Uncategorized

Bertanggungjawab 100 % # 19

source

Dania menatap ke jendela yang belum tertutup sempurna, dari tempatnya berbaring. Sudah tidak ada air mata yang bisa dikeluarkan.   Lampu luar di depan jendela kamar, memperlihatkan hujan yang masih membasahi bumi. Rinai  hujan tak kunjung putus. Semesta  seperti berduka bersamanya.

la ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin – ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau.  Maha Suci Engkau. Sungguh aku ini termasuk orang-orang yang zalim’. La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin … La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin …

Kalimat yang terucap pelan di bibir dan dalam hati secara terus menerus membuatnya tertidur. Suara geledek membuatnya kembali  terjaga. Matanya terbuka lebar. Kecewa langsung menghantam, begitu ingatan tentang Bram menyelinap.

Hatinya terasa kosong.  Dania  menarik nafas dalam. Dadanya terasa berat. Matanya pasti  bengkak. Syukurlah, dia tidak punya acara apa pun besok. Tangan Dania memijit kepalanya yang terasa sangat pusing.  Dia beralih  menggunakan nafas perut.

Dania memiringkan tubuh. Meringkuk seperti bayi.  Selimut tebal membungkus tubuh.

Kenapa Bram melakukannya? … Wanita itu memang sangat cantik. Kenapa harus selingkuh? Kalau Bram bilang, dia pasti akan melepaskan Bram.

Air mata kembali mengalir. Hujan turun semakin deras. Matanya menatap foto pertama berdua mereka. Dia kembali menarik nafas panjang.

“Aku sangat suka jadi sahabatmu, Bram. Akan ada yang berubah, setelah kita pacaran. Kita mungkin saja putus, saling mengecewakan. Aku tidak menginginkan hal itu.”

Kalimat itu seperti tidak berefek pada Bram. Walaupun berkali-kali ditolak, Bram tetap berada di sampingnya. Mereka menghabiskan banyak waktu berdua, layaknya orang berpacaran.

Dia  senang dengan kehadiran Bram di sisinya. Pengetahuan Bram sangat luas. Bisa diajak bicara tentang apa pun. Ada saja lelucon yang terlontar dari mulutnya.  Mereka berdua sudah kebal,  dijuluki ‘permen karet’. Mereka hanya tertawa.

Dania  tahu  tingkat kecerdasan dirinya.  Poin tambahan  Bram, di matanya. Bram tidak terintimidasi padanya  secara intelektual. Bram  mengambil semua mata kuliah tambahan  yang diambilnya. Selalu duduk di sebelahnya. Mengantarnya ke toko buku, perpustakaan, dan kemanapun dia  ingin pergi.

Akhirnya hubungan mereka menjadi lebih berimbang. Tidak selalu Bram yang menjadi bayangannya, namun kadang-kadang dia yang menjadi bayangan Bram. Dia mulai terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan Bram.

Bram kembali  menyatakan cintanya, setelah pengumuman nilai UAS  mereka keluar, di semester empat. Setelah berkali-kali ditolaknya. Kali  pertama nilai  Bram lebih tinggi darinya.

Dania ingat bagaimana wajah Bram yang berubah sangat cerah dan menjadi lebih tampan, setelah Dania mengatakan ‘ya’.

“Bram, ada satu hal yang aku ingin tegaskan, sebelum kita berhubungan lebih jauh,” kata Dania.

“Apa?” sahutnya dengan suara mesra. Tangannya menggenggam tangan Dania.

Dania mengulas senyum sembari menarok tangannya perlahan. “Maukah kau berjanji padaku, akan menjaga dirimu dari wanita-wanita lain! Hanya melihat dan menatapku, di segala situasi. Memberikan hati dan dirimu, hanya kepadaku, karena itulah yang akan aku lakukan padamu.”

“Aku berjanji Dania. Akan menjadikan kau satu-satunya wanita dalam hidupku. Aku akan selalu membahagiakanmu. Akan menjadikan engkau sebagai wanita paling bahagia, selama aku masih hidup.”

Suara petir kembali merobek malam. Dania mengganti posisi tubuhnya. Menarik selimut sampai sebatas leher.

Dia tahu, Bram tertarik pada wanita itu. Sinar mata Bram   di foto-foto itu,  menjelaskan banyak hal.

Dia tidak menjawab, ketika mamanya mengetuk pintu kamar perlahan, sembari memanggil lirih namanya. Setelah tiga kali ketukan, mama tidak  mengetuk pintu lagi.

 Maaf ya, Ma. Aku ingin  sendirian saat ini ….

La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin … La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin … La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin … La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin …

Jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Dia mengambil meja tulis lipat  kecil yang biasa digunakan saat menulis di tempat tidur. Tangannya membuat mindmapping, apa yang dirasakannya saat ini. Dia tercenung, melihat tulisan-tulisan tangannya.

Apa yang terjadi dalam diriku, yang menimbulkan masalah ini padaku?

Bagaimana aku dapat bertanggung jawab seratus persen?

 

Bandung Barat, Rabu 14 November 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *