• Fiction

    Fashion Lifestyle, Physical Elements

    source Galang membenamkan topi yang digunakannya dalam-dalam. Sudah lama sekali,  dia tidak terjun langsung ke lapangan mengumpulkan data. Tapi riset ini berhubungan langsung dengan persoalan hidup mati. Dia men-stater motor keluaran tahun 2010  yang masih mulus, begitu mobil Dania keluar dari  gerbang rumah sakit. Lalu lintas di jalan, tidak sepadat biasanya. Dengan santai, dia mengendarai motor. Menjaga jarak aman,  hingga bisa tetap melihat mobil Dania. Di jadwal harian, dokter itu akan mengunjungi panti asuhan, yang bersebelahan dengan  tempat praktek pribadinya. Dania jadi donatur tetap di panti asuhan itu. Tempatnya kerja sosial, saat masih jadi mahasiswi kedokteran. Dia membeli lahan luas di sebelah panti asuhan, tidak lama setelah kerja sosial.  Membangun…

  • Fiction

    The Edge of Chaos # 2

    Bab Satu The Edge of Chaos   Galang memelototi laporan di atas meja. Sudah dia baca berulang kali. Setiap kata sudah berakhir di memori kepala. Setiap kali dorongan membaca tidak bisa dia tahan, dan dia selalu menindaklanjuti insting kuat,   selalu timbul  harapan. Ada informasi yang terlewat matanya. Dia tersenyum sinis. Tentu saja harapan gila itu tidak terkabul. Ingatan  kuat dan ketelitian seperti sudah menjadi suratan takdir kerja otaknya. Sebelah tangan melonggarkan ikatan dasi, setelah meletakkan jas di punggung kursi kerja. Vest hitam pekat, mencetak tubuh yang disiplin dia ajak olahraga. Dia membuka kancing  yang menempel di ujung manset, kemudian menggulung lengan kemeja  sampai ke bawah siku. Dahinya mengernyit dalam. Sebuah…

  • Fiction

    Canda Maut dengan Keserakahan # 57

    source “Apa yang sudah terjadi?” teriak Nendo sambil menggebrak meja. Jamie, sekretaris Nendo  yang ingin mengabarkan kedatangan para direkturnya, langsung menutup pintu ruangan bosnya. Namun mereka semua sempat mendengar teriakan Nendo. “Keliatannya sekarang bukan waktu yang tepat,”   Jamie  tersenyum minta maaf. Rencananya ia ingin memberikan kejutan pada Pak Nendo. Ternyata,  dia sendiri yang mendapat kejutan. Dia tidak pernah melihat bosnya semarah itu. Ia pun tidak mengenal pria  yang berdiri di depan Nendo, dengan topi yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Padahal dia sudah mendampingi Pak Nendo, sejak perusahaan ini berdiri. Siapa laki-laki yang ada di dalam ruangan Pak Nendo? “Baiklah, kami akan kembali, nanti, ” sahut Pak Amir. Dengan segera,…

  • Fiction

    Perempuan Bertopeng # 56

    Mama harus tahu! Satpam rumah  teledor. Membiarkan orang asing masuk. Teman-temannya saja,  kalau mau masuk, harus menunggu konfirmasi satpam depan dengan dirinya. Benar-benar memalukan! Bibir Tari tersenyum sinis, penuh kemenangang. Akhirnya dia bisa juga menemukan kesalahan para penjaga pintu gerbang depan. Mama akan disuruhnya memarahi satpam itu habis-habisan. Matanya menyipit, melihat wanita itu terus tersenyum padanya. Kurang ajar, dia  berani berjalan menghampirinya!. Mulutnya yang akan berteriak mengusir wanita itu, langsung tertutup  begitu mendengar, “Tari, apa kabar?” Ia langsung keluar kolam, berusaha mengingat nama  sang pemilik wajah. Tidak ada  satu pun nama yang terlintas di otaknya. Banyak orang yang berlagak kenal padanya. Biasanya dia juga akan pura-pura kenal mereka, setelah menilai…

  • Fiction

    Unsur Kehidupan # 55

    Bab Empat Belas Pondasi dan Benteng “Mara sudah  lama sekali kita tidak ketemu?” seru Bu Agus seraya memeluk Mara  erat. “Iya, maaf ya, Mara temenin Mas Nendo ke kantor. Giliran belajar sama Mas Nendo. Mara juga  kangen sama semuanya,” Mara memeluk ketiganya bergantian. “Bagaimana, sudah siap semuanya? Kita punya tugas penting sekarang … mempersiapkan peresmian pesantren sekaligus syukuran ulang tahun mama.” “Bagaimana kalau ulang tahun itu, tidak  disebut-sebut?” usul Sayati dari meja makan. “Mama … kalau ulang tahun banyak yang doain kan, seneng.” Mara menghampiri Sayati. Mencium pipi Sayati sekilas. “Tapi aku lebih seneng, kalau bangunan itu tidak selesai-selesai,” keluh Sayati sembari memalingkan wajah. “Lho! Kenapa, Ma?” tanya Mara kaget.…

