• Fiction

    Memahat Hidup # 17

    “Gajimu bulan ini .” Tangan Mara yang membuka tas kertas itu  terhenti. “Saya kan belum mulai kerja?” Dia mengembalikan  tas kertas   itu pada Pakde Parman. “Tidak  apa-apa. Bukan uang Pakde … ini atas perintah Pak Tama juga.” Pakde Parman mengambil tangan Mara, kemudian menyerahkan tas  itu kembali. “Kamu engga usah ngomong apa-apa sama Bude. Budemu tidak  tahu masalah ini.” Mara mengangguk perlahan. Pandangan Mara  menerawang  langit biru. Pakde Parman, selalu mentaati perintah Pak Tama. Bude Parman sendiri tidak berani menentang keputusan Pak Tama. Seperti apa Pak Tama? Galakkah Pak Tama? Pasti Pak Tama laki-laki tua bertubuh besar berwajah sangar, kalau Bude Parman yang tinggi besar dan sangat galak saja, …

  • Fiction

    The Secret Life of Mara # 9

    “Asik … asik … Mama bikin nasi kuning!”  terdengar teriakan  adik laki-laki Mara dari dapur. “Ade … Ade … ayo sini bantuin Mama!” Adik perempuan Mara yang sedang tidur-tiduran  sambil melihat-lihat buku cerita di sebelah Mara, langsung bangun. “Wah! Mama bikin nasi kuning! Horee! Hore!” Kaki kecil anak perempuan  berumur empat tahun itu,  tergopoh-gopoh berlari keluar kamar. Bibir Mara mengulas senyum. Mama yang lulusan SMK jurusan tata boga, memang koki hebat. Apa pun yang dimasaknya selalu enak. Dia senang, bakat Mama yang satu ini menurun padanya. Ditambah senyum yang selalu muncul di bibir Mama. Senyum itu senantiasa  membuat keluarga  mereka gembira. Dia ingin jadi seperti Mama, kalau sudah dewasa nanti.…

  • Fiction

    The Secret Life of Mara # 8

    Source Merasa rambutnya lepas dari jambakan Mara, Nida merenggut kepala Mara  ke depan, lalu mendorongnya ke belakang. Mara jatuh telentang. Punggung Mara terasa dingin. Jalan  belum teraspal itu, masih basah bekas hujan saat Subuh. “Kamu jangan ke-geer-an … Firman pasti cuma kasihan sama kamu! “ teriak Nida histeris. “Apa kelebihan kamu dibanding aku!  Berani-berani gandengan tangan di depan orang!” Noda di atasan putih aku, pasti susah dihilangkan. Pandangan Mara  lurus ke arah  mendung yang menguasai langit. Suara Nida dan Mamanya hanya terdengar samar. “Nida! Nida! Sudah ayo pulang. Kamu kan mau berangkat ke kota sama Firman … jangan ladenin anak itu,” dengus jijik Mama Nida. Tangannya merapikan rambut putri kebanggaannya dengan…