Fiction

Growing. Not Just Surviving # 29

Bab Sembilan

Growing, Not Just Surviving

 

Mata Dania terbuka. Sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur’an  dari masjid dekat rumah, membelah keheningan. Lantunan ayat-ayat surat Ar -Rahman  terdengar merdu. Dania memejamkan mata sesaat.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? 

Ya nikmat mana lagi yang dia dustakan? Dania memaksakan senyum di wajah.  Dia membuka mata lagi.

Tidak seperti biasa, tadi malam  lampu temaram di kedua sisi ranjang  dia matikan. Kamar  gelap gulita. Tidak ada satu benda pun yang bisa dilihat. Dia mengisi perut dengan tarikan nafas panjang. Udara berisi CO 2 dikeluarkan berbarengan dengan lafaz Allah dalam hati.

Setelah melakukannya beberapa kali, dengan terus secara sadar bernafas seperti itu, mata Dania  terbiasa dengan kegelapan. Tangannya meraih jam weker di nakas sebelah ranjang.

Tangannya menekan tombol lampu. Dua menit menjelang adzan Subuh. Dia mengembalikan jam weker. Dahinya mengernyit, mendengar suara-suara di balik kamar.

Mama sudah mulai beres-beres?

Dania menyingkap selimut. Dia membuka pintu kamar yang mengarah ke teras samping. Hawa dingin menusuk tulang. Tubuh Dania sedikit gemetar. Dia mengambil baju hangat di hanger belakang pintu.

Dia sengaja mematikan lampu teras luar dan taman di depan kamarnya. Namun cahaya rembulan dengan  anggun menggantikan cahaya buatan manusia. Wangi bunga wijaya kusuma mini, tercium indra penciuman. Senyumnya melebar, ketika kepalanya mendongak. Langit terang dihiasi cahaya rembulan. Kerlip bintang memenuhi angkasa. Dengan manja, fajar indah mengintip dan membangunkan dunia.

Mendengar suara adzan, ia bergegas masuk kembali ke kamar. Selesai shalat, m asih mengenakan mukena, dia kembali ke teras depan. Waktu sempurna meneropong hati dan perasaannya.

Malam  ini keluarga Galang akan berkunjung ke rumahnya. Dia menarik nafas panjang, ketika tiba-tiba wajah Mama Bram melintas. Wanita cantik itu tergopoh-gopoh menemuinya, begitu foto Bram muncul di dunia maya. Dania duduk di ayunan. Kedua tangannya dilipat di dada. Kakinya mengayun perlahan ayunan.

Dia membuka mukenanya. Hembusan angin lembut, menyapa wajahnya. Pandangannya terpaku pada sweater yang digunakannya, rajutan Mama Bram. Hadiah ulang tahunnya,  tahun lalu. Ingatannya melayang.

“Dania, boleh bertemu denganmu?” WA Mama Bram, muncul di layar, begitu dia menyalakan ponsel.

Dania memijit kepalanya yang terasa sakit. Air matanya keluar, begitu sadar keluarga Bram, tidak akan jadi keluarganya. Matanya lama menatap layar dengan pikiran kosong. Dia tidak ingin bertemu siapa pun.

Mama Bram pasti sangat terpukul. Dia tahu, apa yang sudah disiapkan wanita itu, untuk Bram dan dirinya. Dia tidak ingin membuat orang lain lebih  menderita, gara-gara dirinya. Tangannya meraih gawai. Tapi sekarang dia belum siap bertemu Mama Bram. Tanpa dikehendaki jemari  bergerak sendiri  di atas keyboard gawai.

Keesokan hari, karena selesai praktek  lebih cepat, Dania mengarahkan mobil ke puncak. Hari biasa, membuat jalanan lenggang. Pemandangan indah di sepanjang jalan membuat hatinya terasa lebih ringan. Dia mematikan ac mobil, dan membuka kaca jendela lebar-lebar. Angin kencang menerbangkan rambutnya. Kaca mata hitam yang dia kenakan, membuat cuaca yang agak berkabut, bertambah redup.

Dania menghela nafas. Rasanya aneh sekali mendatangi restoran ini sendirian. Biasanya dia ke tempat ini berdua dengan Bram. Dadanya terasa lebih lega, melihat bangku favoritnya kosong. Dia melepas kaca mata, meletakkannya di atas meja. Sendirian,  dia  duduk di tempat yang biasa mereka duduki.

Source

Dania bersyukur, tempat yang biasanya sangat ramai, kali ini sangat sepi. Menyenangkan sekali,  sendirian di saat-saat seperti ini. Dia ingin dikelilingi keramaian.

Dania mengalihkan perhatian pada pemandangan indah di sekelilingnya.  Tidak  seperti biasa, ada seorang pelayan yang berdiri di dekat pintu,  yang menghubungkan ruangan dalam dengan teras luar. Tempatnya duduk saat ini.

. Dania melambaikan tangan.

“Saya mau pesan,” ujar Dania, pada pelayan yang dengan segera menghampiri.

Dia memesan beberapa minuman sekaligus dan beberapa makanan ringan.

Setelah mencatatnya, pelayan segera meninggalkannya. Dari ekor mata, Dania melihat  ada yang menggantikan pelayan itu, berjaga di pintu yang tadi ditinggalkan.

Dahinya sedikit berkerut. Para tamu yang mulai memenuhi ruangan, berdiri bergerombol di dekat pintu. Namun  tak ada seorang pun yang  makan di teras  luar seperti dirinya. Dia kembali mengenakan kaca mata hitam. Tubuhnya dihadapkan kembali, ke arah pegunungan.

Dania menarik kursi  dihadapannya. Dipepetkannya dengan kursi  yang didudukinya. Dia meletakkan kaki  di  atas kursi. Rasanya menyenangkan sekali, bisa selonjoran seperti ini. Untung mobilnya  matic.

Tiba-tiba gawainya berdering. Mama Bram  menelpon.

“Siang, Tante,”  sapa Dania.

“Siang, Dania. Kamu lagi sibuk sekarang?” tanya Mama Bram dengan nada khawatir yang tidak bisa disembunyikannya.

“Engga Tante. Lagi di luar. Kebetulan pasien aku  hari ini tidak terlau banyak. Ada apa, Tante?”

Mama Bram menarik nafas dalam. Dia sangat menyayangi Dania. Sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Ketika anak bungsunya, memperlihatkan  foto-foto Bram dengan Neni, dia sangat cemas. Dia mengenal Neni, karena Bram begitu tergila-gila pada gadis  itu, saat mereka masih SMA. Kalau dia tidak melakukan sesuatu, suasana bisa tambah runyam.

“Tante mau ngobrol sama kamu. Kamu ada waktu?” desak Mama Bram.

 

Bandung Barat, Senin 3 Desember 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *