Uncategorized

Kisah Sang Penguntit # 21

Dania menatap deburan ombak di hadapannya. Sudah seminggu sejak dia melihat foto Bram. Batasan waktu yang dimintanya pada Bram. Syarat agar dia mau menemui laki-laki itu, berakhir hari ini.

Dania menaikkan kerah jaket yang dikenakannya. Mama tidak pernah  menyinggung, tentang janjinya pada Tante Miranda. Walaupun mama tidak mengatakan apa-apa, Dania tahu, hal itu  mengganjal hati mamanya. Dia menarik nafas panjang. Membuat mama bahagia, jadi  salah satu prioritas utama hidupnya.

Apa yang harus aku lakukan? 

Sore itu langit sangat cerah. Angin bertiup tidak terlalu kencang. Selain menyajikan menu-menu lezat, cafe tepi pantai ini, memiliki pemandangan sunset yang luar biasa indah. Tidak heran, pengunjung selalu memenuhi tempat ini.

Kepalanya menoleh ke kiri dan  kanan. Dahinya sedikit berkerut, biasanya pantai  mulai ramai  menjelang sore. kenapa sepi sekali sore ini?  Satu-satunya pengunjung selain dirinya, hanya  seorang laki-laki yang mengenakan kacamata hitam dan topi yang kebesaran, hingga wajahnya tidak nampak. Orang itu begitu asik mengerjakan  sesuatu di  laptopnya. Sayang sekali, di  momen  seindah ini, tidak menikmati suasana.

source

 

Dia segera mengalihkan pandangan kembali ke arah lautan. Alam sedang memanjakannya. Tidak nampak awan di batas cakrawala. Angin masih berhembus perlahan. Air laut mulai nampak kelabu tua. Warna orange tua dan muda, berbaur  cantik, di sekitar mentari yang akan menghilang. Kecantikan megah alam memenuhi  hatinya dengan kedamaian.

Dania  bersandar di kursi pantai berbantal empuk. Pernafasan perut terus dilakukannya.  Saat menghembuskan nafas, tubuhnya terasa semakin rileks. Matanya dipejamkan.

Ya Allah. Aku serahkan masalahku pada-Mu.

Ketika mendengar adzan Maghrib, dia pergi ke musholla. Setelah selesai sholat, Dania  berjalan menuju  bibir pantai. Dengan langkah perlahan, dia menyusuri tepi  pantai. Masih tetap tidak ada orang di sekelilingnya. kesendirian yang sempurna. Dania mengulas senyum di bibir.

Sekarang air laut mulai keliatan menghitam. Paduan warna jingga, diperkuat kuasan warna merah dan hitam yang semakin tegas.

Tiba-tiba perutnya terasa lapar. Sejak datang, dia hanya minum es kelapa muda.

Dania berjalan kembali ke mejanya. Dari kejauhan, dilihatnya para pelayan sedang sibuk menata mejanya.

“Saya belum pesan apa-apa, Mas!” seru Dania kaget, ketika mejanya sudah penuh dengan makanan yang sangat menggugah selera.

“Hari ini, ada acara spesial cafe, Mbak. Tamu yang datang, kita jamu dengan menu-menu andalan cafe ini. Semua pengunjung  Mbak, tamu yang di meja itu, juga dapat pelayanan yang sama,” ujar  pelayan sambil menunjuk ke meja yang diduduki orang aneh tersebut.

Dania melihat, meja tamu orang tersebut,  juga dipenuhi makanan. Dania menganggukkan kepalanya. “Wah, rezeki ini, namanya. Tidak  boleh ditolak. Terima kasih, ya.”

“Sama-sama, Mbak. Kalau ada yang kurang atau mau nambah apa lagi, panggil saja, Mbak. Selamat menikmati.”

Dania mengangguk, dengan senyum lebar di wajah. Dia menatap hidangan di hadapannya dengan  mata terbelalak. Beruntung sekali, semua makanan  yang disajikan,  adalah menu-menu favoritnya. Perutnya semakin keroncongan.

***

Galang memperhatikan Dania dengan leluasa. Kacamata hitam dan topi  kebesaran, menutupi seluruh wajahnya. Saat diberi informasi Dania pergi ke kafe ini, dia menyuruh Carla memesan seluruh tempat itu. Dia menatap puas sekeliling. Selain dirinya dan Dania, tidak ada pengunjung lain.

Setelah Dania keluar dari musholla, dia langsung ke musholla. Selesai sholat, dia kembali ke mejanya. Dilihatnya Dania berjalan di tepi pantai, bertelanjang kaki. Tiba-tiba perutnya keroncongan. Sudah berjam-jam mereka di sini, dan  wanita itu  sama sekali tidak makan apa-apa, kecuali minum.

Berdua Dania, memberikan efek memabukkan dalam dirinya. Hormon-hormon yang bertugas membuat orang bahagia, pasti sedang bekerja maksimal dalam tubuhnya saat ini. Galang melepaskan kaca mata hitamnya. Dia memperhatikan sosok Dania dari kejauhan. Tanpa berusaha melakukan apapun, wanita itu sudah  terlihat sangat memesona.

Mama menceritakan perjanjian yang dibuatnya bersama Mama Dania. Mereka sudah dijodohkan, bahkan saat belum dilahirkan. Pantas saja, mama selalu memaksanya mendekati Dania. Memelototinya, jika  dia tidak berusaha membuat gadis itu gembira, ketika itu. Tapi Mama juga mengatakan, hal itu mungkin tidak bisa menjadi kenyataan. Karena Dania sudah memiliki kekasih ….

Mata Galang memicing. Berita tentang Bram bersama produsernya semakin  viral belakangan ini. Galang tahu, Dania pasti akan pergi ke suatu tempat sendirian. Menata dan menenangkan hati.  Itulah salah satu karakter yang dimiliki  tokoh-tokoh utama dalam novel Jasmine. Atau dalam setiap essai-nya. Menciptakan ketenangan di dalam diri.

Harapan mulai mengembang dalam hatinya. Benar …. Tidak ada masalah yang besar atau kecil. Mungkin atau tidak mungkin. Yang ada hanyalah, Allah berkehendak atau tidak.

Tangannya sudah berhenti  bergerak sejak tadi. Matanya memandang layar sesaat. Alisnya naik sedikit, membaca tulisan yang diketik  tangannya tanpa sadar.  Dia mengalihkan pandangan lagi ke arah pantai. Mengambil kamera. Dania yang berdiri di bibir pantai, dengan latar belakang sunset, menjadi pemandangan  luar biasa. Dia pasti tidak akan pernah  memaafkan diri sendiri, jika tidak mengabadikan momen ini.

Dania terlihat sangat cantik dan menawan. Rambutnya yang sebahu, sesekali diterbangkan  angin yang berhembus agak kencang. Tubuh rampingnya terbalut jeans hitam  ketat dipadu dengan atasan hijau cashmir .

Dengan pilihan pakaian yang semakin trendy  dan model rambut baru, wanita itu terlihat seperti anak kuliahan. Tidak nampak seperti dokter spesialis ataupun pengarang terkenal. Namun setiap mata yang memandangnya, pasti akan terus memperhatikannya. Ada sesuatu dalam dirinya, yang membuatnya berbeda dengan wanita-wanita cantik dan sukses yang bertebaran dimana-mana.

Dahi Galang  berkerut dalam, ketika pikiran tentang penguntit, terlintas. Dia hanya ingin berada di dekat Dania. Berduaan dengan Dania.  Seperti saat ini, berada dalam jarak sedekat ini dan hanya berdua, membuat hatinya terasa hangat. Bela, sebuah suara di benaknya.

Perintah otak waras, yang menyuruh menjauhi Dania, hilang tanpa jejak. Apalagi sejak mama mengatakan tentang perjodohan itu. Melihat dan mengenal Dania lebih dekat, memperhatikan keseharian Dania, membuatnya semakin tertarik pada  Dania.

Belasan novel  dan tulisannya, seperti  melambangkan  gambaran lengkap karakter wanita itu. Galang seperti mengenal Dania lebih baik, daripada dia mengenali garis tangannya.

Dadanya mengembang dengan penuh rasa syukur, melihat raut wajah Dania yang begitu gembira. Wanita itu menyukai kejutan yang dibuatnya.

Galang seperti disambar geledek, ketika ia menyadari sebuah kebenaran. Jiwanya,  membutuhkan wanita yang sedang tersenyum gembira seperti anak kecil, saat melihat makanan di mejanya.  Membuat Dania  tersenyum,  membuatnya seperti melayang ke langit ketujuh.

Ya Allah, aku benar-benar mencintainya. Tolonglah aku ya Allah. Satukanlah kami dalam satu ikatan suci, karena-Mu.

Bandung Barat, Jumat 16 November 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *