Fiction

Let It Flow # 32

“Tante,  tolong … jangan salahin Bram …! Dia sendiri sudah  merasa sangat bersalah,” tukas Dania. Dia menghela nafas. “ … tapi … saya perlu waktu untuk mencerna semuanya ….”

“Lalu … bagaimana dengan rencana perjodohannya?” tanya Mama Bram dengan hati-hati.

“Terus terang, saat itu saya tidak tahu apa yang harus dilakukan … mama dan Bram, keduanya orang-orang yang sangat saya sayangi. Saya tidak  ingin melukai  salah satu dari mereka  … ” Dania tersenyum lembut pada Mama bram.

“Kondisinya sekarang berbeda. Saya harus mengambil keputusan …. Saya mengatakan pada mama … untuk menerima  kedatangan keluarga Tante Miranda, hari Sabtu malam. Tidak dalam rangka perjodohan, hanya untuk mengenalkan kami berdua.”

Mama Bram mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan. Rasa dingin menjalari tulang punggungnya. Dia meredakan rasa kecewa  hebat dalam dada.

“Dania … bagaimanapun  ini salah Bram … Tante engga bisa bilang apa-apa … Seandainya Tante yang ada di posisi kamu, Bram pasti sudah abis sama Tante. Jangan khawatir, Tante  mengerti situasi kamu, tidak akan menyalahkan kamu, apapun keputusanmu. Itu hak kamu sayang. Melihat keadaan kamu, ketika Tante datang, itu sudah cukup bagi Tante. Kamu pun merasakan hal yang sama seperti Bram … kalian sama-sama sedih karena perpisahan ini … tapi … ya seperti yang kamu bilang … mungkin suratannya saat ini seperti ini … tinggal kita mencari, apa alasan peristiwa ini terjadi.”

“Terima kasih banyak, Tante…” Mata Dania berkaca-kaca.

“Kalau kamu nangis, nanti Tante ikutan nangis, sayang!” bujuk Mama Bram lembut. “Tante merasa sangat terhormat, menjadi orang pertama yang kamu beritahu, mengenai Jasmine,” ujarnya lebih lanjut.

Dia menyesap teh manis hangat. Walaupun merasa sangat kecewa, Bram sendirilah yang menciptakan situasi ini… Anaknyalah yang telah menyia-nyiakan wanita cantik di hadapannya … Jasmine … Alangkah sempurnanya calon menantunya ini.

Source

Angin dingin membuat tubuh Dania sedikit menggigil. Sekaligus membuyarkan lamunannya.

Setelah bertemu  Mama Bram, sebagian besar bebannya berkurang. Apalagi, melihat kebesaran hati  Mama Bram menerima perpisahan dirinya dengan Bram. Salah satu kekhawatiran terbesarnya adalah membuat keluarga Bram, terutama  Mama Bram,  merasa sedih. Dengan keputusan yang diambilnya.

Dania menatap langit yang perlahan berubah sangat cerah. Awan putih bergumpal-gumpal,  menghiasi langit yang biru dan bersih. Bunyi perut, membuatmnya berbalik badan menuju rumah.

Sejak matahari terbit, rumah terasa sangat sibuk. Mama Dania dan Bi Sari mondar-mandir membersihkan rumah, memasak, merapikan segala sesuatu.

“Ma, yang mau datang calon presiden atau calon besan sih ?” tanya Banda mengomentari kesibukan mamanya.

Mama Dania hanya mendelikkan mata ke arah anak sulungnya. Tapi kemudian tersenyum, dan kembali melanjutkan kesibukannya.

Banda melihat mamanya dengan mata bersinar. “Mama, kelihatan cantik sekali, kalau lagi bahagia, ya, Pa?”

Papa  Dania  tersenyum, “Siapa dulu suaminya? … Kamu kalau engga bisa cari pacar, sini Papa ajarin!”

Bram meninju lengan papanya perlahan.

Dania sendiri, tidak boleh membantu apapun. Lebih baik kamu ke salon, luluran,  potong rambut, beli baju sana. Banda anter adikmu sekarang!  begitu kata Mama Dania, saat Dania ingin membantu.

“Mama, masa aku nunggu di salon?…. Kalau ada temenku yang lihat gimana, Ma?” kilah Banda.

“Engga apa-apa,  Kak! Daripada pusing lihat mama mondar mandir, engga kelar-kelar, mending keluar aja yuk …. Aku traktir deh!”

“Dania,  tapi jangan ke salon ya? Aku engga mau!” Kening Banda berkerut dalam.

“Beres …. Antar aku belanja aja, yuk!” ujar Dania sambil meletakkan tas di pundak ” …. Ma, berangkat ya!”

“Pulangnya jangan kemalaman ya!…. Tamunya datangnya jam 7 malam!” seru  Mama Dania dari arah dapur.

“OK, Bos,” ujar  mereka hampir bersamaan.

“Naik motor aku, Dania?” Banda mangacungkan kunci motor.

Dania menggeleng. “Engga mau!”

Banda tertawa melihat wajah cemberut adiknya. Tiba-tiba senyumnya menghilang. Kalau Dania tidak melarangnya, wajah tengil Bram pasti babak belur. Dengan cepat dia membuka pintu mobil.

“Gimana perasaan kamu sekarang, Dania?” tanya Banda dengan hati-hati. “Baru seminggu  putus, setelah tahunan pacaran, kamu sudah dijodohin…. Kamu benar,  engga apa-apa?”

“Kata siapa dijodohin?” tanya Dania dengan wajah cemberut. “Jangan mikir terlalu jauh. Ini cuma perkenalan aja. Siapa tahu, dia juga sudah punya pacar …. Santai aja. Aku dapat dua pahala, Kak. menyenangkan orangtua dan silaturahmi.”

Dania mengangkat sedikit pundaknya. “Let it flow.”

“Kamu engga bener-bener cinta ya, sama Bram?” tanya Banda penasaran.

Dengan mata mendelik, Dania menoleh ke arah kakaknya, “Pernah lihat aku selingkuh engga? …. Atau pergi sama cowok lain?…”

Dania menyandarkan kepala ke jok. “Tapi …. Aku juga engga tahu … ya … sebenarnya lebih banyak herannya juga sih … kok aku bisa cool kayak begini?…. Walaupun kadang-kadang masih suka sedih, kalau ingat …. Syukurlah, aku memang jarang berduaan kan sama dia, karena punya kesibukan masing-masing. Yah … lebih mudahlah buat aku ”

“Bram langsung pindah praktek ya?”

“Aku dengar, sementara  dia engga praktek dulu …. Yang repot orang-orang di RS …. Mereka liat foto-foto Bram …. Hari Senin begitu aku masuk, mereka langsung pada baik sekali …. Tadinya aku pun engga ngerti. Oh … Ternyata pada simpati sama aku. Alhamdulillah …  banyak yang baik sama aku.”

Banda mengacak-acak rambut adiknya. “Terus, dokter-dokter yang dulu  kamu tolak gimana?”

“Yah …  pada pdkt-lah …. Sampai pusing aku jadinya …. Ada yang kirim bunga  ke ruang praktek …. Ngasih coklat. Ngajak makan. Kirim SMS romantis.  Wah … segala macam …. Bikin pusing …. Orang aku lagi pengen tenang …. Telpon malah kadang engga berhenti …. Engga diangkat takutnya penting. Tapi kalau aku sudah engga tahan,  belakangan ini sering aku matiin HPnya,” sungut Dania.

“Hahaha … Bram kebakaran jenggot dong? Dia, minta balikan lagi, Dania?”

Tiba-tiba gawai Dania berdering.  Dia menatap layar, kemudian memasukkan gawai lagi ke dalam tas.

“Dari Bram?” tanya Banda geram.

 

Bandung Barat, Jumat 7 desember 2018

Salam

Cici SW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *