Fiction

Rengkuhan Keheningan # 28

Source

“Bukan kegiatan rutin, Dania. Kebetulan ada waktu luang,” sahut Galang sembari menoleh ke arah Dania. “Kalau pas sibuk,  sedikit sulit  bisa nemenin mama.”

“Bagaimana kalian bisa bertemu, hari ini?” tanya Mama Dania  penasaran. Matanya menyapu wajah Dania dan Galang bergantian.

“Mama kepo …” Dania tertawa kecil. Tangannya menepuk lembut lengan mamanya. Wajah penasaran mama, membuat tawanya berderai.

“Tadi siang, saya telpon Dania, Tante …. Kebetulan dia juga sedang tidak sibuk, jadi  kita bisa ketemuan,” Dania mendengar  Galang menjelaskan.

“Wah, bagus sekali!” ujar Mama Dania  dengan wajah berseri-seri. “Pertanda baik itu-“

“Mama …!” seru Dania lembut. Tawanya langsung berhenti.

“Iya … iya … Mama engga akan ngomong  apa-apa lagi.” Mama Dania  menoleh,  ketika Papa Dania menepuk-nepuk lembut pundaknya.

“Nah, itu baru Mama  cantik aku,”  ujar Dania manja, sambil bergayut pada lengan mamanya, di sisi lain.

Galang melihat arloji. “Maaf, Om, Tante, sudah malam. Saya mau pamit dulu,”  ujar Galang sambil berdiri.

“Oh, iya. Hati-hati,” Papa Dania ikut berdiri.

“Kamu mau pulang pakai apa?” cetus Dania tiba-tiba.

“Lho, memang  ke sini  naik apa?” tanya Mama Dania.

“Galang  yang setir mobil aku, Ma …. Mobilnya   ditinggal di sana,” jelas Dania.

“Oh, ada Tante …. Saya sudah minta dijemput.” Tangan Galang menunjuk ke arah halaman rumah.

“Kok  bisa? Kapan telponnya?” tanya Dania heran.

“Kan sulap,” sahut Galang ringan, sambil tertawa kecil.

Melihat papa mamanya ikut  tertawa,  bibir Dania mengerucut.

“Orang nanyanya beneran,” gerutunya.

“Hei, kamu ini kayak anak kecil aja. Gampang ngambek!” seru Mama Dania, sembari mencubit perlahan pipi anaknya.

“Mama, sakit!” seru Dania manja. Dia langsung tersenyum lebar, begitu pipinya dicium mamanya.

Dania tidak berubah. Nia yang dikenalnya dulu, memang mudah sekali disenangkan dan tertawa.  Hati Galang terasa hangat, melihat pemandangan di hadapannya.

“Om, Tante, tidak  usah mengantar,” ujar Galang sembari mencium tangan Papa dan Mama Dania bergantian.

“Hati-hati, Galang. Salam ya sama mama dan papamu, ” ujar Mama Dania.

“In syaa Allah, Tante.” Kepala Galang mengangguk. Ketika keduanya sudah berjalan ke ruang tengah, Galang baru berjalan menuju pintu.

Alis Dania terangkat tinggi,  melihat mobil Galang benar-benar  ada di halaman  rumahnya.

“Hebat! Kamu benar-benar bisa sulap,” ujar Dania heran.

Galang tersenyum geli, melihat Dania begitu takjub. “Aku jarang bohong, Dania.”

“Kamu selalu ada di dekat aku … Aku tidak ninggalin kamu, sedetik pun…. Kau tidak  menelpon seseorang …. Aku yakin itu. Tapi kita bisa pergi dari sana, diantar senyuman lebar dan hormat mereka, tanpa kau membayar apa pun. Dan sekarang, mobil kamu ada di sini?”

“Hei,  semua ini  hanya urusan kecil …. Jangan terlalu dipikirkan! …. Masuklah, keliatannya kamu agak lelah.” Perintah Galang lembut, dengan gerakan kepala perlahan.

Dania terdiam sesaat. Matanya menatap mata Galang tanpa berkedip. Tiba-tiba kedua tangan Dania, ditangkupkan ke pipinya. “Aku memang keliatan cape, ya?”

“Sedikit. Tapi tetap cantik,” ujar Galang dengan wajah sangat serius dan kening berkerut dalam, setelah  sesaat melihat wajah Dania,  seolah sedang memperhatikan sebuah objek penting.

Mata Dania terbelalak. Mulutnya terbuka.

“Ya ampun, Galang! Kamu playboy juga, ya?” ujar Dania setelah mampu berbicara.

Galang mengangkat bahu sekilas. “Aku kan sudah bilang, aku jarang bohong.” Dia memainkan kunci di telunjuk kanan. Berat sekali meninggalkan tempat ini.

Dania tertawa kecil. Wajahnya menengadah ke langit sesaat. Dia memenuhi perut dengan udara segar. “Aku suka udara  setelah hujan turun.”

Galang menatap wajah cantik di hadapannya, tanpa berkedip. Mematri pahatan sempurna bentuk wajah itu dalam ingatannya. Helaian  rambut nakal, menempel di pipi wanita itu. Keningnya berkerut, ketika dia merasa iri pada helaian rambut itu. Pandangannya langsung dialihkan ke arah lain, begitu Dania melihat ke arahnya.

“Udara seperti disaring, ya?” Galang memenuhi paru-paru dengan udara yang sama. yang dihirup Dania. Berusaha meredakan dadanya yang seperti mau meledak, dengan kegembiraan.

Dania mengangguk. “Yah … aku memang agak sedikit lelah. Galang … aneh ya, kenapa aku merasa, kamu seperti sangat mengenalku … padahal, kita kan baru ketemu sekarang, kan?”

Alarm di kepala Galang berbunyi nyaring. Tangannya dengan sigap memencet remote alarm. Dengan segera, bunyi bip terdengar, dibarengi kilatan cahaya merah sekilas.

“Bagaimana kalau kita bahas lain kali?…. Penjelasannya, pasti  akan makan waktu lama,” sahut Galang.

Dania mengangguk menyetujui. “Mungkin  hanya perasaanku saja …. aku sedang agak sensi belakangan ini. Terima kasih banyak ya. Hari ini sangat menyenangkan bagiku.”

“Aku juga senang sekali hari ini,” ujar Galang sembari membuka pintu mobil sport hitamnya. “Selamat malam, Dania. See you soon.”

“Malam. Bye.”

Source

Dania melambaikan tangan, membalas lambaian tangan Galang dari jendela mobil yeng terbuka.  Ketika mobil Galang hilang dari pandangannya, baru dia membalikkan tubuh.

“Mama!” serunya kaget.

“Dania, Mama engga sabar!…. Tadi waktu Tante  Miranda telpon, Mama langsung mau telpon kamu …. Nunggu kamu rasanya lama sekali …. Tante Miranda juga bolak-balik telpon, nanyain. Kamu senang pergi sama Galang, hari ini?” tanya Mama Dania seperti kereta panjang tanpa sambungan.

“Mama … Mama tahu  kan, aku sayang sekali sama Mama …. Tapi hari ini,  aku lelah sekali …. Bisakah kita bicarakan lagi, lain kali? …. Hari ini, aku dapat banyak sekali kejutan, aku mau  istirahat dulu sekarang.” Dania merengkuh bahu mamanya.

“Baiklah … baiklah … maafin Mama, ya …. Kau benar …. Pasti belakangan ini sangat berat untukmu. Beristirahatlah!” Mama Dania menepuk-nepuk lembut tangan Dania di bahunya. Dia mencium pipi Dania sekilas. “Tidur yang nyenyak, ya.”

“Terima kasih, Mama sayang. Aku  juga belum shalat Isya. Aku  ke kamar dulu, ya, Ma” sahut Dania seraya  balik mencium pipi mamanya.

Kakinya melangkah cepat, seperti akan melakukan operasi darurat. Dia ingin segera masuk ke dalam rengkuhan keheningan.

Apa pesan, yang ingin disampaikan Allah, dengan pengalamannya hari ini?

 

Bandung Barat, Kamis 29 November 2018

Salam

Cici SW

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *