Fiction

27 Kali Lipat # 27

Hidung Dania mencium aroma  khas pria. Bau parfumnya enak sekali. Tiba-tiba dia tersadar, dan segera melepaskan pelukannya.

“Sorry …  sorry, aku takut  sekali,” ujarnya perlahan. Dia segera menjauh sampai ujung sofa. Syukurlah  lampu dimatikan. Kalau tidak, pasti malu sekali, melihat wajah Galang.

“Engga apa-apa. Filmnya memang menakutkan,” sahut  Galang santai.

Mendengar nada suara Galang, meredakan rasa malu Dania. Dia kembali melihat layar. Meremas erat cushion yang ada di pangkuannya, saat jantungnya berdebar kencang  karena takut. Dia menarik nafas lega, ketika akhirnya film berakhir.

Galang dengan cepat menyalakan lampu.

“Filmnya bagus sekali, happy ending lagi,”  ujar Dania, sembari minum air mineral dari botol. “Serem sekali, tapi!. Kalau sendirian, aku pasti sudah matiin dari tadi. Benar-benar memacu adrenalin.”

Source

Dania keluar menuju teras depan. Air laut sudah berwarna abu  keperakan. Matahari mulai bersembunyi, di cakrawala. Langit berwarna kemerahan. Dengan balutan serakan awan hitam di beberapa tempat. Galang berdiri di sampingnya. Angin yang berhembus, mengeluarkan memori aroma tubuh Galang. Tangannya menepuk kedua pipi, berusaha menghilangkan ingatan itu.

“Indah sekali. Aku tidak pernah bosan, melihat pemandangan seperti ini,”  ujar Galang perlahan.

“Hm. Luar biasa ya, ciptaan Allah.” Dania menghela nafas panjang. suara adzan Magrib berkumandang. “Aku mau shalat Maghrib dulu.”

Galang menghadapkan tubuh ke arah Dania. “Jamaah, mau Dania?…. 27 kali lipat pahalanya,” ujar Galang.

Dania memperhatikan Galang sesaat. Sambil tersenyum, dia mengangguk. Alisnya terangkat sedikit, ketika laki-laki itu memberinya mukena berwarna  dominan navy, warna favoritnya. Mereka shalat berjamaah, di ruang tengah. Kulit Dania merinding, mendengar lantunan merdu suara Galang.

Selesai melipat mukena, Dania melihat Galang  duduk sambil membaca sebuah  buku tebal berbahasa inggris  di ruang tamu.

Galang tersenyum, saat Dania menghampirinya. Dia menutup buku. “Dania, aku sudah  lapar lagi. Kamu mau makan?”

“Mau.”

“Kamu mau makan apa?”

“Spaghetti,”  sahut Dania cepat.

Galang segera mengambil gawai. Memesan spaghetti dan pizza.

Dalam hitungan menit, pesanan telah diantar. Diam-diam Dania terkejut. Tadinya dia hanya bercanda. Sepertinya Galang selalu mampu mendapatkan apa yang diinginkannya. Ada sedikit kekaguman menyelinap ke hatinya.

Sama seperti makanan-makanan lain yang dipesan Galang, cita rasa pesanan mereka sangat lezat. Mereka menikmati makanan, sambil tertawa-tawa.

Dania melihat arlojinya. Hampir jam Sembilan malam. Cepat sekali rasanya waktu berlalu. Rupanya hari ini dia sangat gembira.

“Sudah malam, aku harus pulang …. Terima kasih banyak, telah menjamuku,” ujar Dania  ceria. “Lain kali aku yang traktir, ya.”

“OK. Dania, boleh aku antar?…. Tadi mamaku yang telpon mamamu…. Tidak sopan sekali, membiarkanmu pulang sendiri.”

“Bagaimana mobilmu?” Dania menatap mata Galang.

“Itu hal kecil.” Galang balas menatapnya.

Dania tidak tahu harus mengatakan apa. Sepertinya dia tidak mampu menolak permintaan Galang. Dengan enggan, dia memberikan kunci mobil.

“Kurasa kau juga sudah membayar sewa cottageku dan makanan kita?” tanya Dania menegaskan.

Galang hanya tersenyum mendengar pertanyaan  Dania.

“Kau hebat sekali! Seperti tak melakukan apapun, tapi semua urusanmu selesai,” ujar  Dania, begitu mereka memasuki jalan raya yang masih padat. Benar-benar tanpa harus berhubungan dengan kasir.

“Terima kasih …. Rasanya berbeda, kalau kau yang mengatakannya,” sahut Galang.

“Sudah sering dipuji, ya, kamu?”

Galang menoleh ke arah Dania sembari tertawa kecil.

“Hujan. Alhamdulillah, tadi tidak hujan.” Sebelum sempat memberitahu jalan yang harus diambil, Galang sudah mengarahkan mobil menuju jalan ke  rumahnya. “Kamu tahu rumahku?”

“Tahu,” sahut Galang pendek.

Mereka tidak bicara sepatah kata pun sepanjang jalan. Tanpa suara tape atau radio. Hanya suara alam. Suasana terasa begitu sakral. Menikmati rintik hujan yang menerpa kaca mobil dan atap.

Dania tidak tahu, hujan bisa terasa begitu indah dan nyaman. Sempurna sekali hari ini. Setelah keriuhan sepanjang siang dan sore, ditutup malam yang hening.

Dania menarik nafas panjang. “Mau mampir dulu?” tanya Dania, ketika laki-laki itu menghentikan mobil di halaman rumahnya.

Galang mengangguk.

“Assalamualaikum,” Dania membuka pintu depan rumahnya. Tidak ada jawaban.  Dia mengajak Galang ke ruang keluarga, dengan gerakan kepala.

“Ma … ada Galang,” ujar Dania, ketika melihat kedua orangtuanya sedang nonton film, di ruang keluarga.

“Galang … terima kasih sudah mengantar Dania,” ujar Mama dania, sambil berdiri.

Papa Dania  segera berdiri  mengikuti Mama Dania.

Saat itu Dania berdiri di samping Galang.  Tanpa canggung, Galang mencium tangan kedua orangtuanya. Alis Dania terangkat sedikit. Bram tidak pernah mencium tangan orangtuanya.

“Jangan langsung pulang. Duduk dulu!” ajak Papa Dania, sambil menepuk pundak Galang. “Ayo ngobrol di ruang tamu.”

Mama Dania dan Dania mengikuti dari belakang.

“Bagaimana kabar kamu? Sudah lama sekali tidak bertemu?” tanya Papa Dania, begitu duduk di kursi.

“Baik sekali, Om …. Alhamdulillah … Bagaimana kabar Om sendiri?”

“Seperti yang kamu lihat … Alhamdulillah. Bagaimana kabar kedua orangtuamu?”

“Alhamdulillah baik juga, Om. Mereka berniat menetap di Jakarta. Kangen kampung halaman katanya.”

Papa Dania  mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kemarin, waktu Mama jalan-jalan sama Tante Miranda, Galang lo, yang nganterin kita,” ujar Mama Dania. “Tidak lama setelah kamu pergi, Galang telpon, lalu dia datang.”

Dania menoleh cepat ke arah Galang. Galang tidak mengatakan apa-apa tadi. Alisnya naik sedikit, ketika hatinya, memberi rasa hormat pada laki-laki itu.

“Kamu kok engga bilang apa-apa tadi?”

 

Bandung Barat, Rabu 28 November 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *