• Fiction

    Yes or No # 36

    “Assalamu’aikum,” terdengar suara menyusul ketukan di pintu. “Waalaikum’salam.” Mara bergegas membuka pintu. “Pak RT, Pakde … silakan masuk.” source Mara bergegas ke dapur, bermaksud  membuat minum. Langkahnya terhenti di sebelah meja makan,  melihat meja itu sudah  dipenuhi  beragam makanan yang terlihat lezat dan cantik.. “Mara, nanti tamunya, suruh sahur di sini saja sekalian!” ujar Sayati. Melihat mata Mara  terus menatap makanan di atas meja, Sayati lanjut berkata, “Bu Agus pintar masak dan dekorasi makanan.” “Saya jadi merepotkan, Bu Sayati dan yang lain,” ujar Mara dengan wajah  bersalah. “Tenang, Mara. Ini bukan apa-apa!” sergah Bu Agus riang,  yang menambahkan satu piring makanan matang di atas meja. “Ini sekalian syukuran.” “Syukuran apa?”…

  • Story

    Cerita Agustus 2018

    Saya deg deg kan. Layar kaca menampilkan pertandingan sepakbola.  Pertandingan Indonesia lawan Thailand, harus diselesaikan melalui adu pinalti. Setelah Thailand bisa menyamakan kedudukan. Tendangan pemain keempat Thailand, bisa ditangkap penjaga Indonesia. Stadion Gelora Delta Sidoarjo, jadi saksi sejarah.Indonesia menjadi juara AFF U16 tahun 2018. Di tingkat Desa Tanimulya, hari ini,  17 orang, mewakili RW 21, ikut perlombaan paduan suara tingkat desa. Rencana awal, akan diwakili oleh kader Posyandu, namun karena hanya punya waktu satu minggu, hanya 11 kader dari 24 kader yang bisa ikut. Kekurangan peserta, diambil dari warga, yang bersedia ikut. source Sebagai ketua Posyandu, banyak sekali yang harus  saya pikirkan. Mulai dari bayar pelatih, seragam dari kerudung, gesper,…

  • Fiction

    Berehat Sejenak # 33

    “Mara memang punya banyak pengagum,” Nendo tersenyum masam  pada Sayati, mengingat berapa banyak para pegawai  laki-laki, menerima kerutan dahinya dua bulan terakhir.  “Karena itu aku harus secepatnya mengikatnya.” Kepala Sayati mengangguk perlahan. “Baikkah … rencanamu untuk Mara sendiri?” Tubuh Nendo tegak lagi. “Aku tidak pernah berpikir tentang itu,”  sahut  Nendo kaget. Mara benar-benar menghancurkan sistimatika  berpikir,  yang dibangunnya bertahap  sejak puluhan tahun lalu. Nendo memaki-maki diri sendiri, dalam bayangan mentalnya. Sebagai orang yang melabelkan diri sebagai seorang perfeksionis murni, dia benar-benar kecolongan.  Memutuskan sesuatu, hanya benar-benar melihat dari satu sisi. Parahnya, hanya  dari sudut pandangnya. Dia  tersenyum dengan penuh rasa terima kasih pada mamanya. “Ada apa?” tanya Sayati bingung. “Entah…

  • Fiction

    Langkah Demi Langkah # 24

    “Iya.” Tubuh Nendo menegang. Walaupun sudah memprediksi Mara akan menanyakannya, tak urung, hatinya berdebar-debar juga. Yaa  dzal jallali wal ikram … yaa dzal jallali wal ikram  …. Tanpa henti ia terus mengucapkannya dalam hati. Mara mengangguk dengan wajah kebingungan. “Kenapa, Mara?” Dia harus mendapatkan kepercayaan Mara lagi. “Bapak sengaja melakukan semua itu?” Ketika melihat Alis Nendo terangkat, Mara melanjutkan,”Saya dapat inventaris motor, gaji sebelum bekerja, dibuatkan SIM A dan C.” “Tidak seperti itu, “ Nendo menggelengkan kepala untuk menegaskan maksudnya. “Pelatihan dan reward  sudah direncanakan  jauh sebelumnya.  Saya tidak membocorkan soal, bukan? … dan siapa pun yang mendapat nilai tertinggi, akan mendapat perlakuan yang sama sepertimu,” Nendo berusaha mengalihkan pembicaraan.…

  • Fiction

    Bersahabat dengan Ketidakpastian # 23

    Dari ekor matanya, Nendo melihat Mara berbincang  sangat akrab dengan Heri. Latihan pengendalian diri belasan tahun dan ketahanan mental  mengarungi pasang surut bisnis-bisnisnya, yang membuatnya bisa tetap mengajar maksimal dengan santai. Sepulang mengajar, dia pasti melakukan olahraga indoor sampai tidak bisa bangun. Bayangan Mara dan Heri  yang berdiskusi dengan hangat terus berputar di otaknya. Saat memukul samsak, wajah muda Heri melekat di sana.  Mereka punya hubungan khusus? Dahi Nendo berkerut dalam. Kenapa aku marah sekali, melihat mereka berdua sangat akrab? source Dengan sigap, Mara menuliskan semua hal yang dirasanya penting. Ia sangat tertarik mempelajari materi ini. Pak Nendo benar.  Orang terkaya di kampungnya, Papa Nida, punya usaha sendiri. Memiliki showroom …

  • Story

    Warisan

      Saat kita meninggalkan dunia ini, apabila belum berkeluarga atau tidak punya tanggungan, ketakutan terbesar kita, apakah amalan kita bisa menempatkan kita pada kehidupan yang baik di akhirat. Setelah berkeluarga, memiliki anak, maka kewajiban lainnya, adalah tidak meninggalkan keturunan yang lemah di belakang kita.     Ya Allah, jadikanlah pada hatiku cahaya. Pada lisanku cahaya. Pada penglihatanku cahaya. Pada pendengaranku cahaya. Pada pikiranku. Berikanlah cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku,  cahaya di hadapanku, cahaya  di belakangku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya untukku, jadikanlah aku cahaya. Ya Allah berikanlah cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya pada tulangku,…

  • Fiction

    Buhul (Tali) yang Kukuh # 17

    Untuk ke sekian kali, Mara membaca surat itu. Lama kelamaan tulisan Tuti semakin kabur. Mara menghapus airmatanya. Ayah sakit. Mama tidak bisa bawa ke dokter, karena tidak punya uang. Nafasnya terasa sesak. Kalau menuruti kata hati, ingin sekali dia langsung pulang kampung. Mama pasti sangat repot. Bikin kue untuk jualan. Ngurus Ayah. Tapi dia tidak punya uang sepeser pun. Bekal dari mama sudah habis untuk membeli keperluan pribadi. Syukurlah dia bisa jalan kaki ke tempat kursus. Kadang Kak Heri suka mengantar, kalau pulang dari  tempat les, dia menengok ibu Kak Heri yang sakit-sakitan. Ibu Kak Heri suka ngobrol dengannya. source Mara tidak berani minta uang pada Pakde Parman. Dia  membaringkan…

  • Fiction

    Roller Coaster Hati # 16

    source   Langkah ringannya terhenti di ambang pintu. Dia membalikkan badan, berjalan cepat menuju ke arah dapur. “Bi Nar,  ada laptop sama hp siapa, di kamar saya?” tanya Mara pada Bi Nar, seorang pembantu di rumah Pakde. “Engga tahu, Mbak. Disuruh Bapak  taruh  di situ tadi,” sahut Bi Nar. “Pakde  di rumah sekarang?” Jantung Mara mulai berdenyut kencang. “Di dalam sama Ibu.” “Waktu itu Tama ketemu Mara di stasiun?” Suara Bude Parman terdengar sangat marah. Mara bergegas masuk ke ruang dalam. Jantungnya semakin cepat berdetak, melihat wajah Bude Parman yang berubah masam, ketika melihatnya masuk. “Maaf Pakde …  di kamar  ada laptop sama hp?” tanya Mara lirih karena takut. “Oh…