• Fiction

    Let It Flow # 32

    “Tante,  tolong … jangan salahin Bram …! Dia sendiri sudah  merasa sangat bersalah,” tukas Dania. Dia menghela nafas. “ … tapi … saya perlu waktu untuk mencerna semuanya ….” “Lalu … bagaimana dengan rencana perjodohannya?” tanya Mama Bram dengan hati-hati. “Terus terang, saat itu saya tidak tahu apa yang harus dilakukan … mama dan Bram, keduanya orang-orang yang sangat saya sayangi. Saya tidak  ingin melukai  salah satu dari mereka  … ” Dania tersenyum lembut pada Mama bram. “Kondisinya sekarang berbeda. Saya harus mengambil keputusan …. Saya mengatakan pada mama … untuk menerima  kedatangan keluarga Tante Miranda, hari Sabtu malam. Tidak dalam rangka perjodohan, hanya untuk mengenalkan kami berdua.” Mama Bram…

  • Fiction

    Pengakuan # 31

        “Baik, Tante,” sahut  Dania perlahan, sambil mencoba tersenyum. Dia kembali mengarahkan pandangan ke deretan pohon teh yang berbaris rapi. Andai dia terus menatap Mama Bram, air mata pasti mengalir. Sedih sekali saat menyadari  wanita  dihadapannya, tidak akan menjadi mamanya. Mama Bram mengikuti pandangan mata Dania.  Mata itu terlihat kosong, walaupun bibirnya tersenyum. Kantung mata Dania  terlihat agak hitam.  Hatinya terenyuh melihat keadaan Dania. Kata-kata yang sudah dipikirkan sepanjang jalan,  tak mampu  sepatah kata pun bisa terucap. Dia hanya mampu menarik nafas panjang berkali-kali. Belum pernah sekali pun, dia melihat Dania keliatan begitu tertekan  seperti saat ini. Bahkan saat Dania dan Bram bertengkar hebat dan tidak saling menyapa selama…

  • Fiction

    Batas Toleransi # 30

    Sepuluh tahun  dia  mengenal Dania Dia tahu orang seperti apa kekasih anaknya. Dari kaca mata  seorang dokter senior, Dania  seperti buku terbuka baginya. Ada hal-hal sakral yang jadi  harga mati, bagi calom menantunya ini. Di luar nilai-nilai itu, Dania adalah gadis yang memiliki hati paling toleran, yang pernah dikenalnya. Tangannya memijit kepala yang terasa berat. Berat sekali kalau harus kehilangan Dania.     Mama Bram tahu,  Dania  seorang dokter yang sangat kompeten. Ketertarikan dan pengetahuan  Dania tentang bidang-bidang lain yang berhubungan dengan kesehatan, membuat calon menantunya, bisa diajak bicara tentang apa pun. Kecuali politik.  Dania, adik angkatan  luar biasa. Dia tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya, memiliki Dania sebagai calon menantu. Empati…

  • Fiction

    Growing. Not Just Surviving # 29

    Bab Sembilan Growing, Not Just Surviving   Mata Dania terbuka. Sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur’an  dari masjid dekat rumah, membelah keheningan. Lantunan ayat-ayat surat Ar -Rahman  terdengar merdu. Dania memejamkan mata sesaat. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?  Ya nikmat mana lagi yang dia dustakan? Dania memaksakan senyum di wajah.  Dia membuka mata lagi. Tidak seperti biasa, tadi malam  lampu temaram di kedua sisi ranjang  dia matikan. Kamar  gelap gulita. Tidak ada satu benda pun yang bisa dilihat. Dia mengisi perut dengan tarikan nafas panjang. Udara berisi CO 2 dikeluarkan berbarengan dengan lafaz Allah dalam hati. Setelah melakukannya beberapa kali, dengan terus secara sadar bernafas seperti itu, mata…

  • Fiction

    Rengkuhan Keheningan # 28

    “Bukan kegiatan rutin, Dania. Kebetulan ada waktu luang,” sahut Galang sembari menoleh ke arah Dania. “Kalau pas sibuk,  sedikit sulit  bisa nemenin mama.” “Bagaimana kalian bisa bertemu, hari ini?” tanya Mama Dania  penasaran. Matanya menyapu wajah Dania dan Galang bergantian. “Mama kepo …” Dania tertawa kecil. Tangannya menepuk lembut lengan mamanya. Wajah penasaran mama, membuat tawanya berderai. “Tadi siang, saya telpon Dania, Tante …. Kebetulan dia juga sedang tidak sibuk, jadi  kita bisa ketemuan,” Dania mendengar  Galang menjelaskan. “Wah, bagus sekali!” ujar Mama Dania  dengan wajah berseri-seri. “Pertanda baik itu-“ “Mama …!” seru Dania lembut. Tawanya langsung berhenti. “Iya … iya … Mama engga akan ngomong  apa-apa lagi.” Mama Dania…

  • Fiction

    27 Kali Lipat # 27

    Hidung Dania mencium aroma  khas pria. Bau parfumnya enak sekali. Tiba-tiba dia tersadar, dan segera melepaskan pelukannya. “Sorry …  sorry, aku takut  sekali,” ujarnya perlahan. Dia segera menjauh sampai ujung sofa. Syukurlah  lampu dimatikan. Kalau tidak, pasti malu sekali, melihat wajah Galang. “Engga apa-apa. Filmnya memang menakutkan,” sahut  Galang santai. Mendengar nada suara Galang, meredakan rasa malu Dania. Dia kembali melihat layar. Meremas erat cushion yang ada di pangkuannya, saat jantungnya berdebar kencang  karena takut. Dia menarik nafas lega, ketika akhirnya film berakhir. Galang dengan cepat menyalakan lampu. “Filmnya bagus sekali, happy ending lagi,”  ujar Dania, sembari minum air mineral dari botol. “Serem sekali, tapi!. Kalau sendirian, aku pasti sudah…

  • Fiction

    Horor # 26

    “Bukan apa-apa. ” Dania tersenyum lebar, ” …  Tante Miranda lucu, banget ya.” “Kenapa memangnya?” “Iya, katanya mau telpon mama …. Mau izinin  aku pulang telat malam ini …. Sebelum aku sempat ngomong apa-apa, dia sudah putus telfonnya.” Galang  memeluk mamanya erat-erat dalam bayangan mentalnya. Thanks, Ma. I love you, so much. “Maaf ya, mamaku dari dulu seperti itu…. Tidak berubah, sedikit pun. Kalau sudah punya keinginan, suka semaunya sendiri … tapi … mama,  seorang ibu yang luar biasa. Aku beruntung sekali, punya mama, seperti mamaku.“ Dania menggoyang-goyangkan tangannya. “Tidak apa-apa. Jangan minta maaf …. Tante Miranda memang sangat baik …. Sikapnya sama seperti Mama. Hangat, ceria, mudah gembira …”…

  • Fiction

    Porak Poranda Mimpi # 17

    “Tadi pasien terakhir, Dok,” ujar suster begitu, seorang ibu setengah baya keluar dari ruang praktek. “Alhamdulillah, sudah selesai, praktek hari ini.” Dania mulai membereskan barang-barangnya. “Iya, Dok. Pasien Dokter Dania  tambah lama tambah banyak. Katanya tangan Dokter dingin,” ujar suster lagi. “Alhamdulillah, Allah memberikan kesembuhan melalui saya … kenapa suster?” tanya Dania, ketika melihat suster berdiri kebingungan di ambang pintu. “Ade sakit?” Suster menggeleng cepat. “Terima kasih, Dok, sudah perhatian sekali sama keluarga saya … Dokter tidak apa-apa?” tanya suster dengan kekhawatiran yang tidak bisa lagi disembunyikannya. “Yang tadi sebelum praktek?” tanya Dania riang. “Tidak apa-apa, terima kasih sudah mencemaskan saya.” Kepala suster mengangguk kecil berulang kali. “Dokter Dania memang…

  • Fiction

    Selaput Kecewa

    Dania bergegas  berjalan menuju ruang rapat dokter. Muka Bram ditekuk, saat dia masuk ruangan. “Sorry, sudah lama nunggu?” tanya Dania, seraya duduk berhadapan dengan Bram. Dia sudah melebihkan perkiraan jam selesai praktek. tapi tidak diduga, pasien hari ini membludak. “Satu jam, “  sahut Bram sambil melihat arloji. “Waktunya kayaknya sekarang engga pas. Lain kali aja ya, kita ngobrolnya,” tukas Dania, melihat postur tegang tubuh Bram. “Sekarang aja, Dania! Waktu break  shooting aku engga lama. Aku akan lebih sibuk minggu-minggu depan,”  ujar Bram tegas. Dania berpikir sesaat. Dia menarik nafas panjang. Melakukan ini lebih susah, dari pada harus melakukan operasi paru berjam-jam. “Baiklah …. Mama kemarin bilang ke aku, katanya dia…

  • Fiction

    Narsistik

    source Setelah Dania menutup pintu, Bram menghempaskan tubuh ke kursi praktek. Pikirannya melayang ke acara semalam. Bertemu teman-teman lama, membuat  dia  sedikit terhanyut ke suasana saat mereka SMA dulu. Mereka saling mengejek,  membicarakan kejadian-kejadian  yang dialami saat itu. Seburuk apa pun kejadiannya waktu itu, keliatan lucu sekali, saat membicarakannya belasan tahun kemudian. Saat bertemu lagi  dengan Neni, setelah mereka menghabiskan liburan bersama, sikap Neni lebih terbuka padanya. Berita perceraian dengan suaminya  sedang viral. Namun nampaknya wanita itu tidak terganggu sedikit pun. Neni yang dikenalnya saat SMA, sudah kembali. “Untung belum punya anak, ”  sahut Neni santai ketika dia bertanya,  bagaimana perasaannya. Karena mereka memilih tempat di luar dekat taman, tidak…