• Fiction

    Prolog # 1

    Galang memperhatikan kelompok-kelompok yang sedang mempersiapkan presentasi akhir tugas mereka. Wajah-wajah cerah dan penuh semangat, beredar di aula itu. “Bagus Galang. Terima kasih banyak, kuliah kerja nyata kali ini, sangat bermanfaat bagi warga desa,” ujar Pak Kades, yang berdiri di sebelahnya. “Program-program yang dilaksanakan,  mampu jadi pemicu perkembangan ekonomi dan sosial desa.” “Alhamdulillah, Pak. Kalau sedikit ilmu kami bisa— “ Galang menghentikan kalimatnya, ketika ada yang meneriakkan namanya. Matanya mencari asal suara. “Galang! Galangggg! Di mana kamu!” Seorang anggota kelompoknya berdiri di ambang pintu masuk, dengan nafas terengah-enggah. “Maaf, Pak, sebentar,” ujarnya pada Pak Kades, setelah aula itu menjadi hening. “Silakan! Silakan!” Pak Kades lanjut berkeliling ditemani Pak Sekdes. Galang…

  • Fiction

    Dania, Doctor with Holistic Lifestyle Concept. I Want My Life, A Romance Novel by Cici SW

    Saya ingin mulai belajar menulis novel lagi. Mempertimbangkan berbagai hal dan masukan, pilihan jatuh pada sebuah karya dengan judul ‘Dania’. Berikut  sinopsis novel Dania. I WANT MY LIFE Rasa bersalah karena tidak mendampingi saat-saat terakhir kekasihnya,  membuat Galang Fatihuddin mengunci hati. Menenggelamkan diri pada passionnya,  ia mengambil master business di Cambridge. Berbekal warisan sebuah novel  karya Rory Valdi Pradakian, yang dititipkan pada Silvie,  saudara kembar almarhumah. Dania, seorang internis,  memilih praktek sebagai dokter umum. Karena tidak suka dipuji orang, ia  menyembunyikan profesi lainnya pada keluarganya. Setelah delapan tahun menjalin hubungan dengan Bram, teman kuliah satu angkatan, ia  ingin  melanjutkan hubungan ke tingkat yang lebih serius. Mama Dania dan Mama Galang,…

  • Fiction

    Doa Hati di Keheningan Jiwa # 65 Episode Terakhir

    Bab Tujuh Belas Doa Hati di Keheningan Jiwa source “Kenapa baru memberitahuku sekarang?” tanya Mara dengan nada lembut  menegur. “Aku ingin kau benar-benar pulih, sebelum mendengar semua cerita ini,” Nendo menatap mata Mara  penuh kasih. Mara menghela nafas. “Sebenarnya, aku kasihan pada Tari.” “Ya, aku tahu … kalau tidak, kau tidak akan mengakui Tari sepupumu, ketika teman-temanku mulai membicarakannya.” Wajah Mara menunduk. Ia sudah membaca diary almarhumah Tari. Tulisan-tulisannya seperti jeritan minta tolong, walau ia menuliskan kemenangan-kemenangan di dalamnya. Karena nama Mara banyak disebut, di awal penulisan diary, Pakde Parman menyerahkan diary itu pada Mara. “Tari sedang hamil?” Matanya menatap jauh ke samudera luas. “Ya …. beruntung Pakde Parman mengetahui…

  • Fiction

    Buah Keputusan dan Tindakan # 64 (2 Episode Terakhir)

    Ketika Bude Parman dan Tari memasuki kamar Mara, Nendo ada di dalam. Tiba-tiba gawai  Nendo berbunyi. “Maaf, saya akan terima di luar.” “Silakan, Nendo … kami juga tidak akan lama … mau pamitan aja, sama Mara,” ujar  Bude Parman dengan perasaan luar biasa gembira. Semuanya seperti sudah diatur  di  atas nampan emas baginya. “Bude,” Mara memaksakan senyum. source “Tidak usah bangun, Mara. Maaf baru sempat datang,” ujar  Bude Parman. Ia mengeluarkan gelas berisi minuman dari balik bajunya, kemudian meletakkannya di meja kecil, di samping ranjang besar Mara. “Bagaimana perasaanmu? Masih pusing?” tanya Bude Parman penuh perhatian. Tari mengerutkan alisnya, mendengar suara mamanya  sangat lembut. Dia tidak pernah mendengar mamanya berkata…

  • Fiction

    Keberuntungan VS Kesempatan Terakhir # 63 (3 Episode Terakhir)

    Dia menemukan Ima sedang duduk menangis  di dahan  sebuah pohon besar. “Ima! Ayo, turun sayang!” ujar  Mara dengan nada membujuk. “Engga mau! Mama jahat!” “Mamamu kenapa?… ayo sayang, turun dulu!” “Engga mau! Mama bohong!” “Bohong kenapa? Ayo! Ima turun dulu, ceritain  ke  Mbak!.”   source Mara memandang langit yang berawan hitam tebal dengan khawatir. Angin kencang menerbangkan rambutnya. “Ima, ayo turun!” Gemuruh suara hujan terdengar di kejauhan. Tiba-tiba tetesan hujan menyentuh kulit Mara. “Aku engga bisa turun!” teriak Ima  ketakutan di sela tangis kerasnya. “Ya sudah. Kamu di situ saja! Mbak yang naik,” Baru selangkah kaki Mara bergerak, dia mendengar suara derak pohon. “Loncat, sayang! Dahannya mau patah!” seru Mara…

  • Fiction

    Jalan Pintas # 62

    Bab Enam Belas Jalan Pintas Mara yang baru saja mengantar suaminya berangkat kerja  berpapasan dengan Ima. Gadis kecil berkuncir dua, yang berjalan dari bagian rumah yang ditempati keluarga Bude Parman, mengenakan pakaian renang. Wajah murung  dan bahu menurun anak itu, entah kenapa menimbulkan rasa ibanya. “Ima mau berenang?” tanya Mara lembut. Ima membuang mukanya. Terus berjalan. Melihat tubuh Ima yang keliatan lesu, insting  Mara  menyuruhnya  mengikuti gadis kecil itu. “Kalau Ima mau, Mbak bisa ajarin Ima berenang.” Langkah Ima terhenti. Sudah berkali-kali istri papanya mencoba berteman dengannya. Baik saat papanya ada, maupun saat papa tidak ada di dekat mereka. Tapi  lebih sering saat papa tidak di rumah. Seperti saat ini.…

  • Fiction

    Indahnya Persahabatan # 60

    source Waktunya berganti tempat. Ia berjalan melalui tempat duduk Burhan. “Mara, kenalkan ini Burhan … Ini Mara, istriku.” Burhan yang sedang menjabat tangan Mara, melihat Nendo dengan alis berkerut. “Hehehe, masih muda ya,” komentar Nendo dengan senyum lebar. “Gue kirain ponakan loe yang lain,” sahut Burhan seraya kembali mengarahkan pandangannya pada Mara. “Kenapa mau, kawin sama om-om?” tanyanya serius pada Mara. “Sialan loe... makin tua makin banyak santennya, lagi!  Eh, lepasin tuh tangan!” seru Nendo ketika melihat Mara berusaha melepaskan tangannya dengan sopan, namun Burhan masih belum melepaskannya. “Sorry, lupa!” Burhan cengar-cengir sendirian. “Lagi imbang nih. Kita main satu set lagi dulu, ya,” ujar  Nendo dengan suara penasaran. Mara melihat…

  • Fiction

    Langkah Hati # 59

    Bab Lima Belas Langkah Hati “Kita mau kemana, Mas ?” tanya Mara, sesaat setelah mereka keluar gerbang rumah, dan melaju di tengah padatnya lalu lintas. source “Kau sering sekali  mendengarkan sound musik tentang  pantai. Aku akan mengajakmu ke sana …  tempat aslinya… tapi karena teman-temanku akan datang nanti sore … kita akan ke lokasi terdekat.” Nendo menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Tangannya meraih tangan Mara. Dia mencium lembut punggung tangan istrinya. “Ada apa, Mas?” “Hm,” sahut Nendo lirih. “Bukan sifatmu, ingin menunjukkan apa yang kau miliki?” desak Mara lembut. Wajah Mas Nendo tidak seperti biasanya. Yang sedang dilihatnya saat ini dari samping, wajah yang tidak menampilkan emosi apa pun. Sesuatu…

  • Fiction

    Kepastian dari Sisi Manusia # 58

    “Aku tidak punya pakaian yang pantas untuk acara-acara malam,” ujar  Lestari dengan wajah dibuat sedikit bingung. Selalu berhasil, membuat setiap laki-laki, meluluskan permintaannya. source Nendo memperhatikan  wajah Tari  yang full makeup sejenak. “Belilah sesuatu untukmu. dan Bude Parman sekalian. Minta uangnya sama Pakde Parman. Kalian boleh memakai mobil yang mana saja. Cuma Audi dan Dini tidak boleh dipakai, ya! Itu khusus untuk Mara.” Dia langsung membalikkan badan, setelah sekali lagi, memastikan telah memberikan senyum andalan pada Tari. Berhasil! Nendo  luluh padanya. Bibirnya yang sedang tersenyum lebar, langsung mengerucut, melihat Nendo  berjalan menjauh. Rasa marah dan irinya pada Mara  memuncak. Ia ingin memiliki Nendo. Dia  akan memintanya, pada mama. Mama pasti…

  • Fiction

    Canda Maut dengan Keserakahan # 57

    source “Apa yang sudah terjadi?” teriak Nendo sambil menggebrak meja. Jamie, sekretaris Nendo  yang ingin mengabarkan kedatangan para direkturnya, langsung menutup pintu ruangan bosnya. Namun mereka semua sempat mendengar teriakan Nendo. “Keliatannya sekarang bukan waktu yang tepat,”   Jamie  tersenyum minta maaf. Rencananya ia ingin memberikan kejutan pada Pak Nendo. Ternyata,  dia sendiri yang mendapat kejutan. Dia tidak pernah melihat bosnya semarah itu. Ia pun tidak mengenal pria  yang berdiri di depan Nendo, dengan topi yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Padahal dia sudah mendampingi Pak Nendo, sejak perusahaan ini berdiri. Siapa laki-laki yang ada di dalam ruangan Pak Nendo? “Baiklah, kami akan kembali, nanti, ” sahut Pak Amir. Dengan segera,…