Uncategorized

Kesadaran Pagi # 20

source

Sayup-sayup ia mendengar suara Bram bicara dengan mamanya. Tak lama kemudian mama mengetuk pintu kamarnya.

Dania tidak menjawab panggilan mamanya. Malas sekali rasanya bangkit dari tempat tidur, apalagi harus menemui Bram. Lagi pula, wajahnya saat ini, pasti terlihat tak karuan. Matanya memicing, ketika seberkas cahaya mentari yang menerobos vitrase mengenai matanya.

“Maaf ya Bram, sejak pulang semalam Dania terlihat aneh. Bahkan dia tidak makan malam. Apakah … kalian bertengkar?” tanya  Mama Dania .

“Tidak  Tante. Tapi saya sudah salah sama Dania. Saya … kemari mau  minta maaf!”

“Oh begitu … Mungkin sekarang Dania masih marah sekali. Tunggu sampai marahnya reda ya … sabar dulu .… Tidak biasanya Dania marah sehebat ini … kami pun dicuekin sejak semalam.”

“Ya Tante. Terima kasih … kalau begitu saya pulang dulu. Pagi Tante.”

“Pagi. Hati-hati di jalan.”

Setelah mengantar Bram, Mama Dania  kembali mengetuk pintu kamar Dania. “Sayang buka pintu dong … ini Mama. Dania … Dania … Mama tahu lho, kamu dari tadi sudah bangun.”

Saat pintu terbuka, melihat mata bengkak sang buah hati, Mama Dania  segera memeluk anaknya. Dia menjauhkan diri sedikit, “Aduh, bidadari cantik Mama. Kenapa sayang …?”

Kepala Dania menggeleng. Tapi air mata mengalir perlahan  di pipi Dania. Mama Dania  mengusap-usap  rambut putri bungsunya. Setelah air mata tanpa sedu sedan itu berhenti,  Mama Dania  mengambil segelas air, dan Dania langsung meminumnya.

Dengan lembut dia membimbing tangan Dania ke sofa di dekat  tempat tidur.

”Ada apa sayang? Mau cerita sama Mama?” tanya Mama Dania lembut.

Dania menatap mamanya. Mama memang selalu menjadi sahabat karibnya. Mama selalu mengerti perasaannya. Mama hanya akan mendengarkan, sampai tak ada satu pun kata lagi, yang ingin diucapkannya. Setelah itu baru  berkomentar.  Tidak langsung menghakimi ataupun menawarkan  sebuah jalan keluar.   Dia  merasa sangat beruntung,  memiliki mama yang bisa memahami dan menerima dirinya, apa adanya.

Tidak ada yang ingin disembunyikannya dari mama, kecuali satu hal, Jasmine. Menyembunyikan Jasmine dari orang-orang terdekatnya, membuatnya seolah sedang berpetualangan, berada di negeri antah berantah.

Membuat hatinya berdebar-debar gembira, seperti anak kecil yang mengetahui ada kado besar dan cantik untuknya, namun belum mengetahui isinya. Dania selalu merasa seperti ini, saat mengingat rahasia kecilnya, sambil tersenyum.

“Bram, Ma …. ” Dania menceritakan hal yang baru diketahuinya semalam.

Mama Dania mendengarkan, tanpa memotong satu kalimat pun. Setelah dirasanya Dania sudah mengeluarkan semua ganjalan hatinya, baru dia membuka suara. “Bagaimana perasaan kamu sekarang?”

“Sudah jauh lebih lega, Ma,” sahut Dania.

“Lega… ?” Mama Dania  menatap Dania  bingung.

“Kedengarannya memang aneh ya. Tahu pacar  selingkuh, kok malah terasa lega. Campur-campur marah, sedih, kecewa,” ujar Dania, sambil menatap wajahnya. Iya, kesedihan memang masih tergambar jelas di wajah cantik itu.

“Hm … kamu sudah tahu apa hadiah dibaliknya?” tanya Mama Dania  lembut. Tangannya menyelipkan rambut ke belakang telinga Dania.

Dania mengulas senyum.  “Belum tahu pastinya. hanya aku bersyukur, diberi  informasi baru.”

“Informasi?” tanya Mama Dania bingung.

“Iya … sebenarnya waktu Mama cerita tentang janji masa kecil dengan Tante Miranda,  terus terang  aku sempat agak kepikiran.”

“Maafin, Mama sayang!” tukas Mama Dania dengan wajah menyesal.

Dania menepuk lembut punggung tangan Mamanya. “Tidak apa-apa, Ma. Aku kan tahu Mama. Mama tidak akan membuat aku ada di posisi sulit, harus memilih antara Mama atau Bram. Makanya … aku minta petunjuk Allah, apa yang harus aku lakukan? Kalau memang Bram yang terbaik untuk Aku, ya aku akan menikah dengan Bram secepatnya,” ujar  Dania lirih.

Mama Dania memeluk Dania erat. “Semua yang dari Allah pasti baik … kamu sudah bicara dengan Bram?”

Kepala Dania menggeleng.

“Bicara dulu dengan Bram, Dania! Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi? Jangan langsung percaya dengan apa yang dikatakan media. Bram yang kita kenal kan, bukan laki-laki yang seperti itu. Jangan putuskan sesuatu, sebelum kau  bertemu Bram.”

Kepala Dania mengangguk. “Ya, Ma. Tapi aku perlu waktu dulu untuk berpikir.”

Dering gawai Mama Dania terdengar. Dia langsung matikan, setelah melihat di layar, nama penelpon.

“Tante Miranda, ya, Ma? Kenapa tidak diangkat?”

 

Bandung Barat, Kamis 15 November 2018

Salam

Cici SW

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *