• Fiction

    Menakhodai Hidup # 39

    Bab Sembilan Life Mapping   source “Papa jahat!!!!!” teriak Ima histeris. “Kenapa  mau nikah, engga tanya-tanya  sama Ima!” “Ima, maafin Papa—“ sebelum kalimat Nendo selesai, Ima sudah berlari sambil menangis ke kamarnya. Wajah pucat Nisa tersenyum minta maaf.  “Maaf, biar saya yang membujuknya,” katanya lirih. Nisa bangkit dari duduknya sembari menganggukkan kepala, meminta izin. Wajah Mara menunduk. Dia bisa merasakan kesedihan Ima. Merasa sangat menyesal, dialah yang menjadi sumber kesedihan gadis kecil itu. Dia juga merasa sangat bersalah, melihat tatapan Nisa yang terlihat kosong  dan  sangat kecewa, ketika memandang Nendo. Jam 1 dinihari paling menyiksa dalam hidupnya. “Kenapa wajahmu seperti itu?” Dengan lembut Nendo yang duduk di sebelah Mata. mengacak-ngacak…

  • Story

    Jangan Tanya Apa yang Negara Berikan Padamu

    Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu John F. Kennedy   Hari ini usia Indonesia 73 tahun.  berbeda dengan tahun-tahun lalu, pagi ini saya ikut upacara perayaan HUT RI ke-73, di lapangan Desa Tanimulya. Bersama beberapa kader Posyandu. jam 7 pagi kami sudah berkumpul. Hehehe karena dianggap undangan, kami mendapat tempat duduk di bawah tenda. source Aubade terdiri dari gabungan siswa SMP dan SMA sebanyak 250 orang. Pasukan pengibar bendera, juga gabungan dari siswa beberapa sekolah  yang ada di desa kami, sebanyak 80 siswa.   source Setelah selesai upacara, kami berjalan menuju aula Desa Tanimulya. Ada lomba tumpeng antar RW. source Ternyata…

  • Fiction

    Lembaran Putih # 38

    Nendo hanya mengangkat bahu sekilas. Dia tidak mungkin, melepaskan Mara terlalu lama bersama Firman. Hanya lima menit, toleransi yang diberikan pikiran sehatnya, pada gadis itu. Mara sudah mengatakan bersedia menikah  dengannya. Itu harga mati.  Kalau Mara berubah pikiran, jika memang diperlukan, dia akan menyeret Mara ke depan penghulu. “Maaf, mama sudah menunggumu di tempat parkir,” sergahnya tanpa merasa bersalah. Dengan wajah yang mengatakan ‘Bapak keterlaluan sekali’, gadis itu langsung meninggalkannya,   menuju tempat parkir. Firman sama sekali bukan tandingannya sekarang. Tapi cinta, punya kekuatan luar biasa mengubah seseorang. Seperti yang nyata  dialaminya. Dia orang yang berbeda dari Nendo yang dikenalnya. Dia  tidak mengenali dirinya sendiri saat ini. Alis Nendo berkerut…

  • Fiction

    Berakhirnya Sebuah Kisah # 37

    “Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak Sarma … Nendo juga tadi menegaskan keinginannya, untuk bisa mempersunting  Mara secepatnya … bagaimana, Pak Sarma?” “Secepat mungkin, itu kapan ya, Bu?” tanya Pakde Sarma. Alisnya berkerut dalam. Adiknya saat ini masih di rumah sakit. “Besok, Pak!” Nendo tidak bisa menahan keinginannya untuk berkata. Perkataan Nendo disambut gelak tawa seisi ruangan. “Tapi ayah Mara masih di rumah sakit? Bagaimana,  De … lagi pula persiapannya juga kan,   tidak bisa terburu-buru?” tanya Pakde Sarma pada orangtua  Mara. “Kami akan mengurus segala sesuatunya,” sela Sayati lembut. “Yang terpenting, kesediaan keluarga Mara.” “Kalau Mara sudah  menerima lamaran Nendo, semakin cepat dilaksanakan semakin baik, Mas, ” sahut Ayah Mara.…

  • Fiction

    Yes or No # 36

    “Assalamu’aikum,” terdengar suara menyusul ketukan di pintu. “Waalaikum’salam.” Mara bergegas membuka pintu. “Pak RT, Pakde … silakan masuk.” source Mara bergegas ke dapur, bermaksud  membuat minum. Langkahnya terhenti di sebelah meja makan,  melihat meja itu sudah  dipenuhi  beragam makanan yang terlihat lezat dan cantik.. “Mara, nanti tamunya, suruh sahur di sini saja sekalian!” ujar Sayati. Melihat mata Mara  terus menatap makanan di atas meja, Sayati lanjut berkata, “Bu Agus pintar masak dan dekorasi makanan.” “Saya jadi merepotkan, Bu Sayati dan yang lain,” ujar Mara dengan wajah  bersalah. “Tenang, Mara. Ini bukan apa-apa!” sergah Bu Agus riang,  yang menambahkan satu piring makanan matang di atas meja. “Ini sekalian syukuran.” “Syukuran apa?”…

  • Fiction

    Titik-Titik Sejarah # 35

    Bab Delapan Titik-Titik Sejarah Mara terbangun ketika bunyi alarm mobil meraung-raung di ketuaan waktu. Ketika menoleh ke sebelah, tempat tidur Sayati kosong. Ia bergegas bangkit. Pintu depan terbuka. Sayati berdiri tidak jauh dari teras, dengan tangan terlipat di dada. Teman-temannya, yang tiba beberapa jam lalu,  berdiri berjejer di sebelah kanannya. Mereka seperti sedang menonton sesuatu. “Ada apa, Bu?” tanya Mara sembari mendekati Sayati. source Langkahnya terhenti melihat hazard mobil Nendo kedap-kedip. Matanya melotot. Tidak jauh dari pintu mobil yang terbuka, Nendo berdiri, dikelilingi lima tubuh yang terbaring di tanah, sambil  mengerang  kesakitan. “Pak Nendo! Ada apa?” Mara langsung menghampiri Nendo. “Mereka memecahkan kaca mobilku.” Tangan Nendo menunjuk ke arah orang-orang…

  • Story

    Cerita Agustus 2018

    Saya deg deg kan. Layar kaca menampilkan pertandingan sepakbola.  Pertandingan Indonesia lawan Thailand, harus diselesaikan melalui adu pinalti. Setelah Thailand bisa menyamakan kedudukan. Tendangan pemain keempat Thailand, bisa ditangkap penjaga Indonesia. Stadion Gelora Delta Sidoarjo, jadi saksi sejarah.Indonesia menjadi juara AFF U16 tahun 2018. Di tingkat Desa Tanimulya, hari ini,  17 orang, mewakili RW 21, ikut perlombaan paduan suara tingkat desa. Rencana awal, akan diwakili oleh kader Posyandu, namun karena hanya punya waktu satu minggu, hanya 11 kader dari 24 kader yang bisa ikut. Kekurangan peserta, diambil dari warga, yang bersedia ikut. source Sebagai ketua Posyandu, banyak sekali yang harus  saya pikirkan. Mulai dari bayar pelatih, seragam dari kerudung, gesper,…

  • Fiction

    Titik Nadir

    “Sebuah kehormatan menjadi tamu keluarga Mara, Pak,” sahut Sayati seraya menganggukkan kepala. Nendo  maupun Mara, perlu   tambahan waktu,  untuk memutuskan hal  besar yang berdampak sangat panjang, pada  mereka berdua. Ia mengalihkan pandangan pada Mama Mara,  yang tersenyum mendukung keputusan suaminya.   Mau tidak mau, timbul rasa hormat, pada keluarga Mara. Tampaknya mereka bertiga memiliki  pendapat yang sama. Nendo memperhatikan  Sayati dan kedua orangtua Mara sama-sama tersenyum,  Ada bahasa lain di antara para orangtua?  Tanpa sepatah kata pun. Tampaknya mereka sama-sama menyetujui satu hal. “Mara, sebaiknya pulang sekarang. Kamu harus menyiapkan makanan untuk berbuka,” ujar Mama Mara. “Jangan repot-repot, Bu.  Nanti kita beli saja makanan di jalan,” Nendo tidak tega…

  • Fiction

    Berehat Sejenak # 33

    “Mara memang punya banyak pengagum,” Nendo tersenyum masam  pada Sayati, mengingat berapa banyak para pegawai  laki-laki, menerima kerutan dahinya dua bulan terakhir.  “Karena itu aku harus secepatnya mengikatnya.” Kepala Sayati mengangguk perlahan. “Baikkah … rencanamu untuk Mara sendiri?” Tubuh Nendo tegak lagi. “Aku tidak pernah berpikir tentang itu,”  sahut  Nendo kaget. Mara benar-benar menghancurkan sistimatika  berpikir,  yang dibangunnya bertahap  sejak puluhan tahun lalu. Nendo memaki-maki diri sendiri, dalam bayangan mentalnya. Sebagai orang yang melabelkan diri sebagai seorang perfeksionis murni, dia benar-benar kecolongan.  Memutuskan sesuatu, hanya benar-benar melihat dari satu sisi. Parahnya, hanya  dari sudut pandangnya. Dia  tersenyum dengan penuh rasa terima kasih pada mamanya. “Ada apa?” tanya Sayati bingung. “Entah…

  • Fiction

    Sepadankah dia denganmu? # 32

    Mara bergegas menghampiri ranjang rumah sakit, ketika sekilas melihat tubuh ayahnya  bergerak. “Ayah sudah bangun,” ujar Mara sembari tersenyum. Ayah Mara  mengangguk bingung perlahan. Tangan ayah  Mara berusaha  melepaskan masker oksigen. “Jangan dilepas dulu! Nanti Ayah sesak nafas lagi.” Dengan lembut tangan Mara memegang tangan ayahnya. Mata ayah nanar mengamati sekeliling. “Mama … Mama mana?” “Sebentar, Mara panggil mama dulu.” Mara berlari ke arah pintu. Dengan cepat dia  menurunkan handle pintu. “Ma!  Dicariin ayah.” Seorang wanita cantik membalikkan tubuh ke arahnya. *** source “Mama,” Nendo langsung  bangkit dan berjalan mendekati seorang wanita berhijab yang tampil  elegan. Ia mencium tangan wanita itu. “Mama, sama siapa ke sini?” “Ditemani Ardi,” sahut Sayati. “Kenalkan…