• Fiction

    Porak Poranda Mimpi # 17

    “Tadi pasien terakhir, Dok,” ujar suster begitu, seorang ibu setengah baya keluar dari ruang praktek. “Alhamdulillah, sudah selesai, praktek hari ini.” Dania mulai membereskan barang-barangnya. “Iya, Dok. Pasien Dokter Dania  tambah lama tambah banyak. Katanya tangan Dokter dingin,” ujar suster lagi. “Alhamdulillah, Allah memberikan kesembuhan melalui saya … kenapa suster?” tanya Dania, ketika melihat suster berdiri kebingungan di ambang pintu. “Ade sakit?” Suster menggeleng cepat. “Terima kasih, Dok, sudah perhatian sekali sama keluarga saya … Dokter tidak apa-apa?” tanya suster dengan kekhawatiran yang tidak bisa lagi disembunyikannya. “Yang tadi sebelum praktek?” tanya Dania riang. “Tidak apa-apa, terima kasih sudah mencemaskan saya.” Kepala suster mengangguk kecil berulang kali. “Dokter Dania memang…

  • Fiction

    Selaput Kecewa

    Dania bergegas  berjalan menuju ruang rapat dokter. Muka Bram ditekuk, saat dia masuk ruangan. “Sorry, sudah lama nunggu?” tanya Dania, seraya duduk berhadapan dengan Bram. Dia sudah melebihkan perkiraan jam selesai praktek. tapi tidak diduga, pasien hari ini membludak. “Satu jam, “  sahut Bram sambil melihat arloji. “Waktunya kayaknya sekarang engga pas. Lain kali aja ya, kita ngobrolnya,” tukas Dania, melihat postur tegang tubuh Bram. “Sekarang aja, Dania! Waktu break  shooting aku engga lama. Aku akan lebih sibuk minggu-minggu depan,”  ujar Bram tegas. Dania berpikir sesaat. Dia menarik nafas panjang. Melakukan ini lebih susah, dari pada harus melakukan operasi paru berjam-jam. “Baiklah …. Mama kemarin bilang ke aku, katanya dia…

  • Fiction

    Narsistik

    source Setelah Dania menutup pintu, Bram menghempaskan tubuh ke kursi praktek. Pikirannya melayang ke acara semalam. Bertemu teman-teman lama, membuat  dia  sedikit terhanyut ke suasana saat mereka SMA dulu. Mereka saling mengejek,  membicarakan kejadian-kejadian  yang dialami saat itu. Seburuk apa pun kejadiannya waktu itu, keliatan lucu sekali, saat membicarakannya belasan tahun kemudian. Saat bertemu lagi  dengan Neni, setelah mereka menghabiskan liburan bersama, sikap Neni lebih terbuka padanya. Berita perceraian dengan suaminya  sedang viral. Namun nampaknya wanita itu tidak terganggu sedikit pun. Neni yang dikenalnya saat SMA, sudah kembali. “Untung belum punya anak, ”  sahut Neni santai ketika dia bertanya,  bagaimana perasaannya. Karena mereka memilih tempat di luar dekat taman, tidak…

  • Fiction

    Proposal # 13

      “Ngomong aja sama Galang, via telpon. Kasih tahu kondisi yang sebenarnya. Ini sih kan sekedar sebuah pemberitahuan. Proposal.” Malik menatap wajah istrinya, yang tampak sumringah. Miranda segera meraih hpnya.   Sambil tiduran di sofa kesayangannya, Galang memencet remote tv. Belum ada siaran yang menarik perhatiannya. Matanya melirik jam dinding. Sudah setengah jam dia berganti-ganti chanel. Pikirannya kembali melayang-layang. Mencerna  informasi  baru. Ternyata …  Dania adalah Nia, gadis manis yang selalu ditarik-tarik rambut panjangnya, saat dia masih SMP. Keinginan untuk menyerah menguap. Dania berasal dari keluarga baik-baik. Nilai tambah wanita itu. Selama belum ada janur kuning melengkung, dia masih punya kesempatan. Dia akan masuk dari titik terlemah Bram. Gawai  Galang…

  • Fiction

    Kuali Hati # 12

    “Hm ….” sahut Dania lembut, “Ada apa, Mama sayang? … Mama tadi makan di mana,  sama Tante Miranda?” “Eh … banyak … napak tilas … Dania … tadi Galang datang. Kamu masih ingat Galang?” “Oh, yang suka  tarik rambut aku dulu ya? …. Masihlah, Ma. Gimana kabarnya dia sekarang? …. Anaknya sudah berapa?” tanya Dania dengan senyum lebar. “Lho! Kok nanyanya begitu?” sungut Mama Dania. “Engga anehlah, Ma! Waktu aku masih SD aja, dia kan sudah SMP …. Dia beberapa  tahun di atas aku. Kalau sudah menikah dan punya anak, ya wajar kan,” sahut Dania,  sembari  membuka pembungkus  plastik buku baru. “Dia belum menikah … punya pacar juga engga.” Dania…

  • Fiction

    Janji Masa Lalu # 11

      “Barusan telpon dari rumah sakit, Tante. Ada kecelakaan beruntun. Banyak  pasien  kritis …  aku harus ke rumah sakit, sekarang,” sahut Dania perlahan. “Engga apa-apa. Pergi aja, Dania, gampang nanti Mama bisa telpon papa,” ujar Mama Dania. “Maaf ya, Ma  … Aku  sudah janji sama Mama mau pergi seharian  … “ Dania memainkan gawainya sesaat. “… rencananya, kami juga akan  mengajak Tante Miranda, nonton di bioskop yang dulu sering didatengin Mama sama Tante Miranda….” Dania melanjutkan, sambil melihat ke arah Miranda, dengan pandangan menyesal. “Aduh sayang,  kali ini, Tante akan menetap di Indonesia. Kita bisa sering ketemuan. Ini kan bukan yang pertama dan terakhir kalinya, kita akan bertemu. Tenang aja,…

  • Fiction

    Transformasi. Untuk siapa? # 10

    source Dania  menarik nafas lega, begitu melihat sosok Bram sedang duduk  di cafetaria.  Laki-laki itu sibuk menulis di laptop. Dia mempercepat langkah. “Sorry, Bram. Baru selesai. Sudah lama?” Dania menarik kursi di hadapan Bram. Bram melihat arlojinya sekilas. “Lumayan,” sahut Bram tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. Tangannya terus sibuk mengetik. “Mau makan apa, Bram?” tanya Dania, begitu melihat hanya ada gelas bekas minum di atas meja. Perutnya keroncongan. “Aku engga bisa lama …. “ Kalimat Bram terhenti, ketika kepala itu akhirnya mendongak. Mata Bram  tidak teralih dari wajahnya. Dada Dania mengembang dengan kebahagiaan. Sudah lama sekali, Bram tidak menatapnya seperti ini. “Aku ganti model rambut. Gimana, pantes engga?” Dania memegang…

  • Fiction

    Dokter Dania # 9

      source Dania  sengaja parkir di  jajaran depan mobil Bram parkir. Dia  menatap mobil Bram, dengan perasaan tidak menentu. Aneh, apa yang kurasakan saat ini? Dania mengeleng-gelengkan kepala. Berusaha mengusir emosi  negatif yang tiba-tiba menyergap. Dia memaksakan  senyum di wajah dan  di  hati. Setelah merasa lebih nyaman  dan tenang, baru tangan Dania meraih handle pintu. Sesaat matanya melihat ke arah spion atas. Senyumnya melebar. Seperti biasa, pasien sudah banyak yang menunggu. Pasiennya lintas usia. Sambil tersenyum, pada para pasien yang sudah duduk rapi di ruang tunggu, dia masuk ruangan. Jam di dinding putih ruang praktek , di atas lemari obat  menunjukkan pukul 8.45. source Alhamdulillah, aku bisa menenangkan diri terlebih…

  • Fiction

    Fashion Lifestyle, Physical Elements

    source Galang membenamkan topi yang digunakannya dalam-dalam. Sudah lama sekali,  dia tidak terjun langsung ke lapangan mengumpulkan data. Tapi riset ini berhubungan langsung dengan persoalan hidup mati. Dia men-stater motor keluaran tahun 2010  yang masih mulus, begitu mobil Dania keluar dari  gerbang rumah sakit. Lalu lintas di jalan, tidak sepadat biasanya. Dengan santai, dia mengendarai motor. Menjaga jarak aman,  hingga bisa tetap melihat mobil Dania. Di jadwal harian, dokter itu akan mengunjungi panti asuhan, yang bersebelahan dengan  tempat praktek pribadinya. Dania jadi donatur tetap di panti asuhan itu. Tempatnya kerja sosial, saat masih jadi mahasiswi kedokteran. Dia membeli lahan luas di sebelah panti asuhan, tidak lama setelah kerja sosial.  Membangun…

  • Fiction

    Silvie Davira

    source   Silvie Davira mengetuk  pintu ruangan lembut. Dia membuka handle pintu perlahan ketika suara di dalam menyuruh masuk. Matanya langsung mendapat sosok tubuh tinggi atletis berdiri membelakanginya. Alis Silvie terangkat sedikit, melihat pakaian yang dikenakan bosnya, ketika tubuh tegap tanpa lemak itu berbalik. Jeans belel, kemeja biru polos yang mulai pudar, ditekuk di bawah siku. Dia menghela nafas, tetap saja tidak mengurangi daya tarik pria itu. “Silakan duduk, Silvie,” Galang ikut duduk di kursi di belakang meja kerja. “Terima kasih, Pak,” Silvie mengangguk seraya tersenyum. “Jangan panggil aku, Pak, kalau kita hanya berdua,” Kening Galang mengernyit sedikit. “Maaf, kebiasaan. Bagaimana rencana bisnis yang aku ajukan?” Silvie duduk tegak di…