• Story

    Kompilasi Novel The Secret Life of Mara

    source Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui. Anonim Saya memiliki dua orang buah hati. Keduanya mulai memasuki usia dewasa. Telah melangkahkan kaki di luar jangkauan penglihatan mata. Tinggal di dua kota berbeda. Jakarta dan Sumedang. Hanya doa-doa dan penyerahan mereka berdua pada Sang Pemilik, yang membuat hati menjadi lebih tenang. Banyak sekali yang ingin saya sampaikan pada keduanya. Diantaranya memilih pasangan hidup, menjadi sebuah pilihan super penting, yang benar-benar harus melibatkan Allah. Melalui novel-novel yang saya tulis, ada sebuah keyakinan yang ingin saya teriakkan. Allah Maha Kaya. Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kesempurnaan  dan keutuhan secara…

  • Fiction

    Doa Hati di Keheningan Jiwa # 65 Episode Terakhir

    Bab Tujuh Belas Doa Hati di Keheningan Jiwa source “Kenapa baru memberitahuku sekarang?” tanya Mara dengan nada lembut  menegur. “Aku ingin kau benar-benar pulih, sebelum mendengar semua cerita ini,” Nendo menatap mata Mara  penuh kasih. Mara menghela nafas. “Sebenarnya, aku kasihan pada Tari.” “Ya, aku tahu … kalau tidak, kau tidak akan mengakui Tari sepupumu, ketika teman-temanku mulai membicarakannya.” Wajah Mara menunduk. Ia sudah membaca diary almarhumah Tari. Tulisan-tulisannya seperti jeritan minta tolong, walau ia menuliskan kemenangan-kemenangan di dalamnya. Karena nama Mara banyak disebut, di awal penulisan diary, Pakde Parman menyerahkan diary itu pada Mara. “Tari sedang hamil?” Matanya menatap jauh ke samudera luas. “Ya …. beruntung Pakde Parman mengetahui…

  • Fiction

    Keberuntungan VS Kesempatan Terakhir # 63 (3 Episode Terakhir)

    Dia menemukan Ima sedang duduk menangis  di dahan  sebuah pohon besar. “Ima! Ayo, turun sayang!” ujar  Mara dengan nada membujuk. “Engga mau! Mama jahat!” “Mamamu kenapa?… ayo sayang, turun dulu!” “Engga mau! Mama bohong!” “Bohong kenapa? Ayo! Ima turun dulu, ceritain  ke  Mbak!.”   source Mara memandang langit yang berawan hitam tebal dengan khawatir. Angin kencang menerbangkan rambutnya. “Ima, ayo turun!” Gemuruh suara hujan terdengar di kejauhan. Tiba-tiba tetesan hujan menyentuh kulit Mara. “Aku engga bisa turun!” teriak Ima  ketakutan di sela tangis kerasnya. “Ya sudah. Kamu di situ saja! Mbak yang naik,” Baru selangkah kaki Mara bergerak, dia mendengar suara derak pohon. “Loncat, sayang! Dahannya mau patah!” seru Mara…

  • Fiction

    Jalan Pintas # 62

    Bab Enam Belas Jalan Pintas Mara yang baru saja mengantar suaminya berangkat kerja  berpapasan dengan Ima. Gadis kecil berkuncir dua, yang berjalan dari bagian rumah yang ditempati keluarga Bude Parman, mengenakan pakaian renang. Wajah murung  dan bahu menurun anak itu, entah kenapa menimbulkan rasa ibanya. “Ima mau berenang?” tanya Mara lembut. Ima membuang mukanya. Terus berjalan. Melihat tubuh Ima yang keliatan lesu, insting  Mara  menyuruhnya  mengikuti gadis kecil itu. “Kalau Ima mau, Mbak bisa ajarin Ima berenang.” Langkah Ima terhenti. Sudah berkali-kali istri papanya mencoba berteman dengannya. Baik saat papanya ada, maupun saat papa tidak ada di dekat mereka. Tapi  lebih sering saat papa tidak di rumah. Seperti saat ini.…

  • Uncategorized

    Rezeki dari Arah Tak Terduga# 61

    “Baru belajar,” Mara menetralisir suasana yang tiba-tiba menjadi hening. “Ayo, Mara. Coba main piano! Pengen tahu, baru belajarnya Mara, seperti apa?”  ujar  Moko. Dia sempat tidak percaya, ketika diberitahu Mara mengalahkan Nendo main tenis. Padahal dari cerita Burhan, istri Nendo baru latihan empat bulan terakhir. Langsung bisa mengalahkan Nendo, walaupun harus jatuh bangun mendapatkan nilai poin per poin? Itu terdengar seperti sebuah keajaiaban. Mara menoleh ke arah Nendo. “Engga apa-apa, sekalian latihan untuk besok,” ujar Nendo santai. “Kenapa besok, Nen?” tanya Dudi. “Mau ada acara perkenalan Mara. Kebetulan temen mama juga ada yang dateng. Biasanya mama nemenin mereka. Karena masih sibuk banget, mama minta tolong Mara, wakilin mama. Kalau ada…

  • Fiction

    Kepastian dari Sisi Manusia # 58

    “Aku tidak punya pakaian yang pantas untuk acara-acara malam,” ujar  Lestari dengan wajah dibuat sedikit bingung. Selalu berhasil, membuat setiap laki-laki, meluluskan permintaannya. source Nendo memperhatikan  wajah Tari  yang full makeup sejenak. “Belilah sesuatu untukmu. dan Bude Parman sekalian. Minta uangnya sama Pakde Parman. Kalian boleh memakai mobil yang mana saja. Cuma Audi dan Dini tidak boleh dipakai, ya! Itu khusus untuk Mara.” Dia langsung membalikkan badan, setelah sekali lagi, memastikan telah memberikan senyum andalan pada Tari. Berhasil! Nendo  luluh padanya. Bibirnya yang sedang tersenyum lebar, langsung mengerucut, melihat Nendo  berjalan menjauh. Rasa marah dan irinya pada Mara  memuncak. Ia ingin memiliki Nendo. Dia  akan memintanya, pada mama. Mama pasti…

  • Story

    Merangsang Kreativitas Seni, Melatih Keberanian, Meningkatkan Percaya Diri

    Semarak peringatan Hari Kemerdekaan ke-73 masih belum selesai. Banyak panggung didirikan, untuk menampung kreativitas masyarakat. Setelah tadi pagi diselenggarakan karnaval dengan para peserta perwakilan masing-masing RW. Sore hari didirikan panggung. Panggung ini merupakan puncak perayaan  peringatan 17-an di Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Didirikan di depan Kantor Kepala Desa Tanimulya. Tentu saja momen ini tidak luput dijadikan salah satu ajang pembelajaran oleh  ibu-ibu guru, yang bertujuan untuk merangsang kreativitas seni siswa-siswi  POS PAUD Anggrek HI 21. Sekaligus sebagai salah satu cara untuk melatih  keberanian dan menunbuhkan serta meningkatkan rasa percaya diri mereka. Jam 15.00 kami sudah mulai berkumpul di depan panggung. Kostum dipakaian ke anak-anak. Kami sudah meminta…

  • Fiction

    Lembaran Putih # 38

    Nendo hanya mengangkat bahu sekilas. Dia tidak mungkin, melepaskan Mara terlalu lama bersama Firman. Hanya lima menit, toleransi yang diberikan pikiran sehatnya, pada gadis itu. Mara sudah mengatakan bersedia menikah  dengannya. Itu harga mati.  Kalau Mara berubah pikiran, jika memang diperlukan, dia akan menyeret Mara ke depan penghulu. “Maaf, mama sudah menunggumu di tempat parkir,” sergahnya tanpa merasa bersalah. Dengan wajah yang mengatakan ‘Bapak keterlaluan sekali’, gadis itu langsung meninggalkannya,   menuju tempat parkir. Firman sama sekali bukan tandingannya sekarang. Tapi cinta, punya kekuatan luar biasa mengubah seseorang. Seperti yang nyata  dialaminya. Dia orang yang berbeda dari Nendo yang dikenalnya. Dia  tidak mengenali dirinya sendiri saat ini. Alis Nendo berkerut…

  • Story

    Warisan

      Saat kita meninggalkan dunia ini, apabila belum berkeluarga atau tidak punya tanggungan, ketakutan terbesar kita, apakah amalan kita bisa menempatkan kita pada kehidupan yang baik di akhirat. Setelah berkeluarga, memiliki anak, maka kewajiban lainnya, adalah tidak meninggalkan keturunan yang lemah di belakang kita.     Ya Allah, jadikanlah pada hatiku cahaya. Pada lisanku cahaya. Pada penglihatanku cahaya. Pada pendengaranku cahaya. Pada pikiranku. Berikanlah cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku,  cahaya di hadapanku, cahaya  di belakangku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku. Ciptakanlah cahaya dalam diriku, perbesarlah cahaya untukku, jadikanlah aku cahaya. Ya Allah berikanlah cahaya pada urat sarafku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, cahaya pada tulangku,…

  • Fiction

    Roller Coaster Hati # 16

    source   Langkah ringannya terhenti di ambang pintu. Dia membalikkan badan, berjalan cepat menuju ke arah dapur. “Bi Nar,  ada laptop sama hp siapa, di kamar saya?” tanya Mara pada Bi Nar, seorang pembantu di rumah Pakde. “Engga tahu, Mbak. Disuruh Bapak  taruh  di situ tadi,” sahut Bi Nar. “Pakde  di rumah sekarang?” Jantung Mara mulai berdenyut kencang. “Di dalam sama Ibu.” “Waktu itu Tama ketemu Mara di stasiun?” Suara Bude Parman terdengar sangat marah. Mara bergegas masuk ke ruang dalam. Jantungnya semakin cepat berdetak, melihat wajah Bude Parman yang berubah masam, ketika melihatnya masuk. “Maaf Pakde …  di kamar  ada laptop sama hp?” tanya Mara lirih karena takut. “Oh…