Fiction

Pengakuan # 31

Source

 

 

“Baik, Tante,” sahut  Dania perlahan, sambil mencoba tersenyum. Dia kembali mengarahkan pandangan ke deretan pohon teh yang berbaris rapi. Andai dia terus menatap Mama Bram, air mata pasti mengalir. Sedih sekali saat menyadari  wanita  dihadapannya, tidak akan menjadi mamanya.

Mama Bram mengikuti pandangan mata Dania.  Mata itu terlihat kosong, walaupun bibirnya tersenyum. Kantung mata Dania  terlihat agak hitam.  Hatinya terenyuh melihat keadaan Dania. Kata-kata yang sudah dipikirkan sepanjang jalan,  tak mampu  sepatah kata pun bisa terucap.

Dia hanya mampu menarik nafas panjang berkali-kali. Belum pernah sekali pun, dia melihat Dania keliatan begitu tertekan  seperti saat ini. Bahkan saat Dania dan Bram bertengkar hebat dan tidak saling menyapa selama seminggu, Dania bisa menutupi kesedihannya. Tampaknya, sama seperti Bram, Dania pun sangat terpukul dengan perpisahan ini. Ada sebuah pijar harapan di hati Mama Bram.

Keheningan  pecah oleh kedatangan para pelayan yang mengantarkan pesanan mereka. Semua pesanan itu diantar bersamaan.

Dahi  Mama Bram sedikit mengernyit, begitu menyadari teras ini hanya terisi mereka berdua. Matanya mengarah ke ruang dalam yang penuh sesak.  Sepertinya tidak semua orang memerlukan udara segar, seperti mereka berdua.

“Makan dulu, Dania!”

Dania mengangguk. Tanpa semangat dia mengambil nasi.

“Ayo, yang banyak ambilnya!” ujar  Mama Bram sambil menambahkan nasi ke piring Dania.

“Sudah Tante. Cukup … terima kasih,”  ujar  Dania sambil tersenyum.

“Kenapa tersenyum, Dania?” Kepala Mama Bram meneleng.

“Tante sama seperti mama. Mama pasti nambahin nasi ke piring saya, kalau saya cuma makan sedikit.”

Tangan Mama Bram sempat berhenti di udara mendengar perkataan Dania.

“Kamu itu, sudah Tante anggap seperti anak Tante sendiri,” tukasnya. “Melihat kamu seperti ini, tahu engga apa yang Tante rasain? Lebih baik Tante aja yang seperti itu, daripada lihat kamu seperti itu. Aduh … Tante jadi marah lagi deh sama Bram!”

“Tante … tolong,  jangan salahin Bram! Apa yang harus terjadi, pasti akan terjadi ….”

Mama Bram menatap Dania dengan pandangan takjub. “Dania … bicaramu sama seperti Jamine!”

Dania tertegun mendengar perkataan Mama Bram. Tiba-tiba keadaan menjadi lebih jelas bagi Dania.

“Makan dulu yuk, Tante! Ada yang ingin saya bicarakan, dengan Tante,” ujar Dania  tenang. Keputusan yang baru diambilnya, mampu membuat nafsu makannya timbul.

Meski tidak mengerti dengan perubahan yang terjadi pada Dania, Mama Bram mengikuti Dania menyantap pesanan mereka. Perutnya baru terasa keroncongan, melihat Dania makan dengan lahap.

“Dania …” Dania tersenyum menatapnya. Senyuman itu, membangkitkan keberanian Mama Bram. “Bagaimana perasaan kamu sekarang …?”

“Tante … ” Dania menangkup punggung tangan Mama Bram lembut, ” … yang Tante mau sekarang,  jawaban yang menyenangkan atau yang benar-benar aku pikirin dan rasakan?”

“Tentu saja yang kedua Dania,” tukas Mama Bram.

“Walaupun mungkin itu tidak begitu menyenangkan?”

“Kebenaran lebih berharga, Dania sayang.”

“Saya minta maaf sebelumnya … Sebenarnya … “ Dania menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.  “Jasmine adalah nama pena saya.”

Mama Bram menutup mulut  dengan tangan, saking kagetnya.

Dania tersenyum minta maaf. “Tidak ada seorang pun yang tahu. Bram … bahkan keluarga saya sendiri …”

Mama Bram bersandar ke sandaran kursi. Berusaha meredakan kekagetannya. Novelis favoritnya, Dania?  Pantas saja, bila dia dan anak perempuannya, berdiskusi tentang novel-novel Jasmine, Dania terlihat aneh.

Dania tersenyum minta maaf. “ Saya tidak bermaksud membohongi siapapun,  Tante … hanya rasanya,  seperti anak kecil yang punya mainan atau teman rahasia … ”

Melihat Mama Bram tidak mengatakan apapun, Dania melanjutkan, “Tante …  masih mau dengar yang lain …?”

Mama Bram tertegun. Masih ada berita lain? Tanpa sadar dia  mengangguk. Hatinya mulai terasa tidak enak.

“Beberapa waktu lalu, mama bertemu dengan sahabatnya. Kami bertetangga belasan tahun lalu. Mereka … pernah berjanji … akan menikahkan anak-anak mereka.”

Lagi-lagi Mama Bram tertegun. Melihat masih banyak yang ingin dikatakan Dania, dia hanya diam saja. Tangannya diremas-remas di bawah  meja.

“Mama tidak memaksa saya menepati  janjinya. Mama hanya memberi tahu, karena setelah hampir lima belas tahun, mereka berdua bertemu lagi …. Tante Miranda pun tahu, saya sudah punya pacar … Saya sangat menyayangi mama, tapi di lain pihak saya pun mencintai Bram. Saya tidak mau memilih salah satu di antara mereka … Saya …  sudah mengatakan hal ini pada Bram-“

“Apa komentar Bram?” sela Mama Bram tidak sabar.

“Dia berkata ‘terus kamu sendiri gimana?’, ya saya jawab ‘Ya engga gimana-gimana. Aku kan sekarang sudah punya pacar. Tapi…  mama dan kamu,  sama-sama penting untukku…’, kemudian dia menjawab ‘Ya sudah… kalau begitu tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan’ dan karena harus praktek di tempat lain, dia segera pergi.”

“Anak itu-“ desis Mama Bram marah.

 

Bandung Barat, Rabu 5 Desember 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *