• Fiction

    Janji Masa Lalu # 11

      “Barusan telpon dari rumah sakit, Tante. Ada kecelakaan beruntun. Banyak  pasien  kritis …  aku harus ke rumah sakit, sekarang,” sahut Dania perlahan. “Engga apa-apa. Pergi aja, Dania, gampang nanti Mama bisa telpon papa,” ujar Mama Dania. “Maaf ya, Ma  … Aku  sudah janji sama Mama mau pergi seharian  … “ Dania memainkan gawainya sesaat. “… rencananya, kami juga akan  mengajak Tante Miranda, nonton di bioskop yang dulu sering didatengin Mama sama Tante Miranda….” Dania melanjutkan, sambil melihat ke arah Miranda, dengan pandangan menyesal. “Aduh sayang,  kali ini, Tante akan menetap di Indonesia. Kita bisa sering ketemuan. Ini kan bukan yang pertama dan terakhir kalinya, kita akan bertemu. Tenang aja,…

  • Fiction

    Warisan Cinta # 3

    “Adik Kintan kejang-kejang!” Sebuah teriakan keras lain,  menghentikan ayunan tangan Galang. Dia menoleh ke arah lubang yang mulai tertutup rata dengan tanah yang dipijaknya. “Serahkan pada kami, Lang!” sebuah suara terdengar. Galang mengangguk. Dengan langkah gontai,  dia berjalan mendekati kerumunan yang sedang mengelilingi adik Kintan. “Kakak! Kakak!” teriak  Adik Kintan histeris. Galang segera menghampiri ranjang  rumah sakit. “Kenapa aku pakai baju ini?” Mata Adik Kintan melotot ke arah Galang. “Tenang, Silvie! … namamu Silvie, kan?” tanya Galang setelah mendapat pelototan mata Silvie. Tangan Silvie menggenggam erat atasan rumah sakit yang dikenakannya. “Bajumu basah, saat sampai di rumah sakit. Suster yang mengganti bajumu.” Wajah Silvie nampak  sedikit lega. “Aku mau pulang!”…

  • Fiction

    Perempuan Bertopeng # 56

    Mama harus tahu! Satpam rumah  teledor. Membiarkan orang asing masuk. Teman-temannya saja,  kalau mau masuk, harus menunggu konfirmasi satpam depan dengan dirinya. Benar-benar memalukan! Bibir Tari tersenyum sinis, penuh kemenangang. Akhirnya dia bisa juga menemukan kesalahan para penjaga pintu gerbang depan. Mama akan disuruhnya memarahi satpam itu habis-habisan. Matanya menyipit, melihat wanita itu terus tersenyum padanya. Kurang ajar, dia  berani berjalan menghampirinya!. Mulutnya yang akan berteriak mengusir wanita itu, langsung tertutup  begitu mendengar, “Tari, apa kabar?” Ia langsung keluar kolam, berusaha mengingat nama  sang pemilik wajah. Tidak ada  satu pun nama yang terlintas di otaknya. Banyak orang yang berlagak kenal padanya. Biasanya dia juga akan pura-pura kenal mereka, setelah menilai…

  • Fiction

    Rekonsiliasi Takdir # 50

    Bab Dua Belas Rekonsiliasi Takdir Mara meringkuk di sofa dalam kegelapan. Sudah berjam-jam lalu, Mas Nendo berada di teras belakang. Hatinya terasa kosong. Seperti inikah rasanya,  tanpa Mas Nendo? Subhanalah wa bihamdihi … subhahanallah wa bihamdihi … subhanalah wa bihamdihi … subhahanallah wa bihamdihi … Mara membuka pintu geser perlahan. Udara dingin menyergapnya. Siluet sosok tubuh suaminya,  terlihat sedang berbaring di  kursi kolam renang. Punggung tangan kanan  Mas Nendo  menutupi kedua matanya. Kelegaan dan kedamaian mengalir deras di setiap urat syarafnya. Mara menarik nafas lega.  Dadanya dipenuhi kebahagiaan luar biasa. Matanya  beralih menatap langit hitam kelam. Bintang seperti bersembunyi, menemani suaminya  dari  balik   tabir gulita. Lighting di infinity pool  …

  • Fiction

    Bisnis, Sosial, Titik Rawan # 48

    Nendo terdiam sesaat.  Matanya memandang sekeliling. Dia sudah menuruti kemauan kedua saudara Ayah Mara. Membeli kembali semua sawah dan  ladang,  yang dijual Ayah Mara pada  keduanya, dengan harga tiga kali lipat dari harga pasar. Hatinya terenyuh melihat wajah Ayah  Mara yang nampak  pucat pasi bercampur malu. source “Satu hal yang ingin saya tekankan di sini. Yang disampaikan Pakde Sarman dan Paklik Narma adalah urusan bisnis. Setujukah kita dengan kondisi awal ini?” Pandangan Nendo bergantian  beralih dari Pakde Parman ke Paklik Narma. Melihat keduanya mengangguk, Nendo melanjutkan, “Orang tua Mara sama sekali tidak terlibat, dengan apa pun yang akan kita lakukan bersama … Saya tidak ingin orang tua Mara mendapatkan akibat,…

  • Fiction

    Cantik, Indah, Penuh Arti # 46

    Bab 11 Cantik, Indah, Penuh Arti   Langkah Mara terhenti di ambang pintu kamar yang ditunjukkan mama. Hanya terisi  sebuah tempat tidur besar, lemari pakaian, meja rias dan  sebuah sofa  duduk dua orang lengkap dengan meja. Nendo yang melihat ke dalam kamar dari atas kepala Mara tertawa kecil, “Tenang saja … aku tidak akan tidur di ranjang … aku mau ganti pakaian dulu. Ayo masuk, Mara!” Nendo duduk di atas sofa. Dia membuka koper.  “Mara, ini apa?” tanya Nendo dengan suara heran, ketika mengambil sebuah gaun tipis menerawang berwarna hitam. Mata Mara terbelalak. Ia langsung membuat cepol di atas kepala, dengan rambutnya sendiri. Anak-anak rambutnya menjurai di kedua sisi wajah.…

  • Uncategorized

    Lompatan Kuantum# 45

      Jantung Mara berdetak kian bertambah cepat, melihat wajah Mas Nendo semakin mendekat. Kekhawatiran tentang mama lenyap dari pikirannya. Otaknya seperti kosong. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Matanya dipejamkan, untuk menahan perasaan asing yang dirasakannya. Kepalanya tanpa sadar ditekankan ke sandaran kursi. Melihat kedua mata Mara menutup, membuat Nendo semakin lupa diri. Ketika bibirnya akan menyentuh bibir Mara, dia melihat Mara menekankan kepalanya ke sandaran kursi. Dia berhenti, dengan cepat menjauhkan diri. Mara membuka mata, ketika merasa  mobil bergerak. Wajahnya merah padam menahan malu. Dia diselamatkan oleh suara deringan gawai. Tangannya gemetar, ketika  ia merogoh tas. “Mama …” Dia melihat ke arah suaminya,  yang telah meminggirkan kembali mobil. Suaminya menyandarkan kepala…

  • Fiction

    Di Tengah Rintik Hujan # 44

    Hati Mara terasa kosong, ketika Nendo memandangnya dengan pandangan aneh. Tanpa berkata apa-apa, Mas Nendo meninggalkannya. Ia menarik  nafas panjang.  Mara menggigit bibir, menahan airmata jatuh. Saat tahu Firman pacaran dengan Nida, perasaannya  tidak sesedih ini. Apakah aku mulai jatuh cinta padanya? Apa yang harus kulakukan? Bukankah yang diinginkan suaminya hanya sebatas persahabatan? Mara menatap serumpun mawar hasil perawatannya bersama Bu Agus, yang mulai bermekaran. Wangi bunga-bunga itu tercium dari  tempatnya duduk. “Mara! Kenapa duduk sendiri di sini?” tanya Sayati heran. Melihat wajah Mara yang tidak seperti biasa, ia bergegas menghampiri, “Ada apa?” Serta merta Mara mengembangkan senyum. Dia benar-benar menyayangi Sayati. Apakah aku juga akan kehilangan mama  juga? “Mas mengajak…

  • Fiction

    Metamorfosis # 42

    Bab Sepuluh Dua Bulan 28 Hari   “Kau tidak pernah sesibuk ini sebelumnya,” Sayati mengangkat kacamata bacanya. “Aku ingin secepat mungkin menyelesaikan pembangunan itu … Mama tahu, aku paling tidak suka keterlambatan.” Hidung Nendo mencium aroma yang mengingatkannya pada udara bersih pegunungan. Matanya  mencari sumber bau. Sesosok tubuh ramping berjalan dengan anggun melintasi ruangan. “Belum berangkat, Mas?” tanya Mara. “Belum.” Alis Nendo berkerut. Tubuhnya seperti terpancang di tempat duduknya. Matanya lekat mengamati seorang wanita muda cantik, yang sibuk menata sesuatu di meja makan. Dia menutup mulut yang sempat menganga sesaat. Kepalanya menoleh ke arah Sayati. Mamanya hanya tersenyum kecil, kemudian mengangkat bahu sekilas. Benar-benar di luar prediksinya. Pandangannya kembali mengarah…

  • Fiction

    Lembaran Putih # 38

    Nendo hanya mengangkat bahu sekilas. Dia tidak mungkin, melepaskan Mara terlalu lama bersama Firman. Hanya lima menit, toleransi yang diberikan pikiran sehatnya, pada gadis itu. Mara sudah mengatakan bersedia menikah  dengannya. Itu harga mati.  Kalau Mara berubah pikiran, jika memang diperlukan, dia akan menyeret Mara ke depan penghulu. “Maaf, mama sudah menunggumu di tempat parkir,” sergahnya tanpa merasa bersalah. Dengan wajah yang mengatakan ‘Bapak keterlaluan sekali’, gadis itu langsung meninggalkannya,   menuju tempat parkir. Firman sama sekali bukan tandingannya sekarang. Tapi cinta, punya kekuatan luar biasa mengubah seseorang. Seperti yang nyata  dialaminya. Dia orang yang berbeda dari Nendo yang dikenalnya. Dia  tidak mengenali dirinya sendiri saat ini. Alis Nendo berkerut…