• Fiction

    Doa Hati di Keheningan Jiwa # 65 Episode Terakhir

    Bab Tujuh Belas Doa Hati di Keheningan Jiwa source “Kenapa baru memberitahuku sekarang?” tanya Mara dengan nada lembut  menegur. “Aku ingin kau benar-benar pulih, sebelum mendengar semua cerita ini,” Nendo menatap mata Mara  penuh kasih. Mara menghela nafas. “Sebenarnya, aku kasihan pada Tari.” “Ya, aku tahu … kalau tidak, kau tidak akan mengakui Tari sepupumu, ketika teman-temanku mulai membicarakannya.” Wajah Mara menunduk. Ia sudah membaca diary almarhumah Tari. Tulisan-tulisannya seperti jeritan minta tolong, walau ia menuliskan kemenangan-kemenangan di dalamnya. Karena nama Mara banyak disebut, di awal penulisan diary, Pakde Parman menyerahkan diary itu pada Mara. “Tari sedang hamil?” Matanya menatap jauh ke samudera luas. “Ya …. beruntung Pakde Parman mengetahui…

  • Fiction

    Buah Keputusan dan Tindakan # 64 (2 Episode Terakhir)

    Ketika Bude Parman dan Tari memasuki kamar Mara, Nendo ada di dalam. Tiba-tiba gawai  Nendo berbunyi. “Maaf, saya akan terima di luar.” “Silakan, Nendo … kami juga tidak akan lama … mau pamitan aja, sama Mara,” ujar  Bude Parman dengan perasaan luar biasa gembira. Semuanya seperti sudah diatur  di  atas nampan emas baginya. “Bude,” Mara memaksakan senyum. source “Tidak usah bangun, Mara. Maaf baru sempat datang,” ujar  Bude Parman. Ia mengeluarkan gelas berisi minuman dari balik bajunya, kemudian meletakkannya di meja kecil, di samping ranjang besar Mara. “Bagaimana perasaanmu? Masih pusing?” tanya Bude Parman penuh perhatian. Tari mengerutkan alisnya, mendengar suara mamanya  sangat lembut. Dia tidak pernah mendengar mamanya berkata…

  • Fiction

    Langkah Hati # 59

    Bab Lima Belas Langkah Hati “Kita mau kemana, Mas ?” tanya Mara, sesaat setelah mereka keluar gerbang rumah, dan melaju di tengah padatnya lalu lintas. source “Kau sering sekali  mendengarkan sound musik tentang  pantai. Aku akan mengajakmu ke sana …  tempat aslinya… tapi karena teman-temanku akan datang nanti sore … kita akan ke lokasi terdekat.” Nendo menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Tangannya meraih tangan Mara. Dia mencium lembut punggung tangan istrinya. “Ada apa, Mas?” “Hm,” sahut Nendo lirih. “Bukan sifatmu, ingin menunjukkan apa yang kau miliki?” desak Mara lembut. Wajah Mas Nendo tidak seperti biasanya. Yang sedang dilihatnya saat ini dari samping, wajah yang tidak menampilkan emosi apa pun. Sesuatu…

  • Fiction

    Unsur Kehidupan # 55

    Bab Empat Belas Pondasi dan Benteng “Mara sudah  lama sekali kita tidak ketemu?” seru Bu Agus seraya memeluk Mara  erat. “Iya, maaf ya, Mara temenin Mas Nendo ke kantor. Giliran belajar sama Mas Nendo. Mara juga  kangen sama semuanya,” Mara memeluk ketiganya bergantian. “Bagaimana, sudah siap semuanya? Kita punya tugas penting sekarang … mempersiapkan peresmian pesantren sekaligus syukuran ulang tahun mama.” “Bagaimana kalau ulang tahun itu, tidak  disebut-sebut?” usul Sayati dari meja makan. “Mama … kalau ulang tahun banyak yang doain kan, seneng.” Mara menghampiri Sayati. Mencium pipi Sayati sekilas. “Tapi aku lebih seneng, kalau bangunan itu tidak selesai-selesai,” keluh Sayati sembari memalingkan wajah. “Lho! Kenapa, Ma?” tanya Mara kaget.…

  • Fiction

    Finished With Yourself # 53

    Bab Tiga Belas Finished with Yourself   Mara mengayunkan tangannya dari belakang, sampai sikunya tertekuk. Bola tenis yang mengenai raketnya melambung melewati net. “Jangan ditekuk sikunya!” teriak pelatih tenis dari seberang net. “Ayun tangannya sampai habis ke atas. Dada Mara naik turun dengan cepat. Matahari mulai menyinari sisi lapangan tenis, tempat pelatih tekniknya berdiri. Berarti sudah hampir satu setengah  jam, dia terus menerus melatih forehand. Tangannya diayunkan  miring dari belakang ke atas, sampai sikunya  berada di  depan  dada. Bola tenis menyeberang  hanya beberapa centi di atas net. “Bagus! Ya, seperti itu! Ayo teruskan!” seru Pelatih tenis. “Ayo, kakinya gerakkan!” Sebelum latihan  teknik, pelatih fisik tenisnya, memberikan pelatihan yang menguatkan fisik,…

  • Fiction

    Bidadari Bumi # 52

    “Terima kasih, Bu Mara… tadi saya gemetar … bahasa Inggris saya kacau balau … saya  tidak ngerti isi fax itu,” kata Retno. “Sama-sama, Retno. Bahasa Inggris itu penting, lho!”  ujar  Mara ringan sembari  tersenyum. “Lihat Ibu bisa bahasa Inggris, bahasa China, jadi buat saya ingin  belajar bahasa Inggris lagi,” Retno menatap Mara dengan pandangan takjub. “Kalau memang mau,  bisa mengajukan beasiswa pada Pak Hadi. Begitu kan ya, Pak Hadi?” tanya Mara pada Pak Hadi. “Iya, Bu… karena memang dalam proyek-proyek seperti yang sedang kita kerjakan sekarang, kita menjadi tempat magang anak-anak kuliahan, selain bayaran, mereka juga dapat kompensasi untuk mengikuti beberapa kursus gratis. Kalau kinerja dan kemampuan mereka dinilai baik.”…

  • Fiction

    Memancing Inspirasi # 51

    “Dia menyuruh kita masuk,” ujar Lisa pada Pak Hadi. Langkah Pak Hadi ragu-ragu ketika memasuki ruangan. Dia melihat Bu Mara sedang menyeduh  kopi di ujung ruangan. “Apakah ini salah satu kebiasaan Pak Nendo, minum tiga gelas kopi sebelum makan siang?” tanya Mara ketika dia berjalan mendekati mereka. “Saya malah  tidak  tahu,  kalau Pak Nendo suka kopi, Bu Mara,”  sahut  Pak Hadi  lega. Ia lagi-lagi  menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berjanji pada diri sendiri, tidak gampang menilai. “Punya istri berarti tambah peraturan ya, Pak Hadi?” tanya Nendo, meminta pembelaan sesama laki-laki. “Wah! ..  kalau dibandingkan dengan istri saya, Bu Mara termasuk tunawicara, Pak,” komentar Pak Hadi. Nendo tersenyum, ketika melirik Mara…

  • Fiction

    Kelobaan Manusia # 47

    “Benarkah?” tanya Mama Mara dengan wajah berseri-seri. Nendo mengangguk. “Kami tidak bisa lama di sini. Bagaimana kalau sekarang kita temui Pak Kades, membicarakan hal ini?” “Boleh! Boleh! Mama  bilang dulu sama ayah,” dengan langkah tergopoh-gopoh Mama Mara  memasuki rumah. “Mas jadi banyak mengeluarkan uang!” keluh Mara, sesaat setelah mamanya pergi. “Lalu di mana rasa bersyukurmu? Keluarga ayah beringkah seperti itu, kamu marah. Aku ingin membangun gedung PAUD,  kamu mengeluh?” Nendo mencolek dagu Mara dengan telunjuknya. Kepala Maya tertunduk. “Pasti akan menghabiskan banyak uang.” “Mara, caramu mengucapkannya, membuatku seolah-olah jadi  bebanmu … Alhamdulillah,  aku punya kelebihan rezeki.  Aku senang sekali, bisa  bantu mereka yang benar-benar membutuhkannya.” “Terima kasih.” “Sama-sama,” Kepala Nendo…

  • Fiction

    Menembus Ketakutan # 43

    “Ya… tiga bulan terakhir ini, aku tidak melihat Nendo yang selama ini kukenal … apa yang kau takutkan?” Nendo menyisir rambut dengan jari. Benar. Belakangan ini, ia hanya hidup mengandalkan akal sehat dan fisik. Biasanya  ia  selalu cari tahu,  apa yang diinginkan hatinya. Dia bersyukur, bisnisnya sudah mempunyai sistim yang baik, hingga tidak memerlukan kehadirannya secara langsung. “Dia … membuatmu takut?” tanya Sayati tanpa mengalihkan tatapannya dari Nendo. “Mara?” tanya Nendo lirih, seperti bertanya pada dirinya sendiri. Mata Nendo segera memperhatikan Mara, yang sedang sibuk membagikan hasil masakannya pada para tamu. “Kalau kau tidak segera menyelesaikan perasaanmu, dia hanya akan menjadi kelemahan terbesarmu,” Sayati mengikuti arah pandangan Nendo. “Dia akan…

  • Fiction

    Life Mapping # 41

    source “Bagaimana kalau kita memahat  Mara  baru … hingga kau bisa menegakkan kepala, saat dikenalkan pada teman-temannya?” Mara memandang Sayati dengan pandangan ngeri. “Dikenalkan ke  teman-temannya, Mas?” Tubuh Mara langsung lemas. Ia menyandarkan tubuh ke punggung sofa. “Ya. Dan teman serta koleganya, tidak hanya orang Indonesia,” lanjut Sayati dengan wajah sangat serius. Suara Sayati seperti terdengar di kejauhan. Kepala Mara tertunduk semakin dalam. Ia tahu, bagaimana rasanya jadi orang  kalah dan tersisihkan. Menjadi orang di luar lingkaran. “Kadang-kadang dia harus menghadiri acara-acara resmi. Saat itu, lebih baik jika ada yang mendampinginya … apalagi setelah Nendo menikah.  Kalau kau tidak bersedia, kau mau dia mengajak wanita lain?” desak Sayati lembut. Punggung…