  • Uncategorized

    Lompatan Kuantum# 45

      Jantung Mara berdetak kian bertambah cepat, melihat wajah Mas Nendo semakin mendekat. Kekhawatiran tentang mama lenyap dari pikirannya. Otaknya seperti kosong. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Matanya dipejamkan, untuk menahan perasaan asing yang dirasakannya. Kepalanya tanpa sadar ditekankan ke sandaran kursi. Melihat kedua mata Mara menutup, membuat Nendo semakin lupa diri. Ketika bibirnya akan menyentuh bibir Mara, dia melihat Mara menekankan kepalanya ke sandaran kursi. Dia berhenti, dengan cepat menjauhkan diri. Mara membuka mata, ketika merasa  mobil bergerak. Wajahnya merah padam menahan malu. Dia diselamatkan oleh suara deringan gawai. Tangannya gemetar, ketika  ia merogoh tas. “Mama …” Dia melihat ke arah suaminya,  yang telah meminggirkan kembali mobil. Suaminya menyandarkan kepala…

  • Fiction

    Di Tengah Rintik Hujan # 44

    Hati Mara terasa kosong, ketika Nendo memandangnya dengan pandangan aneh. Tanpa berkata apa-apa, Mas Nendo meninggalkannya. Ia menarik  nafas panjang.  Mara menggigit bibir, menahan airmata jatuh. Saat tahu Firman pacaran dengan Nida, perasaannya  tidak sesedih ini. Apakah aku mulai jatuh cinta padanya? Apa yang harus kulakukan? Bukankah yang diinginkan suaminya hanya sebatas persahabatan? Mara menatap serumpun mawar hasil perawatannya bersama Bu Agus, yang mulai bermekaran. Wangi bunga-bunga itu tercium dari  tempatnya duduk. “Mara! Kenapa duduk sendiri di sini?” tanya Sayati heran. Melihat wajah Mara yang tidak seperti biasa, ia bergegas menghampiri, “Ada apa?” Serta merta Mara mengembangkan senyum. Dia benar-benar menyayangi Sayati. Apakah aku juga akan kehilangan mama  juga? “Mas mengajak…

  • Fiction

    Metamorfosis # 42

    Bab Sepuluh Dua Bulan 28 Hari   “Kau tidak pernah sesibuk ini sebelumnya,” Sayati mengangkat kacamata bacanya. “Aku ingin secepat mungkin menyelesaikan pembangunan itu … Mama tahu, aku paling tidak suka keterlambatan.” Hidung Nendo mencium aroma yang mengingatkannya pada udara bersih pegunungan. Matanya  mencari sumber bau. Sesosok tubuh ramping berjalan dengan anggun melintasi ruangan. “Belum berangkat, Mas?” tanya Mara. “Belum.” Alis Nendo berkerut. Tubuhnya seperti terpancang di tempat duduknya. Matanya lekat mengamati seorang wanita muda cantik, yang sibuk menata sesuatu di meja makan. Dia menutup mulut yang sempat menganga sesaat. Kepalanya menoleh ke arah Sayati. Mamanya hanya tersenyum kecil, kemudian mengangkat bahu sekilas. Benar-benar di luar prediksinya. Pandangannya kembali mengarah…

  • Fiction

    Life Mapping # 41

    source “Bagaimana kalau kita memahat  Mara  baru … hingga kau bisa menegakkan kepala, saat dikenalkan pada teman-temannya?” Mara memandang Sayati dengan pandangan ngeri. “Dikenalkan ke  teman-temannya, Mas?” Tubuh Mara langsung lemas. Ia menyandarkan tubuh ke punggung sofa. “Ya. Dan teman serta koleganya, tidak hanya orang Indonesia,” lanjut Sayati dengan wajah sangat serius. Suara Sayati seperti terdengar di kejauhan. Kepala Mara tertunduk semakin dalam. Ia tahu, bagaimana rasanya jadi orang  kalah dan tersisihkan. Menjadi orang di luar lingkaran. “Kadang-kadang dia harus menghadiri acara-acara resmi. Saat itu, lebih baik jika ada yang mendampinginya … apalagi setelah Nendo menikah.  Kalau kau tidak bersedia, kau mau dia mengajak wanita lain?” desak Sayati lembut. Punggung…

  • Fiction

    Memeriksa Hidup # 40

    “Mara … kau butuh pembalut?” tanya Sayati. “Tidak saat ini,  Ma, terima kasih.” Sayati meninggalkan Mara di meja makan sendirian, dengan kepala manggut-manggut. “Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Nendo yang duduk di sebelah Mara. “Mama aneh, nanya apa aku butuh  pembalut,” sahut Mara sambil lalu. “Sudah mau berangkat kerja?” Mara melihat pakaian suaminya, berbeda dengan yang biasa dikenakan di rumah. Dahi Nendo berkerut sesaat. Dia mengamati Mara sejenak. “Mama orangnya sangat perhatian … ini adalah hari ketiga kita di sini,  kau belum juga keramas.” “Iya …” Wajah Mara memerah karena malu.  Tamu tak kunjung henti berdatangan,  di lebaran pertama dan kedua. Baik Sayati dan Mas Nendo sepertinya sangat disukai banyak…