Fiction

Horor # 26

“Bukan apa-apa. ” Dania tersenyum lebar, ” …  Tante Miranda lucu, banget ya.”

“Kenapa memangnya?”

“Iya, katanya mau telpon mama …. Mau izinin  aku pulang telat malam ini …. Sebelum aku sempat ngomong apa-apa, dia sudah putus telfonnya.”

Galang  memeluk mamanya erat-erat dalam bayangan mentalnya.

Thanks, Ma. I love you, so much.

“Maaf ya, mamaku dari dulu seperti itu…. Tidak berubah, sedikit pun. Kalau sudah punya keinginan, suka semaunya sendiri … tapi … mama,  seorang ibu yang luar biasa. Aku beruntung sekali, punya mama, seperti mamaku.“

Dania menggoyang-goyangkan tangannya. “Tidak apa-apa. Jangan minta maaf …. Tante Miranda memang sangat baik …. Sikapnya sama seperti Mama. Hangat, ceria, mudah gembira …”

Galang melihat arlojinya. “Kalau begitu, kita engga perlu buru-buru pulang kan? …  atau … kamu sudah punya rencana lain?” tanya Galang.

Dania menggeleng. Belakangan ini, dia memang sedang tidak ingin banyak di rumah. Dia  ingin menikmati  suasana baru. Melakukan hal-hal berbeda, dari kegiatan rutin hariannya.

Suara sms masuk. Dia melihat layar gawai. Bram. Dengan segera, dia memasukkan gawai kembali ke kantung celana panjangnya.

“Tapi anginnya mulai kencang,” katanya perlahan. Matanya menatap pintu cottage. “Walaupun menyewa cottage ini, aku tidak berniat menginap malam ini.”

“Aku bawa beberapa DVD baru. Kalau mau, kita bisa nonton film di tempatku,” tukas Galang tiba-tiba. “Kamu suka film horor?”

Dania menggelengkan kepalanya lagi. “Aku suka film action, tapi yang akhirnya happy ending.”

“Aku bawa banyak film seperti itu …. Komedi juga ada …. Engga pengen coba, lihat film horor, untuk ganti suasana? tanya Galang. “Katanya film ini benar-benar seram dan sangat menegangkan.

Dania menatap mata Galang dengan pandangan heran.

Galang sepertinya mengerti apa yang  sedang aku inginkan dan pikirkan. Sepertinya dia mengenalku dengan sangat baik.

Tapi tawaran ini sangat menggiurkan. “Aku ini … penakut. Makanya engga berani nonton  film horor.

“Tenang aja! Kan ada aku …. Kalau aku sih berani,” sahut  Galang  mantap.

Setelah berpikir sesaat, akhirnya Dania mengangguk. Dia kan memang ingin mencari suasana baru.

Cottage yang disewa Galang lebih besar. Karena menempati sisi lain, ada jendela besar, yang menawarkan pemandangan pantai. Peralatan  home theatre lengkap  bertengger di ruang tengah.

“Ini fasilitas dari sini?” tanya Dania.

“Engga, bawa sendiri. Aku  tiba-tiba pengen nonton film aja, di sini,” ujar  Galang sambil memilih kaset-kaset yang dibawanya, kemudian  memasang sebuah film di DVD player.

Dania memandang layar  datar dengan perasaan sangsi. Dia  kembali ke teras depan.

“Kamu suka sekali laut ya, Dania?” Tiba-tiba Galang berdiri di sebelahnya.

“Iya …” sahut Dania tanpa mengalihkan pandangannya dari laut.

“Kenapa?”

“Sebenarnya, campuran suka dan takut. Laut begitu indah dan tenang. Begitu luas. Sejauh mata memandang hanya air yang terlihat. Begitu  damai. Tapi kalau lagi marah, sangat menakutkan.” Dania menyisir rambut dengan tangan.

Galang melihat profil wajah Dania dari samping. Siluet cantik. Dia ingin selama mungkin, ada di situasi ini.

“Angin di sini tidak sebesar di tempat tadi.  Aku suka pantai di waktu-waktu ini. Permukaan laut relatif datar. Duduklah dulu,” ujar Galang sembari mengambilkan sebuah kursi yang terlihat sangat nyaman.

Dania menuruti perkataan Galang.

“Kau mau makan atau minum sesuatau?” tanya Galang lagi.

“Kamu  punya air putih? Aku merasa haus.”

Galang bergegas masuk ke dalam. Tak lama kemudian, dia keluar membawa dua botol air mineral dingin.

“Persiapanmu lengkap sekali.” Dania menerima botol, dengan pandangan terima kasih.

“Aku hanya tak ingin diganggu orang,  ketika sedang menyendiri.”

Dania memandang Galang dengan pandangan kaget. “Maaf,  aku mengganggumu.”

Kepala Galang menggeleng perlahan. “Sama sekali tidak.  Aku yang mengundangmu …. Aku malah senang, sekarang tidak sendiri.”

Galang mengecek gawainya. “Sebentar lagi waktu Ashar. Sebaiknya kita shalat dulu, sebelum nonton.”

Dania menyetujui ucapan Galang dengan anggukan kepala.

Source

Setelah shalat Ashar, Galang mengajak Dania ke ruangan tengah. Dia mematikan lampu ruang tengah  dan duduk di  sebelah Dania.

“Galang… jangan dimatiin lampunya!” seru Dania was-was.

“Biar kayak di bioskop,” ujar  Galang. “Tuh, sudah mulai.”

Dania mengalihkan pandangannya ke layar. Adegan demi adegan mencekam, seperti tidak ada habisnya. Hatinya berdebar-debar. Kadang-kadang dia menutupi wajahnya dengan bantal sofa. Terkadang dia mengangkat kedua kakinya ke sofa. Menjerit-jerit kecil.

Galang tertawa melihat tingkah Dania. Matanya sibuk melihat kelakuan Dania. Tampaknya Dania benar-benar ketakutan. Tiba-tiba Dania bersembunyi di belakang punggungnya. Tubuh Galang menegang. Hatinya berdebar-debar tidak karuan. Ini lebih dari yang diharapkannya. Tapi keliatannya Dania tidak menyadarinya.

“Sudah  pagi sekarang,” ujar  Galang lirih.

Dania kembali menatap layar. Galang ikut memperhatikan layar TV di depannya. Tiba-tiba Dania memeluknya sambil menjerit ketakutan. Tubuhnya mematung seketika.

 

Bandung Barat, Selasa 27 November 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *