• Fiction

    Jatuh Cinta # 26

    Mara hanya menjawab pertanyaan Nendo dengan anggukan kepala. Nendo melirik, ketika sekilas melihat tangan Mara gemetar. Gadis itu meremas tangan di pangkuannya. Muka gadis itu nampak kuyu. Beberapa kali kepalanya terantuk kaca jendela samping. “Istirahat saja, Mara. Tidurlah.” “Itu kan tidak  sopan!” tukas Mara lirih. Dia menoleh ke arah Nendo, dengan kelopak mata sengaja dilebarkan. “Saya tidak mengantuk.” Nendo tersenyum dalam hati. “Tidak  apa-apa, sekarang kan darurat.” “Bener, Pak?” Melihat dia mengangguk, Mara segera berkata, “Terima kasih, Pak Nendo. Maaf ya, Pak.”  Dia menyandarkan kepala ke belakang. Tak lama kemudian gadis itu tertidur. Nendo menurunkan sandaran jok, hingga dia melihat Mara  rebah dengan  nyaman. Tiba-tiba hp Nendo berdering, “ Iya.…

  • Fiction

    Cerita Mudik

    Bab Enam Ambang Asa source Dengan langkah bergegas, Nendo menghampiri  Mara, yang sedang duduk  dengan wajah kebingungan di pos jaga satpam kantor. Kepala Mara sedang menatap langit, hingga tidak menyadari kehadirannya. “Mara, kenapa masih di sini?” tanya Nendo dengan alis bertaut. “Bukannya kamu sudah pulang  kampung dua hari  lalu?” Mara menoleh ke arah Nendo  dengan wajah kaget.  “Pak Nendo!   Saya  belum dapat bis, Pak,” sahut Mara dengan senyum lemah di bibirnya. “Bapak belum mudik?” “Saya baru  mau berangkat … ada dokumen  yang tertinggal di kantor,” tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala Nendo. “Sebentar, jangan kemana-mana! Saya  ke dalam dulu.” Mara mengangguk seraya berdiri. “Saya sekalian mau isi air mineral,” ujar…

  • Fiction

    Langkah Demi Langkah # 24

    “Iya.” Tubuh Nendo menegang. Walaupun sudah memprediksi Mara akan menanyakannya, tak urung, hatinya berdebar-debar juga. Yaa  dzal jallali wal ikram … yaa dzal jallali wal ikram  …. Tanpa henti ia terus mengucapkannya dalam hati. Mara mengangguk dengan wajah kebingungan. “Kenapa, Mara?” Dia harus mendapatkan kepercayaan Mara lagi. “Bapak sengaja melakukan semua itu?” Ketika melihat Alis Nendo terangkat, Mara melanjutkan,”Saya dapat inventaris motor, gaji sebelum bekerja, dibuatkan SIM A dan C.” “Tidak seperti itu, “ Nendo menggelengkan kepala untuk menegaskan maksudnya. “Pelatihan dan reward  sudah direncanakan  jauh sebelumnya.  Saya tidak membocorkan soal, bukan? … dan siapa pun yang mendapat nilai tertinggi, akan mendapat perlakuan yang sama sepertimu,” Nendo berusaha mengalihkan pembicaraan.…

  • Fiction

    Bersahabat dengan Ketidakpastian # 23

    Dari ekor matanya, Nendo melihat Mara berbincang  sangat akrab dengan Heri. Latihan pengendalian diri belasan tahun dan ketahanan mental  mengarungi pasang surut bisnis-bisnisnya, yang membuatnya bisa tetap mengajar maksimal dengan santai. Sepulang mengajar, dia pasti melakukan olahraga indoor sampai tidak bisa bangun. Bayangan Mara dan Heri  yang berdiskusi dengan hangat terus berputar di otaknya. Saat memukul samsak, wajah muda Heri melekat di sana.  Mereka punya hubungan khusus? Dahi Nendo berkerut dalam. Kenapa aku marah sekali, melihat mereka berdua sangat akrab? source Dengan sigap, Mara menuliskan semua hal yang dirasanya penting. Ia sangat tertarik mempelajari materi ini. Pak Nendo benar.  Orang terkaya di kampungnya, Papa Nida, punya usaha sendiri. Memiliki showroom …

  • Fiction

    Kartu As # 22

    “Ma …kenapa sih Mara harus tinggal di sini?” Lestari mengempaskan diri ke sofa di kamar mamanya. “Kenapa memang?” sahut Bude Parman tanpa mengangkat wajah dari buku sketsanya. Tangannya dengan lincah, menari menciptakan rancangan sebuah gaun malam. Dia tersenyum puas.  Kemampuan artistik lagi-lagi jadi tangga naik untuknya. “Teman-teman aku suka nanyain dia, kalau mereka  pas ke sini,  ketemu dia,” seru Lestari dengan wajah merengut. Menyebalkan sekali, anak kampung mati gaya itu, bisa mengalihkan perhatian teman-teman hang outnya dari dirinya. source “Kok bisa ketemu?” tanya Bude Parman dengan dahi berkerut. Bude Parman membalikkan badan ke arah Tari. Kerutan dahinya menghilang. Berganti senyum bangga. Matanya menangkap sosok wanita muda cantik dan segar. Pilihan…

  • Fiction

    Peluang Tersembunyi # 21

    Bude Parman berbaring dengan pandangan menerawang. Rekaman kejadian hari ini  terulang lengkap dengan jelas di pelupuk mata. Total tanah Tama di daerah itu 32 ha. Sebagian besar dibiarkan sebagaimana adanya, setelah dia melakukan penanaman  puluhan ribu batang pohon, di beberapa daerah yang sudah rusak. Dia juga memberikan pilihan pada masyarakat sekitar, untuk bekerja di lahannya, atau menyewakan lahan pada mereka. Dengan full support alat pertanian, pupuk, dan para penyuluh terbaik. Tama hanya menggunakan sebagian kecil  lahan. Tanah yang digunakan dibagi menjadi beberapa bagian. Bungalow-bungalow mewah yang disewakan dalam dolar. Lengkap dengan fasilitas-fasilitas kekinian tercanggih, yang ramah lingkungan. Café dan resto, yang tidak pernah sepi pengunjung. Karena selain lokasi indah, makanan…

  • Fiction

    Ramuan Emosi

    Kaki supir Bude Parman menginjak rem perlahan. Jam pulang kantor, jalan menuju rumah majikannya seperti biasa selalu macet.   Kepalanya meneleng ke jalan yang berlawanan arah dengan mobil mereka. “Mbak Mara lagi belajar setir mobil,” ujar supir Bude Parman. Mobil yang dikendarai Mara berhenti  di antrian lampu merah. Bude Parman mengikuti arah telunjuk supirnya. Mara duduk tegang di balik kemudi. Amarahnya memuncak. Lengkap sudah alasan untuk histeris. source   Tama membatalkan rencana pesta syukuran ulang tahun ke-30. Padahal dia sudah menyiapkan segala sesuatu. Anak kampung itu sudah tidak sekampung saat pertama dia datang. Parman bodoh itu, lebih sering di rumah belakangan ini. “Kapan dia belajar mobil?” tanya Bude Parman marah. “Saya…

  • Fiction

    Afirmasi # 19

    source   “Masih,” jawaban semangat Mara membuat kepala Nendo menoleh ke arah gadis itu. Nendo kembali ke tempat duduknya.  Sepasang mata yang ditatapnya, mengungkapkan rasa terima kasih yang sangat mendalam. Dadanya menggelembung dengan kepuasan aneh. “Terima kasih banyak, Pak, untuk  pinjaman kartu perpus   waktu itu,” sahut Mara. Nendo tersenyum senang,  gadis itu berani menatap matanya, saat mereka berbicara.“Pinjem buku apa?” Di wajah Mara tersungging senyum kecil. “Sejenis selfhelp,  Pak.” Lagi-lagi dahi Nendo terangkat sedikit. “Kenapa milih buku  itu?” Wajah Mara merona. Dia tersenyum seraya kembali melihat mata Nendo,  terlihat berpikir sesaat, “Dari semua yang harus dilakukan, yang paling saya butuhkan saat ini adalah pengembangan diri.” source “Pengembangan diri, kenapa?”…

  • Fiction

    Memahat Hidup # 17

    “Gajimu bulan ini .” Tangan Mara yang membuka tas kertas itu  terhenti. “Saya kan belum mulai kerja?” Dia mengembalikan  tas kertas   itu pada Pakde Parman. “Tidak  apa-apa. Bukan uang Pakde … ini atas perintah Pak Tama juga.” Pakde Parman mengambil tangan Mara, kemudian menyerahkan tas  itu kembali. “Kamu engga usah ngomong apa-apa sama Bude. Budemu tidak  tahu masalah ini.” Mara mengangguk perlahan. Pandangan Mara  menerawang  langit biru. Pakde Parman, selalu mentaati perintah Pak Tama. Bude Parman sendiri tidak berani menentang keputusan Pak Tama. Seperti apa Pak Tama? Galakkah Pak Tama? Pasti Pak Tama laki-laki tua bertubuh besar berwajah sangar, kalau Bude Parman yang tinggi besar dan sangat galak saja, …

  • Fiction

    Buhul (Tali) yang Kukuh # 17

    Untuk ke sekian kali, Mara membaca surat itu. Lama kelamaan tulisan Tuti semakin kabur. Mara menghapus airmatanya. Ayah sakit. Mama tidak bisa bawa ke dokter, karena tidak punya uang. Nafasnya terasa sesak. Kalau menuruti kata hati, ingin sekali dia langsung pulang kampung. Mama pasti sangat repot. Bikin kue untuk jualan. Ngurus Ayah. Tapi dia tidak punya uang sepeser pun. Bekal dari mama sudah habis untuk membeli keperluan pribadi. Syukurlah dia bisa jalan kaki ke tempat kursus. Kadang Kak Heri suka mengantar, kalau pulang dari  tempat les, dia menengok ibu Kak Heri yang sakit-sakitan. Ibu Kak Heri suka ngobrol dengannya. source Mara tidak berani minta uang pada Pakde Parman. Dia  membaringkan…