Uncategorized

Kebetulan? # 24

Source

“Iya…”

Galang segera mematikan gawai. Dia berjalan mendekati Dania.

Hati Dania tiba-tiba berdebar. Bagaimana mungkin bisa terjadi? Apa artinya ini? Apakah ini pertanda ….

Jarak mereka semakin dekat. Dania melihat seorang laki-laki yang sangat menarik berjalan mendekatinya. Mengenakan kaos putih dengan jeans coklat muda. Kacamatanya sudah dilepaskan. Gelombang kecil rambut yang terpangkas rapi, dimainkan  angin yang bertiup sedikit kencang. Dari jauh, Galang terlihat seperti cake yang sangat lezat.

Semakin dekat, profil wajahnya semakin jelas. Wajah Laki-laki  itu terlihat sangat cerah. Sepasang mata sangat tajam, namun bersinar lembut. Mencirikan kecerdasan. Alis tebal dan hitam, terlihat serasi dengan matanya. Di bibirnya, tersungging  senyum ramah. Seluruh wajah dan penampilannya, terlihat menenangkan.

Berbeda sekali dengan Galang yang kuingat lima belas tahun yang lalu.

Tanpa sadar dia ikut tersenyum.

“Halo Dania…”  ujar Galang sambil mengulurkan tangan.

“Halo Galang,”  Dania tersenyum lebar.

“Apa kabar? Masih ingat aku?” tanya Galang.

“Engga ngenalin sama sekali. Dulu kamu kurus, rambutnya panjang. Kalau senyum aneh,” sahut Dania sembari terus memperhatikan wajahnya.

Galang tertawa gembira, ternyata Dania masih ingat.

“Hahaha … kamu sendiri dulu hitam, rambut  panjang dikepang. Dan selalu nempel Tante Faren … sekarang kamu keliatan berbeda sekali…” Pandangan mata Galang memuji Dania.

Entah kenapa, Dania tersipu malu. Namun pembicaraan singkat mengenai masa lalu mereka, menghancurkan kecanggungan di hati Dania. Galang sendiri keliatan santai sekali. Seperti bertemu dengan seorang kenalan lama, yang selalu berhubungan baik.

“Kebetulan sekali, kita ketemu di sini,” ujar  Dania. Dia memenuhi dada, dengan udara pantai.

“Iya …  Aku suka datang ke tempat ini. Rehat sebentar,”  Galang mengalihkan pandangan ke laut lepas.

Dania menatap Galang.

Apakah masalah perjodohan? Tetapi dia sama sekali tidak keliatan seperti orang yang banyak pikiran. Wajahnya malah keliatan bahagia.

Tiba-tiba Galang mengalihkan pandangan  kembali ke arahnya. Alisnya naik sedikit. “Kenapa melihatku seperti itu?”

“Kau tidak keliatan seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. Malah seperti orang yang sangat bahagia dan gembira,” tukas Dania sembari tersenyum.

“Hahaha … ” Galang mengangkat bahu sekilas. ” … itu salah satu kelebihanku. Selalu keliatan cool.”

Dania membelalakkan mata.

“Narsis ya kamu ini…!”

“Hahaha … kamu sudah lama di sini?” Galang melihat meja bundar di dekat Dania.

Dania menggelengkan kepala. “Mungkin sekitar setengah jam.”

“Kamu sudah makan?”

Dania menggelengkan kepalanya lagi.

Spource

“Duduk yuk, di sana!” ujar Galang sambil menunjuk teras di luar pondoknya. “Sekalian pesan makan.” Dia melihat jam tangannya. “Aku mau sholat dulu!”

“Iya, aku juga belum sholat.”

Selesai sholat, Dania membereskan make upnya. Dia tertegun di depan cermin. Alisnya sedikit berkerut.  Entah kenapa, dia ingin terlihat cantik. Sesampainya di teras, dia melihat Galang sudah berada di sana dan meja penuh oleh hidangan yang sangat menggugah selera.

“Sebelum sholat aku memesan menu-menu favorit  mereka, karena aku tidak tahu apa yang kau sukai,”  ujar Galang, melihat Dania keheranan melihat makanan yang tersaji. Mata wanita itu tidak pindah, dari cake yang dipesannya spesial untuk Dania.

“Belakangan ini aku merasa sering sekali beruntung. Semua makanan-makanan ini,  adalah makanan yang kusukai, di tempat ini,”  ujar Dania sambil tersenyum berterima kasih.”

“Syukurlah, kalau kau menyukainya.  Ayo makan, perutku benar-benar kelaparan, ” ujar  Galang. Semua makanan yang disajikan, benar-benar mengundang selera.

Suasana pantai  sepi. Laut  terlihat begitu tenang dan indah. Rumput yang tebal seperti karpet hijau, membuat Dania merasa sangat santai. Mereka berdua makan dengan lahap.

“Makanku banyak sekali, ya,” ujar  Dania dengan senyum malu-malu.

“Baguslah. Kamu bisa berlaku apa adanya di depan orang. Menyenangkan sekali kan, rasanya, tidak berpura-pura menjadi orang lain,” sahut Galang sambil tersenyum.

Dania mengangguk, sembari tersenyum lega.

Selesai makan, pelayan langsung datang membereskan meja. Galang memesan kelapa hijau.

“Galang, jangan pesan lagi. Perutku sudah tidak muat lagi!” ujar  Dania pelan.

“Engga. Cuma minum aja. Banyak angin seperti ini, engga lama lagi, pasti kelaperan lagi,” tukas Galang.

Keheningan menyeruak di antara mereka. Dania merasakan sebuah sensasi aneh di hatinya. Sebuah rasa yang tak dikenalinya, namun menyenangkan hati. Ketika mencuri pandang  ke arah Galang, dilihatnya Galang sedang menatapnya.

Mereka berdua sama-sama tersenyum dan langsung mengalihkan pandangan ke laut, yang mulai ditemani angin. Suara deburan ombak sesekali terdengar lembut.

Bandung Barat, Kamis 22 November 2018

Salam

Cici SW

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *