• Fiction

    Berakhirnya Sebuah Kisah # 37

    “Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak Sarma … Nendo juga tadi menegaskan keinginannya, untuk bisa mempersunting  Mara secepatnya … bagaimana, Pak Sarma?” “Secepat mungkin, itu kapan ya, Bu?” tanya Pakde Sarma. Alisnya berkerut dalam. Adiknya saat ini masih di rumah sakit. “Besok, Pak!” Nendo tidak bisa menahan keinginannya untuk berkata. Perkataan Nendo disambut gelak tawa seisi ruangan. “Tapi ayah Mara masih di rumah sakit? Bagaimana,  De … lagi pula persiapannya juga kan,   tidak bisa terburu-buru?” tanya Pakde Sarma pada orangtua  Mara. “Kami akan mengurus segala sesuatunya,” sela Sayati lembut. “Yang terpenting, kesediaan keluarga Mara.” “Kalau Mara sudah  menerima lamaran Nendo, semakin cepat dilaksanakan semakin baik, Mas, ” sahut Ayah Mara.…

  • Fiction

    Titik-Titik Sejarah # 35

    Bab Delapan Titik-Titik Sejarah Mara terbangun ketika bunyi alarm mobil meraung-raung di ketuaan waktu. Ketika menoleh ke sebelah, tempat tidur Sayati kosong. Ia bergegas bangkit. Pintu depan terbuka. Sayati berdiri tidak jauh dari teras, dengan tangan terlipat di dada. Teman-temannya, yang tiba beberapa jam lalu,  berdiri berjejer di sebelah kanannya. Mereka seperti sedang menonton sesuatu. “Ada apa, Bu?” tanya Mara sembari mendekati Sayati. source Langkahnya terhenti melihat hazard mobil Nendo kedap-kedip. Matanya melotot. Tidak jauh dari pintu mobil yang terbuka, Nendo berdiri, dikelilingi lima tubuh yang terbaring di tanah, sambil  mengerang  kesakitan. “Pak Nendo! Ada apa?” Mara langsung menghampiri Nendo. “Mereka memecahkan kaca mobilku.” Tangan Nendo menunjuk ke arah orang-orang…

  • Fiction

    Titik Nadir

    “Sebuah kehormatan menjadi tamu keluarga Mara, Pak,” sahut Sayati seraya menganggukkan kepala. Nendo  maupun Mara, perlu   tambahan waktu,  untuk memutuskan hal  besar yang berdampak sangat panjang, pada  mereka berdua. Ia mengalihkan pandangan pada Mama Mara,  yang tersenyum mendukung keputusan suaminya.   Mau tidak mau, timbul rasa hormat, pada keluarga Mara. Tampaknya mereka bertiga memiliki  pendapat yang sama. Nendo memperhatikan  Sayati dan kedua orangtua Mara sama-sama tersenyum,  Ada bahasa lain di antara para orangtua?  Tanpa sepatah kata pun. Tampaknya mereka sama-sama menyetujui satu hal. “Mara, sebaiknya pulang sekarang. Kamu harus menyiapkan makanan untuk berbuka,” ujar Mama Mara. “Jangan repot-repot, Bu.  Nanti kita beli saja makanan di jalan,” Nendo tidak tega…

  • Fiction

    Sepadankah dia denganmu? # 32

    Mara bergegas menghampiri ranjang rumah sakit, ketika sekilas melihat tubuh ayahnya  bergerak. “Ayah sudah bangun,” ujar Mara sembari tersenyum. Ayah Mara  mengangguk bingung perlahan. Tangan ayah  Mara berusaha  melepaskan masker oksigen. “Jangan dilepas dulu! Nanti Ayah sesak nafas lagi.” Dengan lembut tangan Mara memegang tangan ayahnya. Mata ayah nanar mengamati sekeliling. “Mama … Mama mana?” “Sebentar, Mara panggil mama dulu.” Mara berlari ke arah pintu. Dengan cepat dia  menurunkan handle pintu. “Ma!  Dicariin ayah.” Seorang wanita cantik membalikkan tubuh ke arahnya. *** source “Mama,” Nendo langsung  bangkit dan berjalan mendekati seorang wanita berhijab yang tampil  elegan. Ia mencium tangan wanita itu. “Mama, sama siapa ke sini?” “Ditemani Ardi,” sahut Sayati. “Kenalkan…

  • Fiction

    I Love Myself

    Mara menghembaskan tubuh ke sofa. Matanya tak berkedip menatap ranjang tempat tidur rumah sakit. Menikah?  Tangannya dimasukkan ke saku jaket. Ujung jarinya menyentuh sebuah benda. Perlahan Mara mengeluarkan benda itu. Matanya tidak berkedip memandang kotak kecil berwarna hitam. Dia menarik nafas dalam. Wajah ganteng Firman terbayang di pelupuk matanya. “Maaf, waktu itu aku datang terlambat … waktu sampai sana, kamu sudah pergi,” ujar Firman perlahan. “Aku harus langsung ke kota, jadi tidak sempat lagi ke rumah kamu.” Mara memandang Firman dengan dua alis terangkat. Firman tersenyum lebar. Jantung Mara berdetak kencang. Wajah yang diam-diam sering dirindukannya, benar-benar hadir nyata. Tidak akan menghilang, seperti biasanya. “Aku sudah bilang ke mama aku.…

  • Fiction

    Awal Babak Baru # 30

    Bab Enam Awal Babak Baru   “Aku pernah menikah, tapi kami sudah berpisah,” kilah Nendo cepat. “Kenapa?” Mara menatap mata Pak Nendo tanpa berkedip. Tangannya menyilang di depan dada. Seolah memeluk diri sendiri. Nendo mengangkat pundak sekilas, “Karena sudah tidak cocok lagi.” source Tiba-tiba hati Mara terasa kosong. “Kita juga nanti akan bercerai?” tanyanya  lirih. Bercerai? Ia tidak suka kata yang terakhir diucapkannya sendiri. Mata Nendo menatap tajam mata Mara. “Tidak! Kita tidak akan pernah bercerai!” “Tapi kalau  tidak cocok, bagaimana?… Bapak sendiri bercerai, karena tidak cocok,” sergah Mara tandas.  Ia belum menemukan  inti  dari situasi ini.  Mara membuang pandangan ke arah langit, dengan kesedihan aneh yang tidak dimengertinya. Nendo…

  • Fiction

    Lamaran Pernikahan Nendo # 29

    “Ya,” sahut  Pak Nendo yakin. Jantung Mara berdebar aneh. Seolah terikat kuat, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari  mata guru pelatihannya. Mata Pak Nendo berkilauan,  memancarkan sinar asing  yang belum pernah dilihat Mara sebelumnya. source “Please … menikahlah denganku, Mara,” ujar Pak Nendo sangat lembut dan tenang. Bertubi-tubi  kejadian  yang merobek emosi-emosi terdalam perasaan Mara, membuat kakinya tiba-tiba  lemas. Tanpa bisa dicegah, tubuhnya melorot. Sebelum sempat menyentuh lantai, Pak  Nendo menangkap tubuhnya. Mata mereka  masih terus bertatapan. Nendo mendudukkan tubuh Mara perlahan di lantai. Namun dia tetap memegang tubuh Mara. “Coba…  katakan sekali lagi!” ujar Mara lirih. “Saya  ingin kamu menikah denganku, secepatnya,” ujar Nendo perlahan kata demi kata. Suasana…

  • Story

    Menghalau Mega # 28

    Tubuh lemas Mara bersandar pada tempat tidur pasien di ruang UGD.Matanya tidak lepas dari wajah ayahnya yang terlihat sangat lelah. Berkali-kali dia menyeka air mata dengan punggung tangan.  Nendo memintanya menemani mama yang terus menerus menangis. Ayah sudah mendapat bantuan oksigen. Tidak lama kemudian ayah dipindahkan ke mobile bed,  dibawa ke ruang lain  untuk pemeriksaan lebih lanjut. Mara bergegas menghampiri Nendo. “Sudah, jangan terlalu cemas … Berdoa saja …. Ayahmu sudah ada di tangan dokter-dokter terbaik di rumah sakit ini,” ujar Nendo perlahan pada Mara. “Temani Mama dan adik-adikmu.” Mara mengangguk lirih. Dia menghampiri  mamanya yang duduk di kursi tunggu buat keluarga pasien. “Sudah, Ma. Jangan nangis lagi. Ayo kita…

  • Fiction

    DNA Asmara # 27

    “Ma… aku  terlambat… ada teman yang sakit…” katanya seraya berjalan keluar ruangan. Ketika membuka matanya, wajah Nendo yang pertama kali dilihat Mara. “Pak Nendo!” Mara dengan kaget berusaha bangun. Tangan Nendo menahannya. “Jangan bangun dulu, Mara!  … nanti kamu pusing.” Mara bersikeras bangun. Pandangannya berkeliling. Ruangan serba putih, seperangkat sofa. Tatapannya terhenti di tiang infus.  “Ini di mana?” “Rumah sakit.” Jawaban Nendo membuat Mara mengalihkan pandangannya kembali ke arah Nendo. “Rumah sakit?” tanya Mara dengan mata terbelalak. “Kau pingsan di jalan.” Mara terperanjat. Nendo meneleng. “Kemungkinan kata dokter karena kau terlalu lelah, kurang makan … kau tidak makan dua hari?” Dengan wajah merona, Mara mengangguk perlahan dengan pipi merona. “Kenapa…

  • Fiction

    Jatuh Cinta # 26

    Mara hanya menjawab pertanyaan Nendo dengan anggukan kepala. Nendo melirik, ketika sekilas melihat tangan Mara gemetar. Gadis itu meremas tangan di pangkuannya. Muka gadis itu nampak kuyu. Beberapa kali kepalanya terantuk kaca jendela samping. “Istirahat saja, Mara. Tidurlah.” “Itu kan tidak  sopan!” tukas Mara lirih. Dia menoleh ke arah Nendo, dengan kelopak mata sengaja dilebarkan. “Saya tidak mengantuk.” Nendo tersenyum dalam hati. “Tidak  apa-apa, sekarang kan darurat.” “Bener, Pak?” Melihat dia mengangguk, Mara segera berkata, “Terima kasih, Pak Nendo. Maaf ya, Pak.”  Dia menyandarkan kepala ke belakang. Tak lama kemudian gadis itu tertidur. Nendo menurunkan sandaran jok, hingga dia melihat Mara  rebah dengan  nyaman. Tiba-tiba hp Nendo berdering, “ Iya.…