• Fiction

    Dipaksa? # 33

    “Sudah … engga penting,” ujar Dania sembari memasukkan gawai ke dalam tas. Dia mengarahkan pandangan ke jendela samping. Dahinya mengernyit sedikit. Dia sendiri tidak mengerti, mengapa  bisa sekuat ini. Bram adalah cinta pertamanya. Sepuluh tahun terakhir, hanya Bram laki-laki dalam hidupnya. Memang ada kalanya dia  merasa kehilangan,  saat ingat,  bagaimana Bram begitu sering menemuinya, saat harus kerja praktek di desa. Padahal tempat prakteknya dengan laki-laki itu, harus ditempuh perjalanan mobil selama lima jam, karena  banyak sekali lubang-lubang rusaknya. Banda melirik adiknya, begitu Dania berhenti bicara. Adiknya seperti tenggelam dalam lamunan. Walaupun terlihat kuat, pasti Dania mengganggu dengan kejadian ini. Rasa aman yang disediakan kedua orangtua mereka selama ini, memang membuat…

  • Fiction

    Let It Flow # 32

    “Tante,  tolong … jangan salahin Bram …! Dia sendiri sudah  merasa sangat bersalah,” tukas Dania. Dia menghela nafas. “ … tapi … saya perlu waktu untuk mencerna semuanya ….” “Lalu … bagaimana dengan rencana perjodohannya?” tanya Mama Bram dengan hati-hati. “Terus terang, saat itu saya tidak tahu apa yang harus dilakukan … mama dan Bram, keduanya orang-orang yang sangat saya sayangi. Saya tidak  ingin melukai  salah satu dari mereka  … ” Dania tersenyum lembut pada Mama bram. “Kondisinya sekarang berbeda. Saya harus mengambil keputusan …. Saya mengatakan pada mama … untuk menerima  kedatangan keluarga Tante Miranda, hari Sabtu malam. Tidak dalam rangka perjodohan, hanya untuk mengenalkan kami berdua.” Mama Bram…

  • Fiction

    Pengakuan # 31

        “Baik, Tante,” sahut  Dania perlahan, sambil mencoba tersenyum. Dia kembali mengarahkan pandangan ke deretan pohon teh yang berbaris rapi. Andai dia terus menatap Mama Bram, air mata pasti mengalir. Sedih sekali saat menyadari  wanita  dihadapannya, tidak akan menjadi mamanya. Mama Bram mengikuti pandangan mata Dania.  Mata itu terlihat kosong, walaupun bibirnya tersenyum. Kantung mata Dania  terlihat agak hitam.  Hatinya terenyuh melihat keadaan Dania. Kata-kata yang sudah dipikirkan sepanjang jalan,  tak mampu  sepatah kata pun bisa terucap. Dia hanya mampu menarik nafas panjang berkali-kali. Belum pernah sekali pun, dia melihat Dania keliatan begitu tertekan  seperti saat ini. Bahkan saat Dania dan Bram bertengkar hebat dan tidak saling menyapa selama…

  • Fiction

    Batas Toleransi # 30

    Sepuluh tahun  dia  mengenal Dania Dia tahu orang seperti apa kekasih anaknya. Dari kaca mata  seorang dokter senior, Dania  seperti buku terbuka baginya. Ada hal-hal sakral yang jadi  harga mati, bagi calom menantunya ini. Di luar nilai-nilai itu, Dania adalah gadis yang memiliki hati paling toleran, yang pernah dikenalnya. Tangannya memijit kepala yang terasa berat. Berat sekali kalau harus kehilangan Dania.     Mama Bram tahu,  Dania  seorang dokter yang sangat kompeten. Ketertarikan dan pengetahuan  Dania tentang bidang-bidang lain yang berhubungan dengan kesehatan, membuat calon menantunya, bisa diajak bicara tentang apa pun. Kecuali politik.  Dania, adik angkatan  luar biasa. Dia tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya, memiliki Dania sebagai calon menantu. Empati…

  • Fiction

    Growing. Not Just Surviving # 29

    Bab Sembilan Growing, Not Just Surviving   Mata Dania terbuka. Sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur’an  dari masjid dekat rumah, membelah keheningan. Lantunan ayat-ayat surat Ar -Rahman  terdengar merdu. Dania memejamkan mata sesaat. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?  Ya nikmat mana lagi yang dia dustakan? Dania memaksakan senyum di wajah.  Dia membuka mata lagi. Tidak seperti biasa, tadi malam  lampu temaram di kedua sisi ranjang  dia matikan. Kamar  gelap gulita. Tidak ada satu benda pun yang bisa dilihat. Dia mengisi perut dengan tarikan nafas panjang. Udara berisi CO 2 dikeluarkan berbarengan dengan lafaz Allah dalam hati. Setelah melakukannya beberapa kali, dengan terus secara sadar bernafas seperti itu, mata…

  • Fiction

    Rengkuhan Keheningan # 28

    “Bukan kegiatan rutin, Dania. Kebetulan ada waktu luang,” sahut Galang sembari menoleh ke arah Dania. “Kalau pas sibuk,  sedikit sulit  bisa nemenin mama.” “Bagaimana kalian bisa bertemu, hari ini?” tanya Mama Dania  penasaran. Matanya menyapu wajah Dania dan Galang bergantian. “Mama kepo …” Dania tertawa kecil. Tangannya menepuk lembut lengan mamanya. Wajah penasaran mama, membuat tawanya berderai. “Tadi siang, saya telpon Dania, Tante …. Kebetulan dia juga sedang tidak sibuk, jadi  kita bisa ketemuan,” Dania mendengar  Galang menjelaskan. “Wah, bagus sekali!” ujar Mama Dania  dengan wajah berseri-seri. “Pertanda baik itu-“ “Mama …!” seru Dania lembut. Tawanya langsung berhenti. “Iya … iya … Mama engga akan ngomong  apa-apa lagi.” Mama Dania…

  • Fiction

    27 Kali Lipat # 27

    Hidung Dania mencium aroma  khas pria. Bau parfumnya enak sekali. Tiba-tiba dia tersadar, dan segera melepaskan pelukannya. “Sorry …  sorry, aku takut  sekali,” ujarnya perlahan. Dia segera menjauh sampai ujung sofa. Syukurlah  lampu dimatikan. Kalau tidak, pasti malu sekali, melihat wajah Galang. “Engga apa-apa. Filmnya memang menakutkan,” sahut  Galang santai. Mendengar nada suara Galang, meredakan rasa malu Dania. Dia kembali melihat layar. Meremas erat cushion yang ada di pangkuannya, saat jantungnya berdebar kencang  karena takut. Dia menarik nafas lega, ketika akhirnya film berakhir. Galang dengan cepat menyalakan lampu. “Filmnya bagus sekali, happy ending lagi,”  ujar Dania, sembari minum air mineral dari botol. “Serem sekali, tapi!. Kalau sendirian, aku pasti sudah…

  • Uncategorized

    Kesadaran Pagi # 20

    Sayup-sayup ia mendengar suara Bram bicara dengan mamanya. Tak lama kemudian mama mengetuk pintu kamarnya. Dania tidak menjawab panggilan mamanya. Malas sekali rasanya bangkit dari tempat tidur, apalagi harus menemui Bram. Lagi pula, wajahnya saat ini, pasti terlihat tak karuan. Matanya memicing, ketika seberkas cahaya mentari yang menerobos vitrase mengenai matanya. “Maaf ya Bram, sejak pulang semalam Dania terlihat aneh. Bahkan dia tidak makan malam. Apakah … kalian bertengkar?” tanya  Mama Dania . “Tidak  Tante. Tapi saya sudah salah sama Dania. Saya … kemari mau  minta maaf!” “Oh begitu … Mungkin sekarang Dania masih marah sekali. Tunggu sampai marahnya reda ya … sabar dulu .… Tidak biasanya Dania marah sehebat…

  • Uncategorized

    Bertanggungjawab 100 % # 19

    Dania menatap ke jendela yang belum tertutup sempurna, dari tempatnya berbaring. Sudah tidak ada air mata yang bisa dikeluarkan.   Lampu luar di depan jendela kamar, memperlihatkan hujan yang masih membasahi bumi. Rinai  hujan tak kunjung putus. Semesta  seperti berduka bersamanya. la ilaha illa anta. Subhanaka, inni kuntu minazzhalimin – ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau.  Maha Suci Engkau. Sungguh aku ini termasuk orang-orang yang zalim’. La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin … La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazzhalimin … Kalimat yang terucap pelan di bibir dan dalam hati secara terus menerus membuatnya tertidur. Suara geledek membuatnya kembali  terjaga. Matanya terbuka lebar. Kecewa langsung menghantam, begitu ingatan tentang Bram…

  • Uncategorized

    Linimasa # 18

      Bab Enam Myelin Kasih Bram menoleh, ketika sebuah tawa bahagia memasuki gendang telinganya. Seorang gadis cantik sebaya dirinya, berjalan diapit kedua orangtua. Sinar mentari pagi, yang sesekali mampu menerobos rimbun dedaunan. Membuat wajah gadis itu terlihat memancarkan cahaya. Mereka  bertiga berjalan santai menuju ruang daftar ulang. Bibir Bram manyun. Kedua orangtuanya, sudah memaksa ingin ikut. Namun dia melarang mereka. Dia pikir, tidak akan ada yang bawa orangtua. Dia tidak mau dicap ‘anak mami’ di tempat kuliah. Ternyata, ada yang lebih parah dari dia. Percaya diri sekali  anak perempuan itu. Dia tidak terlihat malu atau risih, diantar kedua orangtuanya. Malah terlihat sangat gembira. Ekor matanya terus memperhatikan, tiga orang menarik,…