padanya sekilas.

Bram dengan cepat berjalan di belakang  ketiganya. Begitu rombongan kecil itu melewatinya. Sang ayah, merangkul bahu si anak. Dan sang anak melingkarkan tangan ke lengan ibu. Mereka bicara sangat akrab satu sama lain. Entah apa yang mereka bicarakan. Ketiganya sering tertawa bersamaan.

Tiga orang di depannya,  menarik perhatian banyak orang. Namun anak perempuan itu sama sekali tidak terlihat canggung. Dia terus menanggapi pembicaraan kedua orangtuanya, tanpa  mempedulikan tatapan orang lain. Mau tidak mau, Bram angkat topi. Kalau dia dalam posisi itu, pasti akan berusaha segera menjauh.

Kedua orang tuanya memisahkan diri, begitu anak perempuan itu masuk ruangan. Bram mempercepat langkah kakinya.

Semoga dia juga masuk kedokteran.

Dia beruntung. Kursi di sebelah anak perempuan itu kosong. Dia langsung duduk, setelah ambil antrian.

“Halo, aku Bram. Masuk kedokteran. Kamu masuk ke mana?” Bram menjulurkan tangan.

Anak perempuan itu memperhatikan wajahnya sesaat, sebelum mengulas senyum.

“Dania. Sama. Aku juga masuk kedokteran. Kamu dari SMA mana? ….”

Klakson panjang dan bising,   sahut menyabut membuyarkan lamunan Bram. Lampu lalu lintas sudah berwarna hijau.  Kakinya menginjak pedal gas setengah hati. Bram berkali-kali menarik nafas panjang.  Dania tidak mau menerima telponnya.

Ketakutannya kehilangan Dania, membuat kenangan-kenangan masa lalu, saat mengejar Dania, kembali bermunculan. Dari pertama kali melihat, Bram sudah jatuh hati padanya. Wajah cantik dan senyum yang tak lepas dari bibir, membuatnya keliatan berbeda, dengan teman-teman seangkatan mereka. Dia tidak pernah melihat raut wajah khawatir atau terbeban di wajah Dania.  Masa ospek yang melelahkan, seakan tidak membuat Dania kehabisan energi.

Banyak yang langsung berusaha mendekati Dania. Baik secara terang-terangan atau hanya berani mencuri pandang. Bram merasa sangat beruntung, karena dia satu kelompok dengan Dania. Dia lebih punya banyak waktu bersama Dania, di masa orientasi itu. Saingan dari teman-teman seangkatan berkurang.

Namun kelegaannya tidak berlangsung lama. Para senior yang lebih pede dan berpengalaman, berani mendekati Dania secara langsung. Untunglah masa istirahat jauh lebih sedikit. Kegiatan kelompok yang lebih banyak, menjadi saat-saat terbaik baginyanya, membuat Dania lebih mengenal dan memperhatikannya.

Usahanya tidak sia-sia. Pertahanan Dania sedikit demi sedikit berkurang. Dania  menerimanya sebagai seorang sahabat. Walaupun sangat supel dan berteman tanpa pandang bulu, Dania sangat pemilih terhadap orang-orang yang akan sering berhubungan dekat dengannya.

Dania memiliki standar yang tinggi, saat memilih para sahabatnya. Dan materi tidak menjadi salah satu ukurannya. Gadis itu  mengelilingi diri, dengan teman-teman yang baik dan positif.

Persahabatan yang dibangunnya bersama Dania, membuatnya lebih mengenal primadona angkatan mereka. Perlu waktu dua tahun, membuat Dania membuka hati untuknya. Dan upayanya menunggu  selama itu, tidak sia-sia.

Dania memang pantas dikejar dan ditunggu oleh siapa pun. Dia wanita  istimewa. Aura kebahagiaan, kegembiraan, dan kedamaian hati Dania sangat kuat. Siapa pun yang berada di  sekitar kekasihnya, seperti tersihir.

Bram menjambak rambut, sampai kulit kepalanya terasa sakit. Dia tidak berhenti mengutuk diri sendiri, sepanjang jalan menuju rumahnya. Rasa takut dan khawatirnya memuncak.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Bandung Barat, Selasa 13 November 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *