• Uncategorized

    Berubah Warna # 25

    “Lama sekali  kita tidak bertemu … bagaimana kabarmu?” tanya Galang memecahkan kesunyian. “Alhamdulillah,  baik sekali. Bagaimana kabarmu sendiri selama ini?” “Alhamdulillah. Keliatan baik sekali kan,” ujar Galang sambil tersenyum lebar. Tatapannya tidak lepas dari wajah Dania. “Sekarang kamu engga takut lagi sama aku. Dulu kamu selalu takut melihatku. Kenapa?” “Kamu selalu narik-narik rambut aku, saat mama dan Tante Miranda tidak tahu …. Sakit  tahu! …. Dan wajahmu selalu menyeringgai  aneh, begitu melihatku. Benar-benar  mengerikan ….” Kening Dania berkerut dalam, mengingat kenangan di memorinya. “Biasanya orang selalu tersenyum dan bersikap baik ke aku …. Kamu aneh, dihadapan mereka berdua kau bersikap baik padaku …. Begitu mereka tidak melihat, wajahmu  berubah aneh…

  • Uncategorized

    Kebetulan? # 24

    “Iya…” Galang segera mematikan gawai. Dia berjalan mendekati Dania. Hati Dania tiba-tiba berdebar. Bagaimana mungkin bisa terjadi? Apa artinya ini? Apakah ini pertanda …. Jarak mereka semakin dekat. Dania melihat seorang laki-laki yang sangat menarik berjalan mendekatinya. Mengenakan kaos putih dengan jeans coklat muda. Kacamatanya sudah dilepaskan. Gelombang kecil rambut yang terpangkas rapi, dimainkan  angin yang bertiup sedikit kencang. Dari jauh, Galang terlihat seperti cake yang sangat lezat. Semakin dekat, profil wajahnya semakin jelas. Wajah Laki-laki  itu terlihat sangat cerah. Sepasang mata sangat tajam, namun bersinar lembut. Mencirikan kecerdasan. Alis tebal dan hitam, terlihat serasi dengan matanya. Di bibirnya, tersungging  senyum ramah. Seluruh wajah dan penampilannya, terlihat menenangkan. Berbeda sekali…

  • Uncategorized

    Riak Putih di Senja Kelabu

    Dania menatap langit yang berhias awan hitam. Mendung membayangi sore itu. Angin bertiup kencang. Ombak besar menjilat bibir pantai.  Pantas seharian  panas sekali. Gumpalan awan-awan hitam berserakan di kaki langit. Laut selalu membuatnya jatuh cinta sekaligus takut. Melihat hamparan air, memberi rasa berkelimpahan dalam dirinya. Melihat laut marah, timbul rasa takut dan tidak berdaya. Benar-benar merasa jadi seorang makhluk, tanpa daya upaya. Ketika kembali menyusuri pantai menuju pondoknya, Dania melihat seorang laki-laki berkacamata hitam sedang duduk di sebuah  ayunan yang sangat nyaman. Sejak tadi, wajahnya tidak beralih dari laut. Tampaknya orang itu juga sedang membutuhkan ketenangan. Dia mengalihkan pandangannya  kembali ke laut lepas. Di tepi pantai, di depan pondoknya, meja…

  • Uncategorized

    Problem Solver

    Saat harus buka internet, judul-judul artikel memikat, tentang dua calon presiden, membuat hati saya melow. Jarang sekali berita baik. Tidak tahu, mana berita yang benar. Jadi saya  berdoa, “Ya Allah, tempatkanlah pemimpin yang baik di negara kami. Sesungguhnya, Engkau sebaik-baik yang menempatkan.” Saya terus baca, sampai tekanan di hati mereda. Ternyata manusia itu sangat menarik. Selain minat dan bakat, lingkungan selama bertahun-tahun, keyakinan, impian,  membentuk kita menjadi sebuah pribadi. Saya ingin tahu siapa Cici yang sebenarnya. Dari sini, sebuah perjalanan baru bisa dirancang. Saya ikut  dua kali  test sidik jari. Dari dua lembaga berbeda. Hasilnya saling melengkapi. Tapi masih ada yang mengganjal pikiran. Kenapa saya sering sakit perut? Sering pusing?…

  • Uncategorized

    Ide Gila # 22

    Entah kenapa, rasa menu favoritnya lebih enak dari biasa. Setelah memakan semua yang terhidang, dia segera meminta meja dibersihkan. Tiba-tiba sebuah ide melintas. Dia bergegas  meraih kunci mobil. “Kalau Mama mau, malam Minggu depan, aku mau menerima  keluarga Tante Miranda. Tapi karena kami masing-masing sudah dewasa, aku harap Mama dan Tante Miranda tidak terlalu banyak berharap. Mungkin Galang juga sudah punya kekasih dan akan menikah juga. Biarkan semuanya mengalir, itu syaratnya, gimana ?” tanya Dania tanpa jeda, dengan nada dibuat sesantai mungkin, sesampainya di rumah. Seolah takut, ide itu akan menghilang. Mama Dania terdiam, Memandang Dania dengan pandangan  tidak percaya.  Tiba-tiba dia  memeluk Dania dengan mata berkaca-kaca. Sampai sejauh ini,…

  • Uncategorized

    Kisah Sang Penguntit # 21

    Dania menatap deburan ombak di hadapannya. Sudah seminggu sejak dia melihat foto Bram. Batasan waktu yang dimintanya pada Bram. Syarat agar dia mau menemui laki-laki itu, berakhir hari ini. Dania menaikkan kerah jaket yang dikenakannya. Mama tidak pernah  menyinggung, tentang janjinya pada Tante Miranda. Walaupun mama tidak mengatakan apa-apa, Dania tahu, hal itu  mengganjal hati mamanya. Dia menarik nafas panjang. Membuat mama bahagia, jadi  salah satu prioritas utama hidupnya. Apa yang harus aku lakukan?  Sore itu langit sangat cerah. Angin bertiup tidak terlalu kencang. Selain menyajikan menu-menu lezat, cafe tepi pantai ini, memiliki pemandangan sunset yang luar biasa indah. Tidak heran, pengunjung selalu memenuhi tempat ini. Kepalanya menoleh ke kiri…

  • Uncategorized

    Kesadaran Pagi # 20

    Sayup-sayup ia mendengar suara Bram bicara dengan mamanya. Tak lama kemudian mama mengetuk pintu kamarnya. Dania tidak menjawab panggilan mamanya. Malas sekali rasanya bangkit dari tempat tidur, apalagi harus menemui Bram. Lagi pula, wajahnya saat ini, pasti terlihat tak karuan. Matanya memicing, ketika seberkas cahaya mentari yang menerobos vitrase mengenai matanya. “Maaf ya Bram, sejak pulang semalam Dania terlihat aneh. Bahkan dia tidak makan malam. Apakah … kalian bertengkar?” tanya  Mama Dania . “Tidak  Tante. Tapi saya sudah salah sama Dania. Saya … kemari mau  minta maaf!” “Oh begitu … Mungkin sekarang Dania masih marah sekali. Tunggu sampai marahnya reda ya … sabar dulu .… Tidak biasanya Dania marah sehebat…

  • Uncategorized

    Bertanggungjawab 100 % # 19

    Dania menatap ke jendela yang belum tertutup sempurna, dari tempatnya berbaring. Sudah tidak ada air mata yang bisa dikeluarkan.   Lampu luar di depan jendela kamar, memperlihatkan hujan yang masih membasahi bumi. Rinai  hujan tak kunjung putus. Semesta  seperti berduka bersamanya. la ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin – ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau.  Maha Suci Engkau. Sungguh aku ini termasuk orang-orang yang zalim’. La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin … La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin … Kalimat yang terucap pelan di bibir dan dalam hati secara terus menerus membuatnya tertidur. Suara geledek membuatnya kembali  terjaga. Matanya terbuka lebar. Kecewa langsung menghantam, begitu ingatan tentang Bram…

  • Uncategorized

    Linimasa # 18

      Bab Enam Myelin Kasih Bram menoleh, ketika sebuah tawa bahagia memasuki gendang telinganya. Seorang gadis cantik sebaya dirinya, berjalan diapit kedua orangtua. Sinar mentari pagi, yang sesekali mampu menerobos rimbun dedaunan. Membuat wajah gadis itu terlihat memancarkan cahaya. Mereka  bertiga berjalan santai menuju ruang daftar ulang. Bibir Bram manyun. Kedua orangtuanya, sudah memaksa ingin ikut. Namun dia melarang mereka. Dia pikir, tidak akan ada yang bawa orangtua. Dia tidak mau dicap ‘anak mami’ di tempat kuliah. Ternyata, ada yang lebih parah dari dia. Percaya diri sekali  anak perempuan itu. Dia tidak terlihat malu atau risih, diantar kedua orangtuanya. Malah terlihat sangat gembira. Ekor matanya terus memperhatikan, tiga orang menarik,…

  • Uncategorized

    Dapat Nilai A. Perlukah?

    Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki. Mahatma Gandhi Saya sempat berdiskusi dengan para sahabat, yang karena keterbatasan waktu  jadi terpotong. Entah akan berlanjut, atau berhenti sampai di sana. Topik yang diangkat. Perlukah punya ambisi dapat nilai A? Hehehehe kami memiliki cara melihat  berbeda. Kami masih belum menemukan titik temu,  setelah bertahun-tahun berdiskusi tentang topik ini. Pantas saja,  para anggota dewan, kalau rapat lama sekali. Urusan seperti ini saja, belum ada solusi, setelah lebih dari hitungan 3 x 365 hari hehehehe Nilai A, yang hanya sebatas nilai di atas kertas. Bukti intelegensi semata. Bukan itu arti nilai A, dalam pikiran saya. Dalam persepsi…