• Fiction

    Proposal # 13

      “Ngomong aja sama Galang, via telpon. Kasih tahu kondisi yang sebenarnya. Ini sih kan sekedar sebuah pemberitahuan. Proposal.” Malik menatap wajah istrinya, yang tampak sumringah. Miranda segera meraih hpnya.   Sambil tiduran di sofa kesayangannya, Galang memencet remote tv. Belum ada siaran yang menarik perhatiannya. Matanya melirik jam dinding. Sudah setengah jam dia berganti-ganti chanel. Pikirannya kembali melayang-layang. Mencerna  informasi  baru. Ternyata …  Dania adalah Nia, gadis manis yang selalu ditarik-tarik rambut panjangnya, saat dia masih SMP. Keinginan untuk menyerah menguap. Dania berasal dari keluarga baik-baik. Nilai tambah wanita itu. Selama belum ada janur kuning melengkung, dia masih punya kesempatan. Dia akan masuk dari titik terlemah Bram. Gawai  Galang…

  • Fiction

    Kuali Hati # 12

    “Hm ….” sahut Dania lembut, “Ada apa, Mama sayang? … Mama tadi makan di mana,  sama Tante Miranda?” “Eh … banyak … napak tilas … Dania … tadi Galang datang. Kamu masih ingat Galang?” “Oh, yang suka  tarik rambut aku dulu ya? …. Masihlah, Ma. Gimana kabarnya dia sekarang? …. Anaknya sudah berapa?” tanya Dania dengan senyum lebar. “Lho! Kok nanyanya begitu?” sungut Mama Dania. “Engga anehlah, Ma! Waktu aku masih SD aja, dia kan sudah SMP …. Dia beberapa  tahun di atas aku. Kalau sudah menikah dan punya anak, ya wajar kan,” sahut Dania,  sembari  membuka pembungkus  plastik buku baru. “Dia belum menikah … punya pacar juga engga.” Dania…

  • Fiction

    Janji Masa Lalu # 11

      “Barusan telpon dari rumah sakit, Tante. Ada kecelakaan beruntun. Banyak  pasien  kritis …  aku harus ke rumah sakit, sekarang,” sahut Dania perlahan. “Engga apa-apa. Pergi aja, Dania, gampang nanti Mama bisa telpon papa,” ujar Mama Dania. “Maaf ya, Ma  … Aku  sudah janji sama Mama mau pergi seharian  … “ Dania memainkan gawainya sesaat. “… rencananya, kami juga akan  mengajak Tante Miranda, nonton di bioskop yang dulu sering didatengin Mama sama Tante Miranda….” Dania melanjutkan, sambil melihat ke arah Miranda, dengan pandangan menyesal. “Aduh sayang,  kali ini, Tante akan menetap di Indonesia. Kita bisa sering ketemuan. Ini kan bukan yang pertama dan terakhir kalinya, kita akan bertemu. Tenang aja,…

  • Fiction

    Transformasi. Untuk siapa? # 10

    source Dania  menarik nafas lega, begitu melihat sosok Bram sedang duduk  di cafetaria.  Laki-laki itu sibuk menulis di laptop. Dia mempercepat langkah. “Sorry, Bram. Baru selesai. Sudah lama?” Dania menarik kursi di hadapan Bram. Bram melihat arlojinya sekilas. “Lumayan,” sahut Bram tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. Tangannya terus sibuk mengetik. “Mau makan apa, Bram?” tanya Dania, begitu melihat hanya ada gelas bekas minum di atas meja. Perutnya keroncongan. “Aku engga bisa lama …. “ Kalimat Bram terhenti, ketika kepala itu akhirnya mendongak. Mata Bram  tidak teralih dari wajahnya. Dada Dania mengembang dengan kebahagiaan. Sudah lama sekali, Bram tidak menatapnya seperti ini. “Aku ganti model rambut. Gimana, pantes engga?” Dania memegang…

  • Fiction

    Dokter Dania # 9

      source Dania  sengaja parkir di  jajaran depan mobil Bram parkir. Dia  menatap mobil Bram, dengan perasaan tidak menentu. Aneh, apa yang kurasakan saat ini? Dania mengeleng-gelengkan kepala. Berusaha mengusir emosi  negatif yang tiba-tiba menyergap. Dia memaksakan  senyum di wajah dan  di  hati. Setelah merasa lebih nyaman  dan tenang, baru tangan Dania meraih handle pintu. Sesaat matanya melihat ke arah spion atas. Senyumnya melebar. Seperti biasa, pasien sudah banyak yang menunggu. Pasiennya lintas usia. Sambil tersenyum, pada para pasien yang sudah duduk rapi di ruang tunggu, dia masuk ruangan. Jam di dinding putih ruang praktek , di atas lemari obat  menunjukkan pukul 8.45. source Alhamdulillah, aku bisa menenangkan diri terlebih…

  • Fiction

    Fashion Lifestyle, Physical Elements

    source Galang membenamkan topi yang digunakannya dalam-dalam. Sudah lama sekali,  dia tidak terjun langsung ke lapangan mengumpulkan data. Tapi riset ini berhubungan langsung dengan persoalan hidup mati. Dia men-stater motor keluaran tahun 2010  yang masih mulus, begitu mobil Dania keluar dari  gerbang rumah sakit. Lalu lintas di jalan, tidak sepadat biasanya. Dengan santai, dia mengendarai motor. Menjaga jarak aman,  hingga bisa tetap melihat mobil Dania. Di jadwal harian, dokter itu akan mengunjungi panti asuhan, yang bersebelahan dengan  tempat praktek pribadinya. Dania jadi donatur tetap di panti asuhan itu. Tempatnya kerja sosial, saat masih jadi mahasiswi kedokteran. Dia membeli lahan luas di sebelah panti asuhan, tidak lama setelah kerja sosial.  Membangun…

  • Fiction

    Silvie Davira

    source   Silvie Davira mengetuk  pintu ruangan lembut. Dia membuka handle pintu perlahan ketika suara di dalam menyuruh masuk. Matanya langsung mendapat sosok tubuh tinggi atletis berdiri membelakanginya. Alis Silvie terangkat sedikit, melihat pakaian yang dikenakan bosnya, ketika tubuh tegap tanpa lemak itu berbalik. Jeans belel, kemeja biru polos yang mulai pudar, ditekuk di bawah siku. Dia menghela nafas, tetap saja tidak mengurangi daya tarik pria itu. “Silakan duduk, Silvie,” Galang ikut duduk di kursi di belakang meja kerja. “Terima kasih, Pak,” Silvie mengangguk seraya tersenyum. “Jangan panggil aku, Pak, kalau kita hanya berdua,” Kening Galang mengernyit sedikit. “Maaf, kebiasaan. Bagaimana rencana bisnis yang aku ajukan?” Silvie duduk tegak di…

  • Fiction

    Ambang Batas Harapan # 4

    Dering gawai membuyarkan lamunan Galang. Dia langsung matikan, begitu nomor tidak dikenal muncul di layar. Pandangannya tertuju pada novel kucel di atas meja. Novel itu dimainkan di antara jemari tangan kanan. Pembatas buku yang dibuatnya dari edelweis kering terjatuh. Dahinya berkerut dalam. Kintan benar. Novel ini merubah hidupnya. Masa menyepi dan kerja gilanya, hanya ditemani novel-novel karya Rory Valda Pradakian. Selain semua buku, diklat, seminar,  dan mentor yang dia butuhkan. Mengenal Rory Valdi Pradakian, melalui belasan novel karya novelis itu, membuat emosinya lebih stabil. Rasa bersalah sedikit demi sedikit terkikis. Semangatnya mulai tumbuh. Walaupun sikapnya tidak banyak berubah, sesuatu dalam dirinya tumbuh dan berkembang. Setelah bencana itu. Hanya percayanya sudah…

  • Fiction

    Kapan Kamu Kawin?

    source dr. Dania Nur Salsabila Sp. PD duduk bersandar pada headboard. Dia mematikan siaran ulangan talkshow kesehatan,  setelah presenter acara, dr. Bram Bagaskoro Sp.B, mengucapkan kalimat penutup. Tangannya mengambil gawai dan  bundel agenda mingguan dari nakas. Pertama memeriksa gawai. Pesannya semalam sudah dibaca. Belum dibalas. Bram memang sangat sibuk belakangan ini, hibur Dania pada diri sendiri. Karirnya sebagai presenter di acara  Healthy Talkshow sangat cemerlang. Penampilan dandy dan bawaan lahir pandai membawa diri, sangat menunjang karir baru Bram di dunia entertainment. Kenapa sih Bram belakangan ini seperti menjauh darinya? Dania, kamu sendiri punya rahasia, yang tidak kamu beritahu Bram. Engga adil dong, kamu nuntut, sesuatu yang engga bisa kamu kasih…

  • Fiction

    Warisan Cinta # 3

    “Adik Kintan kejang-kejang!” Sebuah teriakan keras lain,  menghentikan ayunan tangan Galang. Dia menoleh ke arah lubang yang mulai tertutup rata dengan tanah yang dipijaknya. “Serahkan pada kami, Lang!” sebuah suara terdengar. Galang mengangguk. Dengan langkah gontai,  dia berjalan mendekati kerumunan yang sedang mengelilingi adik Kintan. “Kakak! Kakak!” teriak  Adik Kintan histeris. Galang segera menghampiri ranjang  rumah sakit. “Kenapa aku pakai baju ini?” Mata Adik Kintan melotot ke arah Galang. “Tenang, Silvie! … namamu Silvie, kan?” tanya Galang setelah mendapat pelototan mata Silvie. Tangan Silvie menggenggam erat atasan rumah sakit yang dikenakannya. “Bajumu basah, saat sampai di rumah sakit. Suster yang mengganti bajumu.” Wajah Silvie nampak  sedikit lega. “Aku mau pulang!”…