• Fiction

    Berakhirnya Sebuah Kisah # 37

    “Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak Sarma … Nendo juga tadi menegaskan keinginannya, untuk bisa mempersunting  Mara secepatnya … bagaimana, Pak Sarma?” “Secepat mungkin, itu kapan ya, Bu?” tanya Pakde Sarma. Alisnya berkerut dalam. Adiknya saat ini masih di rumah sakit. “Besok, Pak!” Nendo tidak bisa menahan keinginannya untuk berkata. Perkataan Nendo disambut gelak tawa seisi ruangan. “Tapi ayah Mara masih di rumah sakit? Bagaimana,  De … lagi pula persiapannya juga kan,   tidak bisa terburu-buru?” tanya Pakde Sarma pada orangtua  Mara. “Kami akan mengurus segala sesuatunya,” sela Sayati lembut. “Yang terpenting, kesediaan keluarga Mara.” “Kalau Mara sudah  menerima lamaran Nendo, semakin cepat dilaksanakan semakin baik, Mas, ” sahut Ayah Mara.…

  • Fiction

    Yes or No # 36

    “Assalamu’aikum,” terdengar suara menyusul ketukan di pintu. “Waalaikum’salam.” Mara bergegas membuka pintu. “Pak RT, Pakde … silakan masuk.” source Mara bergegas ke dapur, bermaksud  membuat minum. Langkahnya terhenti di sebelah meja makan,  melihat meja itu sudah  dipenuhi  beragam makanan yang terlihat lezat dan cantik.. “Mara, nanti tamunya, suruh sahur di sini saja sekalian!” ujar Sayati. Melihat mata Mara  terus menatap makanan di atas meja, Sayati lanjut berkata, “Bu Agus pintar masak dan dekorasi makanan.” “Saya jadi merepotkan, Bu Sayati dan yang lain,” ujar Mara dengan wajah  bersalah. “Tenang, Mara. Ini bukan apa-apa!” sergah Bu Agus riang,  yang menambahkan satu piring makanan matang di atas meja. “Ini sekalian syukuran.” “Syukuran apa?”…

  • Fiction

    Titik-Titik Sejarah # 35

    Bab Delapan Titik-Titik Sejarah Mara terbangun ketika bunyi alarm mobil meraung-raung di ketuaan waktu. Ketika menoleh ke sebelah, tempat tidur Sayati kosong. Ia bergegas bangkit. Pintu depan terbuka. Sayati berdiri tidak jauh dari teras, dengan tangan terlipat di dada. Teman-temannya, yang tiba beberapa jam lalu,  berdiri berjejer di sebelah kanannya. Mereka seperti sedang menonton sesuatu. “Ada apa, Bu?” tanya Mara sembari mendekati Sayati. source Langkahnya terhenti melihat hazard mobil Nendo kedap-kedip. Matanya melotot. Tidak jauh dari pintu mobil yang terbuka, Nendo berdiri, dikelilingi lima tubuh yang terbaring di tanah, sambil  mengerang  kesakitan. “Pak Nendo! Ada apa?” Mara langsung menghampiri Nendo. “Mereka memecahkan kaca mobilku.” Tangan Nendo menunjuk ke arah orang-orang…

  • Story

    Cerita Agustus 2018

    Saya deg deg kan. Layar kaca menampilkan pertandingan sepakbola.  Pertandingan Indonesia lawan Thailand, harus diselesaikan melalui adu pinalti. Setelah Thailand bisa menyamakan kedudukan. Tendangan pemain keempat Thailand, bisa ditangkap penjaga Indonesia. Stadion Gelora Delta Sidoarjo, jadi saksi sejarah.Indonesia menjadi juara AFF U16 tahun 2018. Di tingkat Desa Tanimulya, hari ini,  17 orang, mewakili RW 21, ikut perlombaan paduan suara tingkat desa. Rencana awal, akan diwakili oleh kader Posyandu, namun karena hanya punya waktu satu minggu, hanya 11 kader dari 24 kader yang bisa ikut. Kekurangan peserta, diambil dari warga, yang bersedia ikut. source Sebagai ketua Posyandu, banyak sekali yang harus  saya pikirkan. Mulai dari bayar pelatih, seragam dari kerudung, gesper,…

  • Fiction

    Cerita Mudik

    Bab Enam Ambang Asa source Dengan langkah bergegas, Nendo menghampiri  Mara, yang sedang duduk  dengan wajah kebingungan di pos jaga satpam kantor. Kepala Mara sedang menatap langit, hingga tidak menyadari kehadirannya. “Mara, kenapa masih di sini?” tanya Nendo dengan alis bertaut. “Bukannya kamu sudah pulang  kampung dua hari  lalu?” Mara menoleh ke arah Nendo  dengan wajah kaget.  “Pak Nendo!   Saya  belum dapat bis, Pak,” sahut Mara dengan senyum lemah di bibirnya. “Bapak belum mudik?” “Saya baru  mau berangkat … ada dokumen  yang tertinggal di kantor,” tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala Nendo. “Sebentar, jangan kemana-mana! Saya  ke dalam dulu.” Mara mengangguk seraya berdiri. “Saya sekalian mau isi air mineral,” ujar…

  • Fiction

    Kartu As # 22

    “Ma …kenapa sih Mara harus tinggal di sini?” Lestari mengempaskan diri ke sofa di kamar mamanya. “Kenapa memang?” sahut Bude Parman tanpa mengangkat wajah dari buku sketsanya. Tangannya dengan lincah, menari menciptakan rancangan sebuah gaun malam. Dia tersenyum puas.  Kemampuan artistik lagi-lagi jadi tangga naik untuknya. “Teman-teman aku suka nanyain dia, kalau mereka  pas ke sini,  ketemu dia,” seru Lestari dengan wajah merengut. Menyebalkan sekali, anak kampung mati gaya itu, bisa mengalihkan perhatian teman-teman hang outnya dari dirinya. source “Kok bisa ketemu?” tanya Bude Parman dengan dahi berkerut. Bude Parman membalikkan badan ke arah Tari. Kerutan dahinya menghilang. Berganti senyum bangga. Matanya menangkap sosok wanita muda cantik dan segar. Pilihan…

  • Fiction

    Peluang Tersembunyi # 21

    Bude Parman berbaring dengan pandangan menerawang. Rekaman kejadian hari ini  terulang lengkap dengan jelas di pelupuk mata. Total tanah Tama di daerah itu 32 ha. Sebagian besar dibiarkan sebagaimana adanya, setelah dia melakukan penanaman  puluhan ribu batang pohon, di beberapa daerah yang sudah rusak. Dia juga memberikan pilihan pada masyarakat sekitar, untuk bekerja di lahannya, atau menyewakan lahan pada mereka. Dengan full support alat pertanian, pupuk, dan para penyuluh terbaik. Tama hanya menggunakan sebagian kecil  lahan. Tanah yang digunakan dibagi menjadi beberapa bagian. Bungalow-bungalow mewah yang disewakan dalam dolar. Lengkap dengan fasilitas-fasilitas kekinian tercanggih, yang ramah lingkungan. Café dan resto, yang tidak pernah sepi pengunjung. Karena selain lokasi indah, makanan…

  • Fiction

    Ramuan Emosi

    Kaki supir Bude Parman menginjak rem perlahan. Jam pulang kantor, jalan menuju rumah majikannya seperti biasa selalu macet.   Kepalanya meneleng ke jalan yang berlawanan arah dengan mobil mereka. “Mbak Mara lagi belajar setir mobil,” ujar supir Bude Parman. Mobil yang dikendarai Mara berhenti  di antrian lampu merah. Bude Parman mengikuti arah telunjuk supirnya. Mara duduk tegang di balik kemudi. Amarahnya memuncak. Lengkap sudah alasan untuk histeris. source   Tama membatalkan rencana pesta syukuran ulang tahun ke-30. Padahal dia sudah menyiapkan segala sesuatu. Anak kampung itu sudah tidak sekampung saat pertama dia datang. Parman bodoh itu, lebih sering di rumah belakangan ini. “Kapan dia belajar mobil?” tanya Bude Parman marah. “Saya…

  • Story

    Warisan

      Saat kita meninggalkan dunia ini, apabila belum berkeluarga atau tidak punya tanggungan, ketakutan terbesar kita, apakah amalan kita bisa menempatkan kita pada kehidupan yang baik di akhirat. Setelah berkeluarga, memiliki anak, maka kewajiban lainnya, adalah tidak meninggalkan keturunan yang lemah di belakang kita.     Ya Allah, jadikanlah pada hatiku cahaya. Pada lisanku cahaya. Pada penglihatanku cahaya. Pada pendengaranku cahaya. Pada pikiranku. Berikanlah cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku,  cahaya di hadapanku, cahaya  di belakangku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya untukku, jadikanlah aku cahaya. Ya Allah berikanlah cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya pada tulangku,…

  • Fiction

    Memahat Hidup # 17

    “Gajimu bulan ini .” Tangan Mara yang membuka tas kertas itu  terhenti. “Saya kan belum mulai kerja?” Dia mengembalikan  tas kertas   itu pada Pakde Parman. “Tidak  apa-apa. Bukan uang Pakde … ini atas perintah Pak Tama juga.” Pakde Parman mengambil tangan Mara, kemudian menyerahkan tas  itu kembali. “Kamu engga usah ngomong apa-apa sama Bude. Budemu tidak  tahu masalah ini.” Mara mengangguk perlahan. Pandangan Mara  menerawang  langit biru. Pakde Parman, selalu mentaati perintah Pak Tama. Bude Parman sendiri tidak berani menentang keputusan Pak Tama. Seperti apa Pak Tama? Galakkah Pak Tama? Pasti Pak Tama laki-laki tua bertubuh besar berwajah sangar, kalau Bude Parman yang tinggi besar dan sangat galak saja, …