Uncategorized

Ide Gila # 22

Entah kenapa, rasa menu favoritnya lebih enak dari biasa. Setelah memakan semua yang terhidang, dia segera meminta meja dibersihkan. Tiba-tiba sebuah ide melintas. Dia bergegas  meraih kunci mobil.

source

“Kalau Mama mau, malam Minggu depan, aku mau menerima  keluarga Tante Miranda. Tapi karena kami masing-masing sudah dewasa, aku harap Mama dan Tante Miranda tidak terlalu banyak berharap. Mungkin Galang juga sudah punya kekasih dan akan menikah juga. Biarkan semuanya mengalir, itu syaratnya, gimana ?” tanya Dania tanpa jeda, dengan nada dibuat sesantai mungkin, sesampainya di rumah. Seolah takut, ide itu akan menghilang.

Mama Dania terdiam, Memandang Dania dengan pandangan  tidak percaya.  Tiba-tiba dia  memeluk Dania dengan mata berkaca-kaca. Sampai sejauh ini, anak bungsunya  berusaha menyenangkan hatinya.

Alhamdulillah.  Terima kasih Ya Allah, Engkau berikan seorang anak yang menjadi penyenang hatiku.

“Sayang, kalau Mama teriak sekarang, pasti tidak sopan ya? Anak lagi patah hati, Mamanya malah senang-senang. Tapi Mama benar-benar gembira sekali  sekarang. Terima kasih banyak, sayang. Kau baik sekali pada Mama,” ujar  Mama Dania sambil memeluk Dania lagi,  erat-erat.

”Mama hargai persyaratanmu. Mama mau telpon Tante Miranda sekarang. Dia pasti senang sekali, dengar kabar ini,” Mama Dania  bergegas meninggalkan Dania di ruang tamu, dengan menekan tombol di gawainya.

“Ma, jangan lupa bilangin syaratnya!”  seru  Dania, dengan mata ikut  berkaca-kaca. Bahagia sekali, bisa membuat mama luar biasa gembira. Dania menepuk bahunya perlahan. Dadanya terasa lega, saat ia menarik nafas panjang.

“Ok, honey,” sahut Mama Dania cepat. Tiba-tiba langkahnya terhenti. “Bagaimana dengan Bram? Mama engga mau, kalau Bram menyangka Mama memanfaatkan situasi ini, untuk kepentingan pribadi Mama,” lanjut Mama Dania, sambil kembali  berjalan ke ruang tamu.

“Bram itu urusan aku …. Tenang aja,  Ma. Aku kan bukan anak kecil lagi. Untuk urusan sepenting ini,  aku pasti sudah pertimbangkan  matang-matang. Ini kan mengenai hidup dan masa depanku, Ma,” ujar  Dania sambil menatap mamanya.

Gawai Dania tiba-tiba berdering. Di layar tertera nama Bram. Memang sudah waktunya.  “OK, di tempat biasa. Satu jam lagi,” ujar Dania, setelah mendengar kata-kata Bram.

“Dari Bram?” tanya Mama Dania.

Dia mengangguk. Tekad Dania sudah bulat. Walaupun tidak bermaksud memulai hubungan dengan Galang, anak Tante Miranda, Dania sudah memutuskan  berpisah dengan Bram. Tiba-tiba hatinya menjadi lebih tenang.

Berdandan secantik mungkin,  Dania mengenakan baju kuning kesayangannya. Baju yang mendapat nilai nol dari Bram. Dia melihat bayangan dirinya di kaca. Masih terlihat sedikit mendung di wajah, tetapi senyum bayinya sudah menghiasi wajahnya.

Dania suka pada salah satu foto saat dirinya masih bayi. Dalam foto itu Dania tampak sedang tersenyum. Dia  melatih dirinya bertahun-tahun lalu, hingga bisa memiliki senyum seperti saat dia masih bayi, kapan saja dia inginkan.

Bibirnya agak terbuka. Seluruh wajahnya rileks. Mata dan hatinya ikut tersenyum, saat bibirnya tersenyum. Keterampilan ini sangat membantu, merubah suasana hati dan harinya. Atau sedang saat menghadapi pasien atau kolega yang sedikit kompleks.

“Mau ketemu Bram, ya? Mau Papa antar,  sayang?” tanya Papa Dania, melihat Dania sudah berdandan rapi.

Mama, pasti sudah memberikan kabar  ini pada Papa. Dania membuka penutup meja makan dan mengambil sepotong udang goreng tepung.

“Ya ampun, Papa! Umur Dania sekarang sudah 29 tahun. Sudah jadi dokter spesialis. Banyak lagi pasiennya. Apa kata dunia, Pa,  hehehe ….” canda Dania, setelah udang garing itu masuk ke dalam mulutnya.

“Papa senang, anak Papa sudah balik lagi,” ujar Papa Dania. Dia  memandang putri semata wayangnya dengan penuh kasih. Kalau tidak ditahan istrinya, pasti dia sudah menghajar anak kurang ajar itu.

“Iya,  waktu malam itu, kamu pulang kayak begitu, rumah rasanya  langsung jadi kayak kuburan,” celetuk Banda, kakaknya menimpali. Walaupun ganteng, dan dikejar banyak wanita, sudah memiliki pekerjaan yang mapan, dia masih belum berniat menikah.

‘Udah kamu duluan, aku ngalah sama Adik. Makanya jangan lama-lama kawinnya. Biar aku juga bisa cepet kawin’ itu yang sering dikatakan kakaknya.

“Eh ngomong-ngomong perlu bantuan? …. Aku gampang lho hajar Bram. Citel!” ujar Banda  sambil mengacak-ngacak rambut Dania.

“Aduh,  rambut aku berantakan lagi deh! Kakak! …. Sudah sana. Urusin aja pacar sendiri…”  seru  Dania sambil menjulurkan lidah ke kakaknya. Dia berjalan cepat  ke arah garasi.

“Hati-hati, sayang.” Suara Mama terdengar dari ruang tengah.

“Siap, Ma. Bye semuanya.”

Menyenangkan sekali berada di tengah-tengah keluarga yang sangat menyayanginya. Dania merasa lebih kuat dan tegar, mendapatkan dukungan dari seluruh anggota keluarga.

Dania menarik nafas dalam. Tekadnya bulat. Memutuskan hubungan dengan Bram. Sesuai kesepakatan awal hubungan mereka, bila salah satu dari mereka  berkhianat. Dia berhenti di perempatan. Lampu lalu lintas di daerah ini. memiliki durasi lampu merah lama. perempatan ini menyimpan banyak kenangan. Tiba-tiba kenangan-kenangan bersama Bram melintas. Perasaan ragu-ragu tanpa diundang hadir.

Kenapa pikiranku gamang lagi?

Dania  menjalankan mobil  perlahan ketika lampu hijau menyala.

La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin … La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin … La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin … La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin …

Bandung Barat, Senin 19 November 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